Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kajian Teologi Banten Daksina, Terdiri 13 Unsur, Tegaskan Konsep Saguna dan Nirguna Brahman  

I Putu Mardika • Kamis, 9 Juli 2026 | 15:31 WIB
Banten Daksina dan makna teologi dalam setiap kelengkapannya (ist)
Banten Daksina dan makna teologi dalam setiap kelengkapannya (ist)

BALIEXPRESS.ID-Di hadapan pelinggih, sebuah Banten Daksina tampak sederhana. Sebuah rangkaian janur, kelapa, telur, beras, uang kepeng, bunga, hingga aneka hasil bumi tersusun rapi menjadi satu kesatuan. 

Namun bagi umat Hindu di Bali, daksina bukan sekadar pelengkap upacara. Di balik setiap unsur yang menyusunnya tersimpan ajaran teologi, kosmologi, hingga filsafat kehidupan yang diwariskan turun-temurun. Ia adalah miniatur alam semesta yang menjadi media penghubung antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tidak mengherankan jika hampir setiap pelaksanaan yadnya, mulai dari tingkat sederhana hingga upacara besar, Banten Daksina selalu hadir sebagai salah satu sarana utama. Kehadirannya bukan hanya memenuhi ketentuan ritual, tetapi juga menjadi simbol penghormatan kepada Sang Pencipta sekaligus pengingat bahwa seluruh kehidupan tersusun dari unsur-unsur alam yang saling melengkapi.

Dosen Upakara Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, I Gusti Ayu Artati, menjelaskan bahwa Banten Daksina bukanlah rangkaian bahan yang disusun secara sembarangan. Seluruh komponennya memiliki makna filosofis yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan ajaran ketuhanan.

Baca Juga: Proyek Pembangunan PSEL Bali Resmi Dimulai, Wali Kota Jaya Negara Sampaikan Terima Kasih kepada Pemerintah Pusat, Jadi Solusi Penanganan Sampah Berkelanjutan

"Banten Daksina terdiri atas tiga belas unsur pokok. Masing-masing memiliki simbol dan fungsi yang berbeda, tetapi semuanya bermuara pada pemahaman mengenai keberadaan alam semesta, manusia, serta manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa," jelasnya.

Menurutnya, tiga belas unsur tersebut meliputi bebodagan atau serobong daksina, tampak dara, beras, porosan silih asih, gegantusan, pesel-peselan, buah pangi, kelapa, telur bebek, buah tingkih, benang tukelan atau benang Bali, uang kepeng, serta canang sari. Ketiga belas unsur itu bukan sekadar pelengkap estetika, melainkan simbol Sang Hyang Trio Dasa Sakti atau tiga belas kekuatan suci yang mengatur kehidupan alam semesta.

Di antara seluruh unsur tersebut, bebodagan menjadi bagian pertama yang menyimpan makna mendalam. Terbuat dari daun janur hijau berbentuk bulat memanjang, bebodagan melambangkan unsur pertiwi atau bumi.

Di bagian dalamnya terdapat serobong daksina yang tidak memiliki batas atas maupun bawah. Serobong ini melambangkan akasa atau ruang tanpa batas, menggambarkan keluasan alam semesta yang menjadi tempat berlangsungnya seluruh kehidupan.

Sementara itu, tampak dara yang dibentuk menyerupai bunga teratai bersegi delapan menggambarkan delapan penjuru mata angin. Simbol ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia selalu berada dalam keseimbangan ruang dan arah. Delapan penjuru tersebut menjadi representasi harmonisasi kosmos sebagaimana konsep Dewata Nawa Sanga yang dikenal dalam tradisi Hindu Bali.

Baca Juga: UNHI Ngayah di Pura Luhur Uluwatu, Wujud Nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi Berbasis Budaya

Artati menuturkan bahwa telur bebek yang ditempatkan dalam daksina memiliki makna yang sangat penting karena melambangkan Bhuana Alit atau manusia beserta seluruh makhluk hidup. "Telur merupakan simbol awal kehidupan. Ia menggambarkan potensi lahirnya kehidupan baru yang harus dijaga kesuciannya," ujarnya.

Makna kesuburan juga hadir melalui beras yang menjadi simbol sumber kehidupan. Sebagai hasil bumi utama masyarakat agraris Bali, beras tidak hanya dimaknai sebagai makanan pokok, tetapi juga perlambang anugerah Tuhan yang terus menghidupi umat manusia.

Filosofi lain yang tidak kalah menarik terdapat pada benang tukelan atau benang Bali. Benang ini melambangkan jiwatman yang terus mengalami proses kelahiran kembali hingga akhirnya mencapai moksa.

Selama kehidupan masih berlangsung, atman akan terus mengalami penjelmaan sesuai hukum karma. Benang yang tampak sederhana itu sesungguhnya menjadi simbol perjalanan spiritual manusia yang tidak pernah berhenti.

Sementara uang kepeng yang ditempatkan dalam jumlah ganjil, khususnya 225 kepeng, mengandung simbol kekuatan Dewa Brahma sebagai sumber penciptaan. Angka tersebut apabila dijumlahkan menghasilkan angka sembilan yang dimaknai sebagai lambang kesempurnaan serta representasi Dewata Nawa Sanga yang menjaga sembilan penjuru alam.

Kelapa menjadi unsur yang paling dominan dalam Banten Daksina. Buah ini dipilih bukan tanpa alasan. Kulit, tempurung, daging, hingga air kelapa dipandang sebagai simbol Bhuana Agung atau alam semesta.

Serabut kelapa yang dibersihkan sebelum digunakan juga mengandung pesan moral agar manusia mampu membersihkan dirinya dari ikatan hawa nafsu dan pengaruh indria sebelum mendekatkan diri kepada Tuhan.

"Kelapa mengajarkan bahwa manusia harus mampu mengendalikan indria. Ketika ikatan indria dapat dikendalikan, maka seseorang akan lebih mudah menerima anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa," terang Artati.

Baca Juga: Nany Widjaja Alirkan Uang PT Java Fortis Rp 12 M ke PT Dharma Nyata Press

Tidak hanya menyimbolkan alam, Banten Daksina juga mengajarkan hubungan manusia dengan hukum kehidupan. Gegantusan yang berisi aneka biji-bijian menggambarkan siklus kelahiran kembali berdasarkan hukum karma. Biji-bijian tersebut menjadi simbol harapan agar manusia senantiasa menanam kebajikan sehingga memperoleh kehidupan yang lebih baik pada masa mendatang.

Makna serupa juga terlihat pada pesel-peselan yang terdiri atas berbagai jenis dedaunan. Ikatan daun-daun tersebut melambangkan bahwa seluruh makhluk hidup, baik manusia, tumbuhan maupun hewan, berada dalam hukum alam yang sama. Semua akan mengalami kelahiran, pertumbuhan, penuaan, hingga akhirnya kembali kepada asalnya.

Kemiri, pangi, dan telur juga membentuk simbol yang menarik. Ketiganya melambangkan tiga mustika alam semesta, yakni bintang, bulan, dan matahari. Tanpa kehadiran ketiga unsur kosmis tersebut, kehidupan di bumi tidak mungkin berlangsung. Simbol ini menunjukkan bahwa masyarakat Bali sejak dahulu telah memahami keterkaitan erat antara kehidupan manusia dengan tatanan kosmos.

Di sisi lain, pisang dan tebu yang selalu hadir dalam berbagai jenis banten menyimpan pesan moral yang sederhana namun mendalam. Pohon pisang dikenal sebagai tanaman yang tidak mati sebelum berbuah. Filosofi ini mengajarkan manusia agar mampu memberikan manfaat sebelum mengakhiri perjalanan hidupnya.

"Tebu melambangkan kekuatan sekaligus kemanisan hidup. Manusia diharapkan memiliki keteguhan dalam menjalani kehidupan, namun tetap menghadirkan perilaku yang manis melalui perkataan dan tindakan," ujar Artati.

Canang sari yang ditempatkan pada bagian atas menjadi simbol penyerahan diri secara total kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bunga-bunga yang tersusun di dalamnya bukan hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga melambangkan kesucian niat dan ketulusan hati dalam melaksanakan yadnya.

Lebih jauh, Banten Daksina juga menjadi representasi ajaran teologi Hindu mengenai dua dimensi Tuhan, yakni Saguna Brahman dan Nirguna Brahman. Dalam wujud daksina, Tuhan dipahami melalui simbol-simbol yang dapat dilihat, disentuh, dan dimaknai. Inilah yang disebut sebagai aspek imanen, yakni Tuhan hadir melalui berbagai manifestasi yang dapat dipahami manusia.

Baca Juga: Astra Motor Bali Dukung Touring Stylo Dewata, Perkuat Solidaritas Komunitas Honda

Sebaliknya, di balik seluruh simbol tersebut terdapat hakikat Tuhan yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Konsep inilah yang dikenal sebagai Nirguna Brahman atau Tuhan tanpa sifat, yang berada di luar batas kemampuan nalar manusia.

Artati menjelaskan bahwa pemahaman tersebut menunjukkan kedalaman filsafat Hindu Bali yang tidak memisahkan simbol dengan hakikat spiritual. "Daksina membantu manusia memahami Tuhan melalui simbol-simbol yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun pada saat yang sama, umat juga diajak menyadari bahwa hakikat Ida Sang Hyang Widhi Wasa sesungguhnya melampaui seluruh simbol itu sendiri," pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Banten Daksina #teologi #upacara #hindu #bunga