Filsafat Yoga Patañjali Jadi Sorotan, UHN Sugriwa Tawarkan Solusi Krisis Kesehatan Mental Generasi Muda

Putu Agus Adegrantika • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 17:24 WIB
ILMIAH : Forum ilmiah Widya Samhita I bertema “Filsafat Yoga Patañjali: Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Kesadaran Spiritual”, Kamis (23/7).
ILMIAH : Forum ilmiah Widya Samhita I bertema “Filsafat Yoga Patañjali: Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Kesadaran Spiritual”, Kamis (23/7).
 
BALIEXPRESS.ID - Meningkatnya kasus stres, kecemasan, depresi, burnout, hingga krisis identitas di tengah derasnya perkembangan teknologi digital menjadi perhatian serius kalangan akademisi. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Filsafat Hindu Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menggelar forum ilmiah Widya Samhita I bertema “Filsafat Yoga Patañjali: Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Kesadaran Spiritual”, Kamis (23/7).
 
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai III Fakultas Brahma Widya ini diselenggarakan bekerja sama dengan Pusat Kajian Darsana. Forum menghadirkan narasumber I Gusti Putu Gede Widiana, S.Fil., M.A. dan Dr. Gede Endy Kumara Gupta, S.IP., M.Ag., serta dimoderatori oleh Putu Eka Sura Adnyana.
 
Diskusi akademik tersebut menjadi ruang bertemunya dosen, mahasiswa, peneliti, dan pemerhati filsafat untuk mengkaji relevansi ajaran Yoga Patañjali dalam menjawab berbagai persoalan sosial dan kesehatan mental yang semakin kompleks di era modern.
 
 
Dekan Fakultas Brahma Widya UHN Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Wastawa, M.A., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi persoalan yang berkembang di masyarakat.
 
Menurut Prof. Wastawa, meningkatnya gangguan kesehatan mental saat ini tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan psikologis semata, melainkan berkaitan dengan kualitas karakter, nilai hidup, dan kesadaran spiritual manusia. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam membangun ketahanan individu.
 
“Perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan gagasan yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Melalui Widya Samhita, kami mendorong lahirnya diskursus ilmiah yang mengaktualisasikan ajaran filsafat Hindu agar tetap kontekstual dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan,” ujarnya.
 
Ia menambahkan, Filsafat Yoga Patañjali mengajarkan pentingnya pengendalian pikiran, pembentukan karakter, serta keseimbangan spiritual sebagai fondasi membangun manusia yang sehat, bijaksana, dan berintegritas. Karena itu, kajian filsafat Hindu dinilai sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman.
 
Dalam forum tersebut, para narasumber memaparkan bahwa masyarakat modern kini menghadapi berbagai tekanan baru, mulai dari tuntutan pendidikan dan pekerjaan, kecanduan media sosial, banjir informasi, hingga menurunnya kemampuan refleksi diri. Kondisi ini kerap memicu kecemasan, kehilangan makna hidup, dan rendahnya kemampuan mengelola emosi.
 
Salah satu konsep utama yang dibahas adalah ajaran “Yogaś Citta-Vṛtti-Nirodhaḥ”, yakni pengendalian gejolak pikiran. Dalam perspektif Yoga Patañjali, sumber penderitaan manusia tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dari pikiran yang tidak terkendali, keterikatan, egoisme, dan ketidakmampuan memahami hakikat diri.
 
Para pembicara juga mengulas konsep Aṣṭāṅga Yoga, delapan tahapan yoga yang meliputi Yama, Niyama, Āsana, Prāṇāyāma, Pratyāhāra, Dhāraṇā, Dhyāna, dan Samādhi. Delapan tahapan tersebut dinilai tidak sekadar praktik fisik, tetapi juga proses pembentukan etika, disiplin diri, pengelolaan emosi, hingga pencapaian kesadaran spiritual yang dapat memperkuat resiliensi individu menghadapi tekanan kehidupan modern.
 
Ketua Pusat Kajian Darsana, Dr. Gede Endy Kumara Gupta, menegaskan bahwa kesehatan mental memerlukan keseimbangan antara aspek intelektual, emosional, moral, dan spiritual. Menurutnya, Yoga Patañjali menawarkan paradigma yang utuh mengenai bagaimana manusia mengelola pikiran dan membangun kehidupan yang lebih bermakna.
 
Sementara itu, I Gusti Putu Gede Widiana menekankan pentingnya menjadikan filsafat Hindu sebagai solusi yang aplikatif bagi masyarakat. Ia menilai nilai-nilai Yoga Patañjali dapat menjadi dasar pengembangan pendidikan karakter, literasi kesehatan mental, dan budaya reflektif yang sangat dibutuhkan di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.
 
Melalui Widya Samhita I, Program Studi Filsafat Hindu UHN Sugriwa Denpasar menegaskan komitmennya menjadikan filsafat Hindu sebagai sumber solusi akademik terhadap berbagai persoalan kontemporer. Forum ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya penelitian, publikasi ilmiah, serta program pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan filsafat, kesehatan mental, dan penguatan spiritualitas demi membangun masyarakat Indonesia yang lebih sehat, berkarakter, dan bijaksana.*
Editor : Putu Agus Adegrantika
Sumber : adegrantika
uhn sigriwa depresi spiritual