Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rwa Bhineda dalam Busana Poleng Pemangku saat Ngerebong di Pura Agung Petilan Kesiman

I Putu Mardika • Minggu, 19 Juli 2026 | 06:05 WIB
Busana Pemangku di Pura Agung Petilan Kesiman saat Ngerebong (ist)
Busana Pemangku di Pura Agung Petilan Kesiman saat Ngerebong (ist)

BALIEXPRESS.ID-Upacara Ngerebong di Pura Agung Petilan, Kesiman Denpasar yang dilaksanakan setiap 6 bulan pada Redite Medangsia tidak hanya unik dari sisi prosesi ritualnya. Namun juga menarik dilihat dari sisi busana para pemangku yang terlibat dalam upacara itu.

Pada umumnya busana para Pemangku saat melakukan ritual upacara di Pura adalah busana serba putih. Namun, kondisi berbeda bisa dilihat pada Pemangku di Pura Agung Petilan Kesiman saat upacara pengerebongan menggunakan busana yang berbeda-beda sesuai dengan tingkatan dan tugasnya masing-masing. Pemangku di setiap Pura yang ada di Kesiman terbagi menjadi dua, yaitu Pemangku dan Prekulit.

Untuk Prekulit dibagi lagi menjadi tiga, yaitu Pemayun, Pemade dan Pengluran Penyarikan. Khususnya Pemangku saat upacara pengerebongan dilaksanakan terbagi menjadi Pemangku Gede, Pemangku Manca dan Pemangku Pengerob.

Pemangku Gede Dalem Muter Kesiman, di Kesiman menjelaskan Struktur Pemangku pada saat upacara pengerebongan diumpamakan seperti sebuah kerajaan, dengan Pemangku Gede Dalem sebagai raja, Pemangku Manca sebagai patih, Pemangku Pengerob sebagai menteri dan Pemangku Pengluran sebagai ajudan raja

Busana yang digunakan oleh Pemangku Pengluran pada saat upacara pengrebongan sama seperti pakaian adat biasanya orang Bali saat ke pura, yaitu udeng di kepala, baju, kamen (kain) dan saput untuk bawahannya.

“Tapi, yang membedakan dan membuat unik busana dari Pemangku Pengluran pada saat upacara pengerebongan adalah dominasi dari warna poleng (hitam dan putih) seperti udeng poleng, berbaju hitam, saput poleng dan kamen berwarna putih,” jelasnya.

Baca Juga: Uniknya Tradisi Megibung di Desa Pumahan, Sukasada Krama Cuntaka tak Boleh Ikut, Dilaksanakan saat Pujawali

Terdapat tambahan awir (kain yang digantungkan di leher) berwarna poleng dan slimpet (kain yang disilangkan di badan) yang juga berwarna poleng dengan tambahan bunga pucuk bang (kembang sepatu merah) yang diletakkan di kedua telinga dan satu sebagai penghias udeng di kepala.

“Warna poleng sangat mendominasi dari warna busana yang digunakan oleh pemangku pengluran pada saat upacara pengerebongan,” ungkapnya.

Pemangku Gede Dalem Muter Kesiman Penjelasan Rwa Bhineda di atas yakni kehidupan tergantung pada keseimbangan antara dua unsur yang berlawanan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan, seperti baik-buruk, siang-malam, panas-dingin, dan sebagainya yang memang tidak dapat dipisahkan. Keseimbangan dalam kehidupan merupakan sebuah konsep yang sangat mendasar dalam kehidupan di Bali.

Semua yang ada, baik dalam dunia mikrokosmos maupun dalam dunia makrokosmos didasari oleh konsep ini. Demikian juga yang ada dalam dunia yang kelihatan (sekala) maupun yang tidak kelihatan (niskala), tidak luput mengikuti konsep alam ini. Unsur-unsur ini tidak perlu dinilai baik atau jelek, dan tidak ada maksud bahwa satu akan mengalahkan yang lain.

“Konsep Rwa Bhineda tidak mengharapkan bahwa kita akan mencapai kesempurnaan. Tujuan konsep ini adalah keseimbangan di antara semua aspek dalam seorang, sampai seluas alam semesta. Rwa Bhineda mengambarkan hidup yang seadanya, tidak yang seharusnya,” sebutnya.

Ia menambahkan, kondisi ini erat hubungannya juga dengan Pemangku Pengluran pada saat Upacara Pengerebongan beranggapan bahwa dalam semua segi kehidupan terdapat dua kekuatan yang berlawanan namun merupakan kesatuan yang seimbang tidak mungkin akan ada pengertian putih jika tidak ada yang diketahui sebagai hitam. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Upacara Ngerebong Pura Agung Petilan Kesiman Denpasar Busana poleng