BALIEXPRESS.ID-Baris Demang Demung adalah Tarian Sakral yang wajib dipentaskan dalam pujawali di Pura Pemayun, Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan/Kabupaten Buleleng. Tarian yang hanya bisa dipentaskan di Pura Pemayun ini sebagai simbol prajurit Ki Barak Panji Sakti yang berperang menggempur Kerajaan Blambangan.
Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan keberadaan Tari Baris Demang Demung di Pura Pemayun berkaitan erat dengan Ki Barak Panji Sakti. Hal itu kian diperkuat dengan adanya keris pusaka yang diyakini warisan dari Raja Ki Barak Panji Sakti.
Sutrisna mengatakan, pura ini lokasinya persis 400 meter sebelah barat Kantor Bupati Buleleng. Pura ini memiliki dwi mandala. Di bagian madya mandala hanya terdapat wantilan dan bale pebatan. Sedangkan pada bagian utama mandala terdapat sebanyak 21 gugusan palinggih. Dari puluhan palinggih itu, yang paling menyita perhatian adalah Palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji dan Dewa Sakti Bayu.
Dikatakan Nyoman Sutrisna, ada sejumlah pelinggih yang ditemukan di Pura ini, Diantaranya Palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji yang diyakini sebagai altar untuk memuja Dewa Ayu Ngurah Panji. Di dalam Palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji yang menyerupai Gedong Simpen, sebagai tempat disemayamkan Keris Pusaka milik Ki Barak Panji Sakti yang sangat dikeramatkan di Pura Pemayun.
Baca Juga: Vasa Ubud Siap Jadi Ikon Baru Pariwisata, Padukan Kemewahan Modern dan Filosofi Bali
“Krama Banjar Tegal itu meyakini, jika Keris milik Ki Barak Panji Sakti ini sangat dikeramatkan. Karena memiiki kekuatan magis. Jarang diperlihatkan kerisnya karena tidak boleh sembarangan,” ujarnya.
Selain terdapat Palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji, di Pura Pemayun juga terdapat Palinggih Dewa Bayu Sakti. Palinggih ini menyerupai singgasana yang tingginya mencapai enam meter. Karena posisinya paling tinggi di antara gugusan palinggih, maka terdapat sembilan anak tangga untuk bisa menjangkau palinggih tersebut.
“Palinggih Dewa Sakti Bayu ini mirip seperti singgasana kerajaan. Menurut cerita leluhur, Dewa inilah katanya yang tertua di Pura Pemayun, karena bertahta di atas padmasana, sampai-sampai para pedanda pun mau memujanya, sehingga banyak pejabat atau politisi yang datang untuk memohon jabatan, ” ungkapnya.
Selain sebagai tempat memohon jabatan, lanjutnya, banyak krama yang nangkil dari berbagai daerah untuk memohon tamba (obat). Rata-rata mereka yang nunas (memohon) tamba mengalami sakit secara niskala akibat black magic.
Tamba tersebut berupa tirta yang diperoleh dari Pura Pemayun yang telah dipasupati. “Selama ini memang banyak yang nangkil nunas tamba, utamanya yang sakit karena non medis. Astungkara juga banyak yang sembuh. Tiang hanya membantu nguningang (menyampaikan). Biar beliau yang memberikan kesembuhan,” tuturnya.
Selama ini, krama Banjar Tegal ini, meyakini, jika di Pura ini dapat nunas Penerang untuk memohon cuaca tetap terang saat musim hujan.Ini sering dilakukan apabila krama memilik hajatan seperti upacara panca yadnya agar tak diguyur hujan.
“Kalau nunas penerangnya di Palinggih Dewa Bagus Semar. Astungkara selalu diberkati. Tiang hanya ngawekasang saja,” paparnya.
Baca Juga: Satgas Antinarkoba Kemenag dan BNNK Gianyar Edukasi Siswa Widyalaya Rsi Markandya Taro
Pujawali di Pura Pemayun dibagi menjadi dua jenis. Yakni Agung (besar) dan Alit (kecil). Pujawali Alit dilaksanakan setiap enam bulan sekali berdasarkan perhitungan Wuku, tepatnya Buda Kliwon Pahang.
Sedangkan untuk Pujawali Agung dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Namun, pelaksanannya tetap bertepatan pada Buda Kliwon Pahang. Tetapi tingkatannya yaitu Nyatur. Pelaksanaannya bisa nyejer sampai lima harian. Nanti dipuput oleh Sulinggih saat Nyatur.
Saat pujawali itulah ada pementasan sejumlah tarian sakral. Seperti Baris Gede Demang-Demung, Baris Pencak Silat, Baris Pependetan. Khusus Baris Demang-Demung wajib dipentaskan saat pujawali. Terlebih para penari Baris Demang-Demung tidak boleh sembarangan dipentaskan selain di Pura Pemayun.
Dimana penarinya hanya krama Banjar Tegal dan yang ngayah itu berdasarkan keturunan saja. Dulu jumlahnya delapan orang. Sekarang jumlahnya sudah 16 orang. Pakaiannya juga unik dan berwarna merah.
Ia menambahkan, Baris Demang Demung adalah tarian Sakral yang ada di Banjar Tegal, Desa memang sudah sudah dilatih secara turun temurun. Penarinya berasal dari berbagai kalangan usia. Baik muda maupun dewasa.
“Pengemong Pura Pemayun telah melakukan pembinaan kepada generasi muda, khususnya sekeha truna-truni, agar tarian ini bisa dipertahankan sepanjang jaman dengan proses melatih secara intens,” jelasnya.
Saat pentas, pragina Baris Demang Demung menggunakaan kostum yang sangat khas. Di bagian kepala mereka menggunakan tombol berwarna keemasan. Sedangkan bajunya berwarna merah dan pada bagian saputnya menggunakan warna poleng (putih-hitam).
Mereka juga menggunakan sarana berupa pedang sebagai symbol kesiapan dalam bertempur. “Tarian Demang Demung erat kiatannya dengan Raja Ki Barak Panji Sakti. Jadi Baris Demang-Demung ini diibaratkan prajurit perang. Sebab, akhir dari tarian itu prajurit Demang Demung diajak menggempur Blambangan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika