Amarah Menghakimi, Dharma Mengajarkan Welas Asih: Refleksi Asteya dan Ahimsa di Balik Tragedi Pencurian Ayam di Baturiti

I Putu Mardika • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 13:25 WIB
Koordinator Penyuluh Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi
Koordinator Penyuluh Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi

BALIEXPRESS.ID-Peristiwa dugaan pencurian ayam di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya Kecamatan Baturiti, Tabanan hingga menewaskan terduga pelaku karena aksi main hakim sendiri menyita perhatian publik. Di balik peristiwa pilu tersebut, menjadi penanda redupnya nilai kemanusiaan, empati, dan ajaran dharma yang terjadi saat ini.

Mirisnya, tidak hanya aksi main hakim sendiri yang viral dengan sadis dan keji. Tetapi, di sisi lain muncul tangisan pilu anak korban yang menyaksikan sang ayah terbujur kaku akibat dikeroyok tanpa pembelaan.

Hal inipun mendapat perhatian dari Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd. Ia menilai bahwa setiap pelanggaran hukum memang harus diproses sesuai aturan yang berlaku. Namun demikian, masyarakat juga diajak untuk tidak kehilangan rasa welas asih ketika menghadapi seseorang yang telah melakukan kesalahan.

Menurutnya, di balik sosok yang dipandang sebagai pelaku tindak pidana, terdapat identitas lain yang sering terlupakan, yakni sebagai seorang ayah, suami, ataupun anggota keluarga yang memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang yang dicintainya.

"Sesungguhnya tidak ada seorang ayah yang bercita-cita menjadi orang yang dipandang rendah oleh masyarakat. Tidak ada seorang ayah yang bangun di pagi hari dengan keinginan mengecewakan anak-anaknya. Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tekanan ekonomi, kemiskinan, dan keputusasaan terkadang mempersempit ruang berpikir seseorang hingga mengambil keputusan yang keliru," ungkapnya.

Menurut Irma Susanthi, tragedi tersebut bukan sekadar kisah tentang seseorang yang melanggar hukum, tetapi juga menjadi cermin bagaimana masyarakat sering kali kehilangan empati ketika amarah menguasai diri.

Dalam situasi tertentu, pelaku kesalahan seolah kehilangan seluruh hak atas martabat kemanusiaannya. Padahal, sebelum dikenal sebagai pelaku, bisa jadi ia merupakan sosok ayah yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya.

Baca Juga: Ketua DPP Peradah DKI Jakarta, I Gede Sulastrawan, Dorong PHDI Jadi Motor Penggerak Umat Hindu 

Ia menggambarkan bagaimana seorang ayah rela menahan lapar agar anak-anaknya dapat makan, menyembunyikan kesulitan hidup demi menjaga senyum keluarga, serta tetap berusaha menjadi pelindung meskipun dirinya sendiri berada dalam keterbatasan. Gambaran itu menjadi semakin menyentuh ketika seorang anak harus menyaksikan ayahnya dipermalukan di hadapan banyak orang.

"Di mata masyarakat mungkin ia hanyalah seorang pencuri. Namun di mata anaknya, ia tetap seorang ayah. Sosok yang pernah menggendongnya saat sakit, mengajarinya berjalan, menemani masa kecilnya, dan menjadi tempat berlindung ketika dunia terasa menakutkan," ujarnya.

Dalam perspektif ajaran Hindu, lanjut Irma Susanthi, tindakan mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak seseorang merupakan pelanggaran terhadap nilai Asteya, salah satu bagian dari Yama Brata yang mengajarkan pengendalian diri.

Asteya menjadi fondasi moral agar manusia hidup jujur dan menghormati hak milik orang lain. Oleh karena itu, pencurian tetap merupakan perbuatan yang bertentangan dengan dharma.

Namun demikian, ajaran Hindu tidak berhenti pada penilaian terhadap kesalahan. Hindu juga mengajarkan prinsip Ahimsa, yakni tidak menyakiti makhluk hidup melalui pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Nilai inilah yang menurutnya sering terlupakan ketika masyarakat larut dalam kemarahan.

"Kita sering begitu bersemangat mengecam pelanggaran Asteya, tetapi tanpa sadar justru melanggar Ahimsa. Kata-kata kasar, penghinaan, persekusi, bahkan tindakan kekerasan atas nama kemarahan, sesungguhnya juga merupakan bentuk adharma," katanya.

Ia menambahkan bahwa kemarahan yang tidak terkendali mampu menghilangkan kebijaksanaan manusia. Dalam Bhagavad Gītā II.63 disebutkan, krodhād bhavati sammohaḥ, sammohāt smṛti-vibhramaḥ, smṛti-bhraṁśād buddhi-nāśo, buddhi-nāśāt praṇaśyati, yang berarti dari kemarahan lahirlah kebingungan, kemudian hilangnya ingatan akan kebenaran, lenyapnya kebijaksanaan, hingga akhirnya menghancurkan kehidupan seseorang.

Menurutnya, sloka tersebut memiliki relevansi kuat dengan kondisi sosial saat ini. Dalam hitungan menit, seseorang dapat berubah menjadi hakim, algojo, bahkan merasa paling benar tanpa memberi ruang bagi belas kasih. Padahal, dharma tidak pernah mengajarkan kebencian. Sebaliknya, dharma selalu berjalan berdampingan dengan keadilan, pengendalian diri, dan kasih sayang terhadap sesama.

Pandangan tersebut juga diperkuat melalui ajaran Sarasamuccaya 14 yang menyebutkan bahwa dharma merupakan jalan menuju kebahagiaan sejati, laksana sebuah perahu yang mengantarkan manusia menyeberangi lautan kehidupan.

Baca Juga: Ida Ayu Rusmarini, Penggerak Pendidikan Berbasis Alam di Desa Singakerta, Ubud

Irma Susanthi memaknai bahwa sebagaimana perahu tidak memilih siapa yang diseberangkan, demikian pula dharma tidak mengajarkan manusia untuk membenci pelaku kesalahan, melainkan membenci kesalahannya sambil tetap menjaga harkat dan martabat manusia.

Ia menegaskan bahwa seorang ayah pada hakikatnya merupakan perwujudan dharma dalam keluarga. Melalui pengorbanan, kasih sayang, dan tanggung jawab, seorang ayah membimbing anak-anaknya agar mampu menjalani kehidupan dengan baik. Oleh sebab itu, ketika seorang ayah terjatuh dalam kesalahan, masyarakat tetap perlu melihat sisi kemanusiaannya tanpa mengurangi proses hukum yang harus dijalani.

"Menegakkan hukum adalah kewajiban bersama. Namun menjaga kemanusiaan merupakan panggilan dharma yang tidak boleh ditinggalkan. Jangan sampai semangat menghukum justru menghilangkan welas asih yang menjadi inti ajaran Hindu," tegasnya.

Irma Susanthi mengajak masyarakat untuk tidak mudah memberikan penilaian hanya berdasarkan satu peristiwa. Menurutnya, tidak ada yang benar-benar mengetahui beratnya beban kehidupan yang dipikul seseorang. Masyarakat mungkin hanya melihat satu kesalahan yang dilakukan, tetapi tidak mengetahui berbagai pengorbanan yang selama ini telah diberikan demi keluarga.

"Di balik wajah yang dipenuhi penyesalan, mungkin ada seorang ayah yang hanya ingin anaknya tidak tidur dalam keadaan lapar. Di balik air mata seorang anak perempuan, tersimpan doa sederhana agar dunia tetap memberikan kasih sayang kepada ayahnya meskipun ia telah melakukan kesalahan," ungkapnya.

Irma berharap masyarakat semakin mampu mengedepankan kebijaksanaan dalam menyikapi setiap persoalan sosial. Penegakan hukum tetap harus dihormati, tetapi penghormatan terhadap nilai kemanusiaan tidak boleh hilang. Sebab ketika empati gugur di tengah amarah, yang terluka bukan hanya satu individu, melainkan juga nilai-nilai luhur dharma yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

"Semoga setiap peristiwa menjadi pelajaran bagi kita untuk semakin menguatkan Asteya, menjalankan Ahimsa, dan mempraktikkan dharma dalam kehidupan sehari-hari. Semoga semua makhluk berbahagia," pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
Asteya hindu penyuluh agama hindu Dharma