Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pemacekan Agung bukan soal Ilmu Hitam, Diyakini Sebagai Sistem Reset Alam Semesta

I Putu Mardika • Senin, 22 Juni 2026 | 14:29 WIB
Luh Irma Susanthi, S.Sos, M.Pd Penyuluh Agama Hindu Kemenag Buleleng
Luh Irma Susanthi, S.Sos, M.Pd Penyuluh Agama Hindu Kemenag Buleleng

BALIEXPRESS.ID-Setiap Hari Senin yang jatuh pada Soma Wuku Kuningana tau lima hari setelah Hari Raya Galungan diperingati sebagai Hari Soma Pemacekan Agung. Uniknya, hari ini kerap diasosiasikan dengan ilmu hitam, energi negatif, atau praktik-praktik mistis yang menakutkan.

Padahal, menurut Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd., Pemacekan Agung sesungguhnya merupakan ajaran luhur yang mengandung pesan mendalam tentang keseimbangan dan harmonisasi kehidupan.

“Kalau telepon pintar saja perlu di-reset ketika mengalami gangguan sistem, mengapa manusia dan alam semesta tidak?” ujar Luh Irma Susanthi kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (22/6) siang.

Ia menuturkan bahwa berkembangnya berbagai informasi di media sosial sering kali membuat generasi muda hanya menerima potongan-potongan cerita tanpa memahami keseluruhan konteks budaya dan spiritual yang melatarbelakanginya. Akibatnya, Pemacekan Agung lebih sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang menyeramkan daripada dipahami sebagai bagian dari kearifan kosmologi Hindu Bali.

Menurutnya, dalam pandangan Hindu Bali, kehidupan tidak pernah berjalan secara tunggal. Alam semesta bergerak melalui keseimbangan berbagai unsur yang berbeda namun saling melengkapi.

Konsep tersebut dikenal sebagai Rwa Bhineda, yakni prinsip dualitas yang menjadi fondasi kehidupan. Terang dan gelap, siang dan malam, suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan merupakan bagian dari keseimbangan yang tidak dapat dipisahkan.

Baca Juga: Kesenian Langka Bali Perlu Pendataan dan Dokumentasi Digital, Desa Adat Dinilai Jadi Garda Terdepan

“Generasi sekarang sering didorong untuk selalu terlihat sukses, bahagia, dan sempurna. Media sosial memperkuat pandangan tersebut melalui berbagai pencitraan yang ditampilkan setiap hari. Padahal kehidupan nyata tidak hanya berisi keberhasilan, tetapi juga kegagalan, kesedihan, dan tantangan yang harus diterima sebagai bagian dari proses kehidupan,” jelasnya.

Luh Irma menjelaskan bahwa Hindu tidak mengajarkan manusia untuk menghilangkan seluruh sisi gelap dalam kehidupan. Sebaliknya, manusia diajarkan untuk memahami, mengendalikan, dan menyeimbangkan berbagai aspek tersebut agar tercipta harmoni. Dalam konteks itulah Pemacekan Agung memiliki makna yang sangat relevan bagi masyarakat modern.

Ia mengibaratkan Pemacekan Agung sebagai proses pembersihan sistem yang dikenal dalam dunia teknologi. Sebuah komputer yang terlalu banyak memuat aplikasi akan mengalami perlambatan kinerja.

Telepon pintar yang dipenuhi data sampah atau cache akan menjadi lambat dan tidak optimal. Bahkan akun media sosial yang dipenuhi informasi tidak relevan dapat menyebabkan kekacauan dalam pengelolaan konten. Semua sistem membutuhkan proses pembersihan dan penataan ulang agar dapat kembali berfungsi secara optimal.

“Pemacekan Agung dapat dipahami sebagai proses reset besar dalam hubungan antara manusia dengan alam semesta. Ini merupakan upaya untuk mengembalikan keseimbangan antara Bhuana Agung atau alam semesta dengan Bhuana Alit yaitu manusia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa para leluhur Bali sesungguhnya telah memiliki pemahaman mendalam mengenai pentingnya menjaga keseimbangan jauh sebelum lahirnya era digital, kecerdasan buatan, maupun teknologi modern lainnya.

Leluhur memahami bahwa ketidakseimbangan energi dapat menimbulkan berbagai bentuk kekacauan, baik dalam kehidupan sosial, lingkungan, maupun dalam diri manusia sendiri.

Menurut Luh Irma, kemarahan yang tidak terkendali, keserakahan yang berlebihan, hingga kecanduan terhadap media sosial merupakan bentuk-bentuk ketidakseimbangan yang banyak ditemui dalam kehidupan modern. Fenomena tersebut bahkan semakin nyata di kalangan generasi muda yang hidup dalam lingkungan digital.

Baca Juga: Hadiri Gerakan Nasional “AYO Muliakan Sungai”, Wamen Ossy: Memuliakan Sungai Berarti Memuliakan Negara

Ia mencontohkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang banyak dialami Generasi Z. Banyak anak muda merasa harus selalu mengikuti tren, mengejar popularitas, dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan digital. Jumlah pengikut, jumlah tanda suka, hingga jumlah tayangan sering dijadikan ukuran nilai diri dan kebahagiaan.

“Akibatnya banyak orang terlihat bahagia di media sosial tetapi sebenarnya mengalami kekosongan secara batin. Pemacekan Agung mengajarkan sesuatu yang berbeda. Keseimbangan jauh lebih penting daripada popularitas. Kesadaran lebih penting daripada sensasi. Harmoni lebih penting daripada validasi,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang semakin melihat ritual dan tradisi hanya sebagai tontonan visual. Berbagai simbol budaya sering diabadikan melalui foto dan video untuk diunggah ke media sosial, tetapi makna filosofis yang terkandung di dalamnya justru jarang dipahami secara mendalam.

“Banyak orang mengunggah foto penjor, menyaksikan video upacara, atau membagikan konten ritual, tetapi tidak memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Akibatnya simbol budaya kehilangan makna substansial dan hanya menjadi bagian dari konsumsi visual,” katanya.

Dalam perspektif tersebut, Pemacekan Agung sesungguhnya mengajarkan bahwa energi yang dianggap negatif bukan untuk dimusuhi atau ditakuti. Keberadaannya perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika kehidupan yang harus diseimbangkan. Prinsip ini sangat relevan dengan isu kesehatan mental yang banyak dihadapi generasi muda saat ini.

Menurutnya, emosi negatif seperti kesedihan, kecemasan, atau kekecewaan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Semua perasaan tersebut merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Kedewasaan justru lahir ketika seseorang mampu mengenali, menerima, dan mengelola berbagai emosi tersebut secara bijaksana.

Luh Irma menegaskan bahwa pesan utama Pemacekan Agung bukanlah tentang santet, ilmu hitam, ataupun ketakutan terhadap kekuatan gaib. Esensi yang terkandung di dalamnya adalah kesadaran untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Nilai tersebut tetap relevan meskipun dunia terus berubah dan teknologi berkembang dengan sangat cepat.

“Generasi Alpha hidup di era kecerdasan buatan. Generasi Z tumbuh bersama algoritma media sosial. Namun nilai-nilai keseimbangan yang diwariskan leluhur tidak pernah kehilangan relevansinya. Ketika manusia kehilangan keseimbangan, kekacauan akan muncul. Ketika manusia kembali kepada harmoni, kehidupan akan menemukan jalannya sendiri,” ujarnya.

Baca Juga: Bertepatan dengan Musim Panen, Aktivitas Manyi Ramaikan Festival Jatiluwih

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk mulai membaca ulang berbagai tradisi Bali dengan cara pandang yang lebih terbuka dan kontekstual. Tradisi tidak semestinya dipahami sebagai cerita horor masa lalu, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang mampu menjawab berbagai tantangan kehidupan modern.

“Pemacekan Agung adalah pengingat bahwa setiap sistem membutuhkan evaluasi, pembersihan, dan penataan ulang agar tetap berjalan dengan baik. Dalam kehidupan manusia pun demikian. Kita perlu melakukan refleksi, memperbaiki diri, dan kembali selaras dengan sumber energi kehidupan,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #soma pemacekan agung #ilmu hitam #mistis #hindu