Ia menjelaskan, Tumpek Wariga juga dikenal dengan berbagai sebutan seperti Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh, Tumpek Pengatag, dan Tumpek Pengarah. Pada hari tersebut, umat Hindu di Bali melakukan pemujaan kepada manifestasi Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan melalui media pepohonan dan tanaman.
Menurutnya, dalam lontar Sundarigama, Tuhan dalam manifestasi penguasa tumbuh-tumbuhan disebut Sang Hyang Sangkara, yang menempati arah barat laut dalam konsep Pengider Dewata Nawa Sanga dan identik dengan warna hijau sebagai simbol kesuburan alam.
“Makna pelaksanaan Tumpek Wariga adalah memohon keselamatan bagi tanaman agar tumbuh subur, berbunga, berbuah, dan memberikan manfaat sebagai sumber kehidupan,” jelasnya.
“Melalui yadnya yang tulus dan dilandasi dharma, manusia menjaga keseimbangan alam. Apa yang kita lakukan kepada alam sesungguhnya akan kembali kepada kehidupan kita sendiri,” imbuhnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga tumbuhan sebagai bagian dari penghormatan kepada ciptaan Tuhan. Dalam Atharvaveda disebutkan bahwa tanaman memiliki sifat-sifat para dewa dan menjadi penyelamat umat manusia.
Karena itu, Ni Wayan Wintari mengajak untuk menjadikan Tumpek Wariga sebagai momentum meningkatkan kesadaran spiritual sekaligus kepedulian lingkungan, mulai dari menanam pohon, merawat tanaman, hingga menjaga kelestarian alam.
“Ketika kita menjaga alam, sesungguhnya alam pun akan menjaga kita. Tumpek Wariga hendaknya menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” pungkasnya.
Peringatan Tumpek Wariga pun diharapkan tidak hanya menjadi tradisi seremonial, tetapi juga mampu memperkuat kesadaran kita dalam merawat alam sebagai penopang kehidupan seluruh makhluk. *
Sumber : adegrantika