Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sekolah Adat Manik Empul Pedawa Ajak Generasi Belajar Menganyam Bedeg

I Putu Mardika • Rabu, 27 Mei 2026 | 14:47 WIB
Suasana menganyam bedeg di Sekolah Adat Manik Empul Desa Pedawa, Rabu (27/5) (I Putu Mardika/Bali Express)
Suasana menganyam bedeg di Sekolah Adat Manik Empul Desa Pedawa, Rabu (27/5) (I Putu Mardika/Bali Express)

BALIEXPRESS.ID-Sekolah Adat Manik Empul di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng terus bergerak mengedukasi generasi muda untuk belajar kearifan lokal. Salah satunya membuat bedeg, anyaman bambu yang digunakan sebagai dinding rumah adat di Desa Pedawa.

Suasana pagi di Pondok Literasi Sabih pada Rabu (27/5) terlihat berbeda. Sejumlah remaja dan para sepuh berkumpul di Pondok Literasi Sabih Desa Pedawa. Para sepuh ini sedang mengajari anak muda untuk membuat bedeg.

Bedeg adalah anyaman yang terbuat dari bambu. Anyaman ini seringkali digunakan sebagai dinding rumah adat di Pedawa. Bukan hal yang berlebihan, mengapa masyarakat Pedawa saat ini masih menggunakan bedeg sebagai dinding rumah.

Pasalnya, kawasan Pedawa masih mudah menemukan bambu, yang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Bambu-bambu ini tergolong berkualitas sangat bagus untuk dibuat berbagai anyaman.

Bambu tersebut juga mudah ditemukan di kebun-kebun milik warga tanpa harus ada perawatan khusus. Kondisi ini tidak terlepas dari alam desa Pedawa yang sangat mendukung kembangbiak bambu.

Rupanya, belakangan generasi muda di Pedawa saat ini belum telaten menganyam bedeg. Hal inilah yang dibaca oleh Sekolah Adat Manik Empul yang didirikan oleh tokoh Pedawa sebagai sarana edukasi bagi anak muda agar senantiasa belajar kearifan lokal dan budaya Pedawa.

Menurut pendiri Sekolah Adat Manik Empul, Wayan Sadyana pelatihan membuat bedeg ini menjadi momentum untuk mewarisi pengetahuan lokal generasi muda di Pedawa dalam membuat anyaman bedeg.

“Tujuanya merevitaliusasi bedeg yang sudah mulai menipis di Pedawa. Oleh karena itu, kami sekolah adat kembali menunjukkan ke generasi muda bahwa desa adat Pedawa amemiliki kekayaan bedeg yang sangat beragam dengan kombinasi matematis,” jelasnya.

Sadyana menjelaskan, pelatihan yang diikuti oleh 15 peserta ini merupakan gabungan antara anak muda dan orang tua. Menurutnya, Kombinasi ini penting, karena bagian dari meneruskan dan mewariskan hal baik

“Kegiatah ini terselenggara berkat Kerjasama dari manik empuil bekerjasama dnegan Yayasan Wisnu,” jelasnya.

Sejauh ini, sebut Sadyana Yayasan wisnu selalu aktif dalam pelestarian kebudayaan Pedawa. Bahkan, kerjasama ini sudah berlangsung lama.

Bahkan, pihaknya juga juga rencananya melaksanakan revitalisasi rumah adat, Mesegali dan Sridandan yang sudah mulai punah di Pedawa. Rumah ini memang menjadikan bedeg sebagai dinding utama.

“Khusus Sridandan bahkan hanya tinggal 2 buah. Ini upaya memperkenalkan kembali kepada generasi muda,” paparnya.

Sejauh ini, rumah adat di Desa Pedawa tidak hanya dijadikan sebagai tempat tinggal semata oleh masyarakat Pedawa. Melainkan sebagai tempat melaksnaakan berbagai ritual dan tradisi yang diwariskan oleh para leluhurnya.

Seperti diketahui, dua tahun sudah Desa Pedawa menapaki langkah baru dalam upaya menjaga warisan budaya leluhur melalui berdirinya Sekolah Adat Manik Empul. Meski tergolong masih muda, sekolah adat yang berdiri pada Oktober 2024 itu perlahan mulai menunjukkan jejak pentingnya dalam pelestarian budaya lokal. Salah satu capaian paling bersejarah adalah keberhasilannya menghidupkan kembali tiga tarian rejang sakral yang sempat mati suri selama hampir 50 tahun.

Sekolah Adat Manik Empul lahir dari kegelisahan para tokoh adat dan masyarakat Pedawa terhadap semakin menipisnya pengetahuan generasi muda mengenai tradisi leluhur. Akademisi Wayan Sadyana menjadi salah satu sosok yang terlibat aktif dalam inisiasi sekaligus penyusunan kurikulum sekolah adat tersebut.

Bersama Yayasan Wisnu dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, masyarakat adat Pedawa bersepakat membangun ruang pembelajaran berbasis budaya yang tidak terikat pada konsep sekolah formal.

Nama Manik Empul sendiri memiliki makna filosofis yang kuat. “Manik” dimaknai sebagai intisari, permata, atau berlian, sedangkan “empul” merepresentasikan identitas Pedawa yang berbasis air.

Filosofi itu tidak lepas dari keberadaan empul tiing tali dan tiing ampel yang digunakan dalam berbagai upacara adat, serta kekayaan 33 sumber mata air yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Pedawa.

Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Adat Manik Empul tidak memiliki ruang kelas permanen. Proses belajar dilakukan langsung di ruang hidup masyarakat. Ketika peserta didik mempelajari tentang air, mereka diajak mendatangi sumber-sumber mata air di Pedawa.

Saat belajar tentang pura, proses pembelajaran dilakukan langsung di kawasan pura. Bahkan dalam memahami sistem sosial dan ritual adat, para peserta didik diajak berdialog dengan para ulu desa atau tokoh adat yang selama ini menjadi penjaga tradisi.

Konsep pendidikan yang diterapkan juga bersifat lintas generasi. Tidak hanya anak-anak, tetapi remaja hingga orang dewasa dapat menjadi pebelajar sekaligus pengajar. Semua masyarakat Pedawa dianggap memiliki ruang untuk berbagi pengetahuan budaya yang mereka miliki.

Namun demikian, pengelola sekolah tetap melakukan klasterisasi pembelajaran sesuai kelompok usia, mulai dari pengenalan budaya bagi anak-anak hingga forum diskusi dan penguatan nilai moral serta konservasi budaya bagi kelompok dewasa.

Dalam perjalanannya, sekolah adat ini menempatkan tiga agenda utama, yakni rekonstruksi, revitalisasi, dan konservasi budaya. Rekonstruksi dilakukan terhadap unsur budaya yang telah hilang, revitalisasi menyasar budaya yang mulai rentan karena minim penutur dan pelaku, sedangkan konservasi dilakukan dengan menyiapkan ruang pewarisan budaya secara berkelanjutan.

Salah satu revitalisasi yang dilakukan adalah penggalian sastra lisan Pedawa, termasuk cerita rakyat I Jaum yang penuturnya kini semakin sedikit. Namun capaian paling monumental terjadi ketika sekolah adat berhasil menghidupkan kembali tiga tarian rejang sakral, yakni Rejang Silihkuri, Rejang Kepet, dan Rejang Pengecek Galuh.

Ketiga tari rejang tersebut dahulu rutin dipentaskan dalam ritual Sabha di sejumlah pura di Pedawa. Namun seiring berjalannya waktu, tarian itu perlahan hilang karena tidak lagi memiliki penari dan pewaris. Selama hampir lima dekade, ketiga rejang tersebut nyaris lenyap dari ingatan generasi muda Pedawa. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Sekolah Adat Manik Empul #Anyaman Bedeg #PEDAWA #Banjar