BALIEXPRESS.ID – Tumpek Wariga bukan hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan bentuk penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan. Hal itu diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Ni Wayan Wintari.
“Tumpek Wariga adalah hari suci umat Hindu di Bali yang diperingati setiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga, datang setiap 210 hari atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan,” ujar Ni Wayan Wintari, Jumat (22/5).
Ia menjelaskan, Tumpek Wariga juga dikenal dengan berbagai sebutan seperti Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh, Tumpek Pengatag, dan Tumpek Pengarah. Pada hari tersebut, umat Hindu di Bali melakukan pemujaan kepada manifestasi Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan melalui media pepohonan dan tanaman.
Menurutnya, dalam lontar Sundarigama, Tuhan dalam manifestasi penguasa tumbuh-tumbuhan disebut Sang Hyang Sangkara, yang menempati arah barat laut dalam konsep Pengider Dewata Nawa Sanga dan identik dengan warna hijau sebagai simbol kesuburan alam.
Baca Juga: Serahkan Sertipikat Hak Pakai untuk Lemhannas RI, Menteri Nusron: Perkuat Kepastian Hukum Aset Negara
“Makna pelaksanaan Tumpek Wariga adalah memohon keselamatan bagi tanaman agar tumbuh subur, berbunga, berbuah, dan memberikan manfaat sebagai sumber kehidupan,” jelasnya.
“Makna pelaksanaan Tumpek Wariga adalah memohon keselamatan bagi tanaman agar tumbuh subur, berbunga, berbuah, dan memberikan manfaat sebagai sumber kehidupan,” jelasnya.
Ni Wayan Wintari juga mengutip ajaran dalam Bhagavad Gita III.14 yang menyebutkan bahwa makhluk hidup berasal dari makanan, makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan, tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan, dan hujan berasal dari yadnya. Menurutnya, sloka tersebut mengajarkan bahwa seluruh kehidupan di alam semesta saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
“Melalui yadnya yang tulus dan dilandasi dharma, manusia menjaga keseimbangan alam. Apa yang kita lakukan kepada alam sesungguhnya akan kembali kepada kehidupan kita sendiri,” imbuhnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga tumbuhan sebagai bagian dari penghormatan kepada ciptaan Tuhan. Dalam Atharvaveda disebutkan bahwa tanaman memiliki sifat-sifat para dewa dan menjadi penyelamat umat manusia.
Karena itu, Ni Wayan Wintari mengajak untuk menjadikan Tumpek Wariga sebagai momentum meningkatkan kesadaran spiritual sekaligus kepedulian lingkungan, mulai dari menanam pohon, merawat tanaman, hingga menjaga kelestarian alam.
“Ketika kita menjaga alam, sesungguhnya alam pun akan menjaga kita. Tumpek Wariga hendaknya menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” pungkasnya.
Peringatan Tumpek Wariga pun diharapkan tidak hanya menjadi tradisi seremonial, tetapi juga mampu memperkuat kesadaran kita dalam merawat alam sebagai penopang kehidupan seluruh makhluk. *