Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hari Raya Kuningan dalam Berbagai Pustaka Hindu, Momentum Memohon Amertha dan Kebijaksanaan dari Ida Sang Hyang Widhi

I Putu Mardika • Kamis, 25 Juni 2026 | 15:26 WIB
Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja Nyoman Ariyoga memberikan penjelasan soal Catur Brata Penyepian.
Dosen Pendidikan Agama Hindu IAHN Mpu Kuturan  Nyoman Ariyoga

BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Kuningan merupakan salah satu hari suci penting dalam rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan yang memiliki makna spiritual mendalam bagi umat Hindu. Selain menjadi penutup rangkaian perayaan Galungan, Kuningan juga diyakini sebagai momentum ketika para Dewa dan leluhur memberikan anugerah kehidupan, keselamatan, serta kebijaksanaan kepada umat manusia.

Akademisi IAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd menjelaskan bahwa secara etimologis Hari Raya Kuningan memiliki makna yang sangat luhur. Kata kuning tidak hanya dimaknai sebagai warna kuning yang identik dengan berbagai sarana upacara, tetapi juga bermakna Amertha atau air kehidupan suci.

“Dalam perspektif lain, Kuningan berasal dari kata Keuningan yang berarti Kepradnyanan atau kebijaksanaan. Oleh karena itu, tujuan utama Hari Raya Kuningan adalah memohon anugerah Amertha berupa pengetahuan, kebijaksanaan, dan kecerdasan spiritual kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Mahadewa,” ujar Ariyoga.

Menurutnya, pemaknaan tersebut memiliki dasar kuat dalam sastra Hindu, salah satunya tercantum dalam Lontar Sundarigama yang menjelaskan hakikat dan tata pelaksanaan Hari Raya Kuningan.

Dalam lontar tersebut disebutkan:"Saniscara Kliwon Wuku Kuningan Payoganira Bethara Mahadewa Tumurana Pepareng Para Dewata Muang Sang Dewa Pitara, Inanggapa Bhakti Manusa, Amaweha Waranugeraga Amertha Kahuripan Rijanapada..."

Yang berarti bahwa pada Sabtu Kliwon Wuku Kuningan, Sang Hyang Mahadewa bersama para dewa dan leluhur turun ke dunia untuk menyaksikan bhakti umat manusia serta memberikan anugerah berupa kehidupan, keselamatan, dan kesucian kepada umat.

“Lontar Sundarigama memberikan tuntunan yang lengkap mengenai aspek tattwa, etika, dan upacara Kuningan. Namun dalam praktiknya, sebagian besar umat masih menjalankan berdasarkan desa dresta atau tradisi lokal. Karena itu, pemahaman terhadap nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam Kuningan perlu terus ditingkatkan,” jelasnya.

Baca Juga: Lantik Direksi PDAM Badung, Adi Arnawa Harapkan Penuhi Kebutuhan Air Masyarakat

Ariyoga menegaskan bahwa pelaksanaan persembahyangan Hari Raya Kuningan memiliki ketentuan waktu yang sangat penting. Berdasarkan ajaran yang tertuang dalam sastra keagamaan, persembahyangan dan persembahan hendaknya sudah selesai sebelum pukul 12.00 siang.

“Keyakinan umat Hindu menyebutkan bahwa para Dewata dan leluhur kembali ke kahyangan menjelang tengah hari. Karena itu seluruh rangkaian persembahan dan persembahyangan Kuningan sebaiknya telah rampung sebelum pukul 12 siang,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Kuningan merupakan puncak dari perjalanan spiritual yang diawali saat Hari Raya Galungan. Selama sepuluh hari sejak Galungan, para leluhur diyakini turun dari Pitraloka untuk mengunjungi keturunannya di dunia.

“Pada masa Galungan hingga Kuningan, umat mempersembahkan berbagai sesajen sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Saat Kuningan tiba, para leluhur kembali menjalankan tugasnya dan menghadap para dewa. Oleh karena itu Kuningan menjadi momen perpisahan sekaligus memohon restu dan keselamatan,” ujarnya.

Lebih lanjut Ariyoga menjelaskan bahwa dalam teologi Hindu terdapat dua cara utama untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Pertama adalah cara transenden melalui Jnana Marga, yakni jalan pengetahuan dan filsafat yang mendalam sehingga seseorang dapat memahami hakikat ketuhanan tanpa bergantung pada simbol-simbol fisik.

Kedua adalah cara imanen melalui Bhakti Marga dan Karma Marga, yaitu pendekatan melalui pengabdian, persembahan, dan ritual keagamaan yang menggunakan simbol-simbol suci seperti pura, pratima, maupun sarana upacara lainnya.

“Sebagian besar umat menjalankan bhakti melalui simbol-simbol suci sebagai media untuk memusatkan pikiran dan rasa bhakti kepada Tuhan. Hal ini merupakan bagian dari ajaran Hindu yang sah dan telah diwariskan turun-temurun,” terang Ariyoga.

Landasan tersebut juga diperkuat dalam Bhagawad Gita Bab III Sloka 10, yang berbunyi:

"Sahayajnah Prajah Sristwa Purovaca Prajapatih, Anena Prasawisya Dhwam Esa Wo'stwista Kamadhuk."

Artinya:

"Sesungguhnya sejak dahulu Tuhan menciptakan manusia melalui yadnya. Dengan jalan ini manusia akan berkembang dan memperoleh kesejahteraan sebagaimana seekor lembu yang memberikan susunya."

Kemudian pada Bhagawad Gita Bab III Sloka 11 disebutkan:

"Dewan Bhawayat 'Nena Te Dewa Bhawayantuwah, Parasparam Bhawayantah Sreyah Paramawapsyatha."

Yang berarti:

"Dengan yadnya engkau memelihara para dewa dan para dewa akan memelihara engkau. Dengan saling memberi dan memelihara, manusia akan memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan tertinggi."

“Sloka ini menegaskan pentingnya yadnya sebagai sarana membangun keharmonisan antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan,” kata Ariyoga.

Baca Juga: Drama Gong Tradisi Duta Badung PKB 2026, Angkat Cerita Tirta Usada Segara: Berkaitan Sejarah Desa Adat Tengkulung

Makna Simbol-Simbol Upacara Kuningan

Dalam pelaksanaannya, Hari Raya Kuningan menggunakan berbagai sarana upacara yang sarat makna simbolis.

Salah satunya adalah daksina, yang tersusun dari berbagai unsur seperti janur, beras, kelapa, telur itik, buah kluwek, kemiri, dan canang sari. Setiap komponen memiliki filosofi tersendiri.

“Beras melambangkan Amertha atau kesuburan, telur itik melambangkan kehidupan dan sifat satwam atau kesucian, buah kluwek melambangkan pradana atau unsur feminin, sedangkan kemiri melambangkan purusa atau unsur maskulin. Keseluruhan unsur tersebut menggambarkan keseimbangan kosmis dalam kehidupan,” jelasnya.

Selain daksina, terdapat pula prisai atau tameng yang melambangkan kewaspadaan dan benteng diri dari pengaruh negatif. Sementara kompek atau tas melambangkan bekal perjalanan bagi para leluhur yang kembali ke alamnya.

Setelah seluruh sarana upacara disiapkan, umat Hindu kemudian melaksanakan persembahyangan yang dipimpin oleh sulinggih atau pemangku. Ariyoga menjelaskan bahwa sulinggih merupakan orang suci yang telah menjalani prosesi Dwi Jati, sedangkan pemangku menjalani proses Eka Jati atau pawintenan.

Perbedaan Galungan dan Kuningan

Mengenai perbedaan antara Galungan dan Kuningan, Ariyoga menyebutkan bahwa secara esensial keduanya memiliki hubungan yang sangat erat.

“Perbedaan utamanya terletak pada penggunaan sarana upacara yang didominasi warna kuning. Pada Hari Raya Kuningan digunakan nasi kuning serta perlengkapan upacara bernuansa kuning sebagai simbol kemakmuran, kebijaksanaan, dan anugerah Amertha,” ujarnya.

Ia berharap umat Hindu tidak hanya melaksanakan Kuningan sebagai rutinitas tradisi, tetapi juga memahami nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

“Kuningan bukan sekadar perayaan seremonial. Ini adalah momentum untuk memohon kebijaksanaan, memperkuat bhakti, menghormati leluhur, serta merefleksikan kehidupan yang lebih suci dan bermakna. Dengan memahami makna tattwa yang terkandung di dalamnya, umat akan mampu menjadikan Kuningan sebagai jalan menuju peningkatan kualitas spiritual,” pungkas Nyoman Ariyoga. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Amertha #bali #hindu #galungan #kuningan