Catat! Ini Keutamaan Manusia dalam Sarasamuscaya, Hanya Manusia yang Mampu Menolong Dirinya Sendiri

I Putu Mardika • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 19:36 WIB
Suasana rangkaian upacara sapuh leger sebagai upaya membersihkan segala kekotoran agar menjadi manusia yang suci lahir bathin(ist)
Suasana rangkaian upacara sapuh leger sebagai upaya membersihkan segala kekotoran agar menjadi manusia yang suci lahir bathin(ist)

BALIEXPRESS.ID-Menjadi manusia sering kali dipahami sebatas anugerah kehidupan. Namun, dalam pandangan ajaran Hindu, kelahiran sebagai manusia justru merupakan kesempatan yang sangat langka untuk memperbaiki diri melalui perbuatan baik.

Akademisi IAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga mengatakan, banyak orang memaknai keberhasilan hanya dari ukuran materi, jabatan, dan popularitas. Padahal, menurut ajaran Sārasamuccaya, kemuliaan manusia justru terletak pada kemampuannya menggunakan pikiran untuk membedakan antara perbuatan baik dan buruk.

"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dianugerahi kemampuan berpikir secara sadar. Karena itu, manusia memiliki tanggung jawab moral untuk memilih jalan kebajikan. Keunggulan manusia bukan pada apa yang dimilikinya, melainkan pada bagaimana ia menggunakan pikirannya untuk menjalankan dharma," ujar Ariyoga.

Menurutnya, Sārasamuccaya mengajarkan bahwa pikiran dapat menjadi sahabat sekaligus musuh bagi manusia. Apabila dikendalikan dengan baik, pikiran akan mengarahkan seseorang pada kebajikan. Sebaliknya, apabila dikuasai oleh nafsu, amarah, dan keserakahan, pikiran justru menjadi sumber penderitaan.

Prinsip tersebut ditegaskan dalam Sārasamuccaya Sloka 2 yang berbunyi:

Ri Sakwehning sarwa butha, iking janma wwang juga wēnang gumayaken ikang śubhāśubhakarma, kuneng panēntasakēna ring śubhakarma juga ikang aśubhakarma, phalaning dadi wwang.

Terjemahannya:

"Di antara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk. Leburlah segala perbuatan buruk ke dalam perbuatan baik. Demikianlah gunanya menjadi manusia."

Ariyoga menjelaskan bahwa sloka tersebut merupakan dasar etika dalam kehidupan umat Hindu. Menjadi manusia berarti memiliki kebebasan memilih, tetapi sekaligus memikul tanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil.

"Sering kali kita menyalahkan keadaan, lingkungan, bahkan orang lain. Padahal Sārasamuccaya mengajarkan bahwa manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki dirinya melalui perbuatan baik. Itulah makna sejati menjadi manusia," katanya.

Ia menambahkan, masyarakat modern justru menghadapi tantangan baru berupa budaya membandingkan diri dengan orang lain melalui media sosial. Akibatnya, banyak orang kehilangan rasa syukur dan merasa hidupnya tidak berarti.

Padahal, lanjut Ariyoga, Sārasamuccaya sejak dahulu telah mengingatkan agar manusia tidak menyesali kelahirannya, apa pun keadaan yang dihadapi.

Hal itu tercantum dalam Sārasamuccaya Sloka 3:

Mantangnyan haywa juga wwang manastapa, an tan paribhawa, si dadi wwang ta pwa kagӧngakēna ri ambēk apayāpan paramadurlabha iking si janmamānuṣa ngaran ya, yadyapi caṇḍālayoni tuwi.

Terjemahannya berbunyi:

"Oleh karena itu, janganlah sekali-kali bersedih hati, sekalipun hidupmu tidak makmur. Dilahirkan menjadi manusia hendaknya menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar memperoleh kelahiran sebagai manusia, meskipun kelahiran yang hina sekalipun."

"Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Banyak orang merasa rendah diri karena kondisi ekonomi, pekerjaan, atau latar belakang keluarganya. Padahal yang paling penting adalah bagaimana seseorang memanfaatkan kesempatan hidup untuk berbuat baik," jelas Ariyoga.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Sārasamuccaya juga menegaskan kelahiran sebagai manusia merupakan kelahiran yang paling utama karena manusia memiliki kemampuan memperbaiki kualitas dirinya.

Hal tersebut dijelaskan dalam Sārasamuccaya Sloka 4:

Apan iking dadi wwang, utama juga ya, nimittaning mangkana, wēnang ya tumulung awaknya sangkeng sangsāra, makasādhanang śubhakarma, hinganing kotamaning dadi wwang ika.

Terjemahannya:

"Menjelma menjadi manusia itu sungguh-sungguh utama; sebab manusia dapat menolong dirinya sendiri dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik. Demikian keuntungan menjelma menjadi manusia."

Menurut Ariyoga, sloka tersebut mengajarkan bahwa kehidupan manusia memiliki tujuan spiritual yang jauh lebih tinggi daripada sekadar mengejar kenikmatan dunia.

"Kita sering sibuk mengumpulkan kekayaan, tetapi lupa mengumpulkan karma baik. Dalam perspektif Sārasamuccaya, yang akan mengikuti manusia bukanlah harta benda, melainkan hasil dari perbuatannya sendiri," ujarnya.

Ia menilai, ajaran tersebut sangat penting ditanamkan kepada generasi muda, terutama di era digital yang dipenuhi berbagai pengaruh negatif, seperti ujaran kebencian, penyebaran hoaks, hingga meningkatnya perilaku individualistis.

Sārasamuccaya juga mengingatkan agar manusia memanfaatkan waktu hidup sebaik-baiknya. Pesan itu tertuang dalam Sloka 6:

Paramarthanya, pēngpēngēn pwakatēmwakining si dadi wwang, durlabha wi ya ta, sāksāt handaning mara ring swarga ika, sanimittaning tan tiba muwah ta pwa damēlakēna.

Terjemahannya:

"Kesimpulannya, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga menuju surga; segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi itulah hendaknya dilakukan."

Ariyoga menegaskan bahwa manusia tidak pernah mengetahui kapan kehidupannya akan berakhir. Oleh sebab itu, setiap hari seharusnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri melalui pikiran, perkataan, dan tindakan yang baik.

"Jangan menunggu nanti untuk berbuat baik. Kesempatan itu ada hari ini. Setiap tindakan kecil yang membawa manfaat bagi orang lain adalah bentuk nyata pelaksanaan dharma," tuturnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa seluruh perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan melalui hukum karmaphala, sebagaimana dijelaskan dalam Sārasamuccaya Sloka 7. Setiap karma yang dilakukan selama hidup akan menentukan kualitas kehidupan berikutnya.

"Karena itu, kehidupan sekarang merupakan investasi spiritual. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai di masa mendatang. Tidak ada kebajikan yang sia-sia, dan tidak ada perbuatan buruk yang luput dari akibatnya," kata Ariyoga.

Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda Hindu, tidak hanya mengenal Sārasamuccaya sebagai kitab yang dipelajari di bangku pendidikan, tetapi benar-benar menjadikannya pedoman hidup.

"Kalau kita mampu menjaga pikiran, berkata dengan santun, membantu sesama, berlaku jujur, dan menghindari tindakan yang merugikan orang lain, sesungguhnya kita sudah menghidupkan ajaran Sārasamuccaya. Dharma tidak cukup dipahami, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari," pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
Nyoman Ariyoga Sarasamuccaya hindu IAHN Mpu Kuturan