Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Kawas di Silangjana: Simbol Harmoni Panca Dewata yang Terus Dijaga

I Putu Mardika • Jumat, 17 Juli 2026 | 16:39 WIB
Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

BALIEXPRESS.ID-Tradisi upakara kawas yang masih lestari di Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, tidak hanya dipandang sebagai bagian dari rangkaian ritual keagamaan, tetapi juga menjadi warisan budaya yang sarat makna filosofis.

Di balik setiap sajian kawas tersimpan ajaran tentang keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama yang diwujudkan melalui konsep Panca Dewata.

Bagi masyarakat Desa Silangjana, kawas merupakan simbol penyatuan energi alam semesta yang terus dijaga sebagai bagian dari identitas spiritual desa.

Perbekel Desa Silangjana, Komang Suparma, menjelaskan bahwa upakara kawas memiliki nilai yang jauh melampaui aspek kuliner maupun tradisi semata. Menurutnya, setiap unsur dalam kawas telah diwariskan secara turun-temurun dengan makna yang sangat mendalam.

"Kawas adalah warisan leluhur yang mengajarkan keharmonisan. Melalui warna, bahan, dan tata letaknya, masyarakat diajak memahami bahwa kehidupan harus selalu selaras dengan kehendak Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta keseimbangan alam semesta," ujarnya.

Ia menuturkan, representasi Panca Dewata tampak jelas pada warna lawar yang disajikan. Lawar putih melambangkan Dewa Iswara di timur, merah sebagai simbol Dewa Brahma di selatan, kuning untuk Dewa Mahadewa di barat, hitam melambangkan Dewa Wisnu di utara, serta brumbun sebagai simbol Dewa Siwa di tengah.

Penataan sajian mengikuti arah mata angin sehingga membentuk mandala suci yang menjadi gambaran hubungan antara mikrokosmos dan makrokosmos.

Baca Juga: Uniknya Baris Demang Demung di Pura Pemayun Simbol Pasukan Menggempur Belambangan, Jadi Tarian Wali

Tidak hanya warna, setiap bahan yang digunakan juga mengandung filosofi tersendiri. Kencur melambangkan kesucian, kunyit menjadi simbol keberanian, lengkuas mencerminkan kekuatan, jahe melambangkan keseimbangan, bawang merah menggambarkan kebijaksanaan, sementara jeruk limau menjadi simbol pemersatu seluruh unsur kehidupan.

Berbagai bahan tersebut dipadukan dengan lawar, urab, gecok, jejeruk, hingga jukut daun belimbing yang masing-masing merepresentasikan pengorbanan, kesucian batin, kemakmuran, dan pemeliharaan alam.

Komang Suparma menegaskan bahwa pelestarian upakara kawas menjadi tanggung jawab bersama agar generasi muda tidak hanya mengenal bentuk ritualnya, tetapi juga memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

"Melestarikan kawas berarti menjaga jati diri budaya sekaligus mempertahankan ajaran tentang keharmonisan antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan. Nilai inilah yang terus kami wariskan kepada masyarakat Desa Silangjana," pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
kawas sukasada tradisi desa silangjana buleleng