BALIEXPRESS.ID-Bagi masyarakat Hindu di Bali, upacara otonan bukan sekadar peringatan hari kelahiran berdasarkan perhitungan saptawara, pancawara, dan wuku. Lebih dari itu, otonan merupakan momentum penyucian diri sekaligus pengingat agar manusia senantiasa memperbaiki kualitas hidupnya.
Di balik sarana banten yang dipersembahkan saat otonan, terdapat satu sarana sederhana yang hampir tidak pernah absen, yakni Benang Tebus Putih. Meski hanya berupa seutas benang putih yang diikatkan di pergelangan tangan, Benang Tebus Putih menyimpan makna religius dan filosofis yang sangat mendalam.
Dosen Upakara Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, I Gusti Ayu Artati, menjelaskan bahwa otonan pada hakikatnya merupakan proses penyucian diri yang dilakukan secara berkala. Karena itu, esensi upacara ini bukan terletak pada kemegahan banten, melainkan pada kesadaran spiritual untuk selalu bersyukur dan memperbaiki diri.
"Otonan merupakan cara penyucian diri secara berkala melalui rangkaian banten. Upacara ini tidak harus dilaksanakan secara mewah. Yang paling penting adalah makna penyucian diri dan ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kehidupan yang telah dianugerahkan," ujar Artati.
Menurutnya, otonan mengandung nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga saat ini. Tradisi tersebut mengajarkan manusia untuk melakukan introspeksi, mengendalikan perilaku, menghormati kehidupan, sekaligus mengembangkan potensi diri agar mampu menjalani hidup sesuai ajaran dharma. Inilah yang membuat tradisi otonan tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Salah satu sarana yang selalu digunakan dalam upacara tersebut adalah Benang Tebus Putih. Walaupun bentuknya sederhana, masyarakat Hindu memaknainya sebagai simbol yang menghubungkan manusia dengan kekuatan ilahi. Benang itu diyakini menjadi pengikat spiritual agar atma atau jiwa tetap berada dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Paramatma.
Saat natab, yang dilakukan adalah banten pejati dipersembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi sebagai sang Hyang Siwa Guru, sebagai saksi atas hari kelahiran. Persembahkan soda penumadian kepada yang numadi. Setelah itu baru dilanjutkan dengan natab, dengan sesapa ata saha, baru menggunakan benang tebus. Selanjutnya sarana peras ditarik oleh yang natab.
“Begitu pemasangan gelang benang tebus putih dipergelangan tangan si empunya otonan, dengan saa: Ne cening megelang benang, apang meuwat kawat me balung besi, yang artinya Ini kamu memakai gelang benang, supaya berotot kawat dan berbalung besi,” katanya.
Pemakaian benang tebus saat otonan mengandung makna simbolis, bahwa kata benang mempunyai konotasi beneng yang dapat diartikan lurus. Karena benang sering dipergunakan sebagai sepat atau alat ukur sehingga membuat lurus sesuatu yang diukur, maknanya agar hati yang meoton selalu ada dijalan yang lurus.
Selain itu, benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus. Makna simbolisnya agar yang meoton memiliki sifat kelenturan hati dan tidak mudah patah semangat. “Yang terpenting si anak yang otonan tetap diajarkan untuk berbakti dan hormat kepada orang yang lebih tua dan juga kepada sesamanya,” ungkapnya.
Artati mengatakan, perlindungan tersebut memang tidak selalu dapat dijelaskan secara rasional ataupun dilihat secara kasat mata. Namun dalam keyakinan umat Hindu, Benang Tebus Putih menjadi simbol bahwa manusia tidak pernah berjalan sendiri. Ada kekuatan ilahi yang senantiasa menyertai dan melindungi dari berbagai pengaruh negatif, baik yang bersifat fisik maupun niskala.
Makna Benang Tebus Putih juga semakin kuat karena warna putih yang digunakan bukan dipilih tanpa alasan. Dalam kosmologi Hindu Bali, warna putih melambangkan kesucian, ketulusan, serta keseimbangan. Warna ini dikaitkan dengan Dewa Iswara yang berstana di arah timur sebagai lambang cahaya dan awal kehidupan.
Baca Juga: Satgas Mitigasi PHK Mulai Bekerja, Pemerintah Petakan Penyebab PHK dan Selamatkan Industri
Selain memiliki makna kosmologis, warna putih juga berkaitan dengan konsep Buana Agung dan Buana Alit. Pada tubuh manusia, putih dikaitkan dengan jantung sebagai pusat kehidupan. Dalam sistem pengider-ider, setiap arah mata angin memiliki warna dan manifestasi dewa yang berbeda sehingga mencerminkan keteraturan alam semesta.
"Ketika seseorang mengenakan Benang Tebus Putih, rasanya kurang tepat jika hanya dipandang sebagai aksesori. Benang ini menjadi simbol yang mengingatkan agar pikiran, ucapan, dan perilaku tetap bersih serta selalu sejalan dengan dharma," kata Artati.
Ia menjelaskan, makna tersebut juga sejalan dengan konsep Tri Guna. Warna putih merepresentasikan sifat sattva, yaitu kondisi batin yang jernih, tenang, penuh ketulusan, dan dekat dengan kebijaksanaan. Karena itu, Benang Tebus Putih menjadi simbol dorongan moral agar seseorang selalu memelihara kualitas batinnya.
Dalam pelaksanaan otonan, Benang Tebus Putih dipasang setelah seseorang menerima doa dan menjalani rangkaian penyucian. Pada saat itulah benang tersebut menjadi pengingat bahwa pemakainya baru saja melalui proses pembersihan lahir dan batin. Simbol itu sekaligus mengikat komitmen spiritual untuk menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sebagaimana diajarkan dalam konsep Tri Hita Karana.
Artati menilai, Benang Tebus Putih juga memiliki hubungan erat dengan ajaran Tri Kaya Parisudha, yakni menyucikan pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika). Kehadirannya menjadi pengingat agar setiap orang senantiasa mengendalikan diri dalam kehidupan sehari-hari.
"Benang Tebus Putih seperti pengingat yang diam. Ia tidak berbicara, tetapi kehadirannya mengajak pemakainya untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri, apakah pikirannya sudah bersih, apakah ucapannya sudah benar, dan apakah tindakannya sudah sesuai dengan dharma," ungkapnya.
Lebih jauh, Benang Tebus Putih juga memiliki fungsi komunikasi simbolik. Secara vertikal, benang yang telah dipasupati menjadi media komunikasi spiritual antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ia menjadi simbol doa, perlindungan, dan penyucian diri agar manusia senantiasa memiliki pikiran yang jernih serta hati yang suci.
Sementara secara horizontal, Benang Tebus Putih menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa seseorang baru saja menjalani proses penyucian diri. Simbol tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk bersama-sama menjaga keharmonisan, kedamaian, dan keseimbangan dalam kehidupan sosial.
Artati menambahkan, keberadaan Benang Tebus Putih juga menunjukkan proses sakralisasi dalam tradisi Hindu Bali. Pada awalnya, benang itu hanyalah benda biasa. Namun setelah melalui doa dan mantram serta sarana penyucian, maknanya berubah menjadi benda sakral yang tidak dapat diperlakukan sembarangan.
Baca Juga: Gianyar Jalankan Dua Aturan Sekaligus, ASN Berseragam KORPRI dan Budaya Bali Tetap Lestari
"Benang Tebus Putih merupakan bagian dari proses penyucian jasmani dan rohani. Setelah didoakan, benang ini dipercaya menjadi simbol perlindungan spiritual, penolak bala, sekaligus memberikan ketenangan batin bagi orang yang mengenakannya," jelasnya.
Menurut Artati, kesakralan tersebut tidak hanya melekat pada benangnya, tetapi juga pada orang yang mengenakannya. Seseorang yang telah menjalani otonan diharapkan mampu menjaga sikap, ucapan, dan perilakunya sebagai wujud tanggung jawab moral setelah melalui proses penyucian.
“Karena itu, Benang Tebus Putih wajib ada, tidak bisa diabaikan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika