Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Macolek-Colekan Adeng dari Duta Buleleng Curi Perhatian di PKB 2026

Dian Suryantini • Rabu, 24 Juni 2026 | 06:41 WIB
Dolanan Macolek-colekan adeng duta Kabupaten Buleleng saat tampil di PKB 2026. (Ist)

 
Dolanan Macolek-colekan adeng duta Kabupaten Buleleng saat tampil di PKB 2026. (Ist)  

BALIEXPRESS.ID - Di tengah kemegahan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Duta Gong Kebyar Anak-Anak Kabupaten Buleleng dari Sanggar Seni Suara Mustika justru menghadirkan sesuatu yang sederhana, tetapi sarat kenangan.

Mereka mengangkat permainan tradisional khas Banyuning, Macolek-Colekan Adeng, ke atas panggung pertunjukan terbesar di Bali.

Permainan yang dahulu akrab dimainkan anak-anak di lingkungan Desa Banyuning itu menjadi daya tarik tersendiri.

Baca Juga: Lukisan Ketut Polih Dihibahkan ke Desa Sayan, Wujud Kepedulian Seniman Lestarikan Budaya

Bukan sekadar menjadi bagian dari tari dolanan, Mecolek-Colekan Adeng membawa kembali suasana bermain yang mulai jarang ditemui di tengah dominasi gawai dan permainan digital.

Ketua Sanggar Seni Suara Mustika, Made Wira Okta Atmadi, menjelaskan bahwa permainan tersebut sebenarnya berakar dari tradisi yang dilakukan saat piodalan di Pura Pemayun Banyuning.

Seiring waktu, tradisi itu berkembang menjadi bagian dari keseharian anak-anak.

Baca Juga: Pimpin Apel, Bupati Adi Arnawa Ingatkan Mari Bersama Sukseskan Sensus Ekonomi

Dalam berbagai permainan tradisional seperti macecimpedan maupun maatma-atmaan, anak yang kalah biasanya akan menerima hukuman ringan berupa macolek-colekan adeng.

Hukuman itu dilakukan dengan suasana penuh canda dan tawa sehingga justru menjadi bagian yang paling ditunggu dalam permainan.

Baca Juga: Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polsek Blahbatuh Gelar Bakti Religi di Pura Khayangan Jagat Durga Kutri

 “Dari kebiasaan sederhana itulah kemudian lahir ide untuk mengemasnya menjadi sebuah tari dolanan. Nilai yang ingin kami angkat adalah kebersamaan, sportivitas, dan kegembiraan anak-anak,” ujarnya.

Di tengah banyaknya permainan tradisional yang mulai ditinggalkan, Sanggar Seni Suara Mustika justru melihat Macolek-Colekan Adeng sebagai warisan budaya yang layak diperkenalkan kepada generasi sekarang.

Melalui gerak tari yang lincah dan ekspresi para penari cilik yang ceria, suasana bermain khas anak-anak Banyuning seolah hidup kembali di atas panggung.

 Penonton pun tidak hanya disuguhkan keindahan gerak dan tabuhan gamelan, tetapi juga diajak menyaksikan bagaimana permainan rakyat dapat menjadi sumber kreativitas seni yang kaya makna.

Selain Tari Dolanan Macolek-Colekan Adeng, Duta Gong Kebyar Anak-Anak Kabupaten Buleleng juga menampilkan Tabuh Kreasi Pepanggulan Sudha Citta yang terinspirasi dari perjalanan spiritual Siddhartha Gautama menuju pencerahan, serta Tari Kreasi Penyambutan Kembang Deeng yang menggambarkan kelembutan dan keramahan perempuan Buleleng.

Persiapan menuju PKB telah dimulai sejak Februari 2026. Sebelum terpilih menjadi wakil Kabupaten Buleleng, Sanggar Seni Suara Mustika harus melewati proses seleksi di tingkat kabupaten. Membina puluhan seniman cilik pun menjadi tantangan tersendiri.

 “Karena yang kami bina anak-anak, karakter mereka berbeda-beda. Kedisiplinan saat latihan menjadi tantangan, tetapi dukungan orang tua dan semangat anak-anak membuat semuanya berjalan lancar,” kata Made Wira. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#pesta kesenian bali (PKB) #PKB 2026 #dolanan #buleleng