Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nyepi Dresta di Desa Adat Subuk: Momentum Pengendalian Diri dan Penyucian Menjelang Pujawali

I Putu Mardika • Senin, 22 Juni 2026 | 15:01 WIB
Suasana persiapan Nyepi Dresta di Desa Adat Subuk, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng setiap Purnama Kapat
Suasana persiapan Nyepi Dresta di Desa Adat Subuk, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng setiap Purnama Kapat

BALIEXPRESS.ID- Masyarakat Desa Adat Subuk, Kecamatan Busungbiu, Buleleng rutin menggelar tradisi Nyepi Dresta sebagai bagian dari warisan leluhur yang sarat makna filosofis.

Tradisi yang dilaksanakan menjelang Pujawali di Kahyangan Desa pada Purnama Kapat ini tidak hanya dimaknai sebagai penghentian aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi sarana penyucian diri dan penguatan keharmonisan kehidupan.

Perbekel Desa Subuk, Ketut Suliada Kusana, mengatakan bahwa Nyepi Dresta merupakan momentum penting bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi diri melalui pelaksanaan Catur Bratha Penyepian, yakni Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan.

“Nyepi Dresta mengajarkan masyarakat untuk mengendalikan diri, menenangkan pikiran, serta membersihkan batin dari berbagai pengaruh negatif. Melalui pengendalian diri inilah krama desa dipersiapkan secara spiritual menjelang pelaksanaan Pujawali di Kahyangan Desa,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi ini juga menjadi wujud nyata pelaksanaan ajaran Hindu yang menekankan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.

Baca Juga: Pemacekan Agung bukan soal Ilmu Hitam, Diyakini Sebagai Sistem Reset Alam Semesta

Selama Nyepi Dresta, aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebisingan maupun gangguan terhadap lingkungan dihentikan sehingga tercipta suasana yang tenang dan penuh kesadaran spiritual.

“Selain untuk penyucian diri, Nyepi Dresta juga merupakan bentuk penghormatan kepada alam. Saat aktivitas manusia dihentikan, alam diberikan ruang untuk beristirahat sehingga keseimbangan kehidupan dapat tetap terjaga,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ketut Suliada Kusana menegaskan bahwa tradisi ini memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan dan kebersamaan masyarakat Desa Adat Subuk. Seluruh krama menjalankan Nyepi Dresta tanpa memandang status sosial maupun latar belakang, sehingga tercipta rasa solidaritas yang kuat.

“Tradisi ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga media untuk memperkuat nilai gotong royong, persaudaraan, dan identitas adat yang telah diwariskan oleh para leluhur,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Desa Adat Subuk #Nyepi Dresta #tradisi #purnama kapat #penyucian