Uniknya Tari Baris Singa Mandawa Kubutambahan, Lahir sejak Abad ke 9, Dipentaskan di Pura Dalem Puri

I Putu Mardika • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 18:26 WIB
Tari Baris Singa Mandawa di Desa Kubutambahan (ist)
Tari Baris Singa Mandawa di Desa Kubutambahan (ist)

BALIEXPRESS.ID-Tari Baris Singa Mandawa hingga kini masih lestari di Desa Adat Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Tarian Sakral ini hanya bisa dipentaskan di Pura Dalem Puri, Kubutambahan.

Tari Baris Singa Mandawa memiliki akar sejarah yang sangat tua. Tarian ini diperkirakan sudah lahir sejak tahun 886 SM atau abad ke-9 pada masa perkembangan spiritual masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh ajaran Chiwa Budhi. Pada periode ini, berbagai tradisi ritual dan kesenian sakral diciptakan sebagai sarana yadnya, termasuk Tari Baris Singa Mandawa.

Perbekel Desa Kubutambahan, Gede Pariadnyana mengatakan awal kemunculannya, tari ini berfungsi sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan perlindungan masyarakat desa, yang diwujudkan melalui peran baris (barisan prajurit) dan singa (lambang kewibawaan).

Tarian ini tidak hanya menjadi hiburan, melainkan sarana sakral untuk menjaga keseimbangan jagat dan memperkuat ikatan spiritual masyarakat Kubutambahan dengan Sang Hyang Widhi Wasa.

Seiring perjalanan waktu dan perubahan sosial, Tari Baris Singa Mandawa mengalami masa kevakuman. Tarian ini tidak lagi dipentaskan dalam upacara, sehingga nyaris hilang dari kehidupan masyarakat. Kebangkitannya baru terjadi kembali pada era modern, tepatnya setelah pandemi Covid-19 berlalu.

“Dalam situasi penuh keprihatinan itu, muncul kesadaran untuk menghidupkan kembali warisan leluhur yang sarat makna. Tari Baris Singa Mandawa kemudian dipentaskan lagi sebagai sarana memohon keselamatan, sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat,” katanya.

Jumlah penari Tari Baris Singa Mandawa umumnya terdiri dari sembilan orang yang melambangkan sembilan penjuru mata angin sesuai konsep Dewata Nawa Sanga. Para penari berbaris dalam formasi tertentu yang mencerminkan barisan prajurit sakral penjaga keseimbangan spiritual desa.

Baca Juga: Satpol PP Badung Kembali Rancang Sidak Waria di Canggu

Dalam upacara besar, jumlah penari dapat dibagi menjadi kelompok utama dan cadangan bila diperlukan untuk pementasan bergilir. Syarat menjadi penari sangat ketat harus merupakan krama asli Desa Kubutambahan, laki-laki, berusia remaja hingga dewasa, serta telah melalui prosesi penyucian diri seperti melukat atau mecaru.

Penari juga wajib memiliki niat tulus (ngayah), karena tarian ini bersifat sakral, bukan untuk tujuan komersial. Sebelum tampil, mereka mengikuti latihan khusus dan memperoleh restu dari penglingsir adat serta tokoh spiritual desa Peran penari bukan sekadar sebagai pelaku seni, melainkan sebagai perwujudan kekuatan gaib pelindung desa roh Singa Mandawa yang menjaga keharmonisan jagat.

Kostum dan polesan wajah dalam Tari Baris Singa Mandawa memiliki makna simbolik dan sakral yang mencerminkan nilai agama, budaya, serta identitas spiritual masyarakat Bali. Tombak Dewata Nawa Sanga menjadi properti utama, dibawa oleh sembilan penari yang masing-masing mewakili arah mata angin.

Tombak melambangkan keberanian dan kekuatan spiritual prajurit pelindung desa. Udeng putih polos dikenakan di kepala sebagai simbol kesucian dan kejernihan pikiran, mengingatkan manusia untuk selalu menjaga kemurnian batin.

Saput poleng hitam putih menggambarkan keseimbangan alam melalui konsep Rwa Bhineda, yaitu dua unsur berlawanan seperti baik–buruk, siang–malam, dan panas dingin yang saling melengkapi agar tercipta harmoni kosmos

Busana berwarna putih terdiri atas baju, kamen, dan celana menegaskan kesucian diri serta harapan agar penari mampu menjaga kemurnian lahir batin. Bunga merah yang disematkan menjadi lambang keberanian dan penghormatan kepada Dewa Siwa sebagai sumber energi pelindung. Daun beringin yang turut digunakan bermakna kekokohan dan kesucian, sebagaimana pohon beringin yang menjadi simbol kesejukan dan keteduhan dalam ajaran Hindu.

“Polesan wajah menggunakan warna putih dari tepung jagung dan pamor melambangkan kesucian, hitam dari arang melambangkan kekuatan, dan merah dari sirih menandakan keberanian,” ungkapnya. 

Rangkaian gerak Tari Baris Singa Mandawa menggambarkan perjalanan spiritual dan semangat keprajuritan suci yang menjaga keharmonisan jagat. Gerakan awal (Tandang) berupa langkah pelan dan mantap saat penari memasuki arena, menandakan kesiapan fisik dan batin untuk melaksanakan tugas suci, diiringi ketukan lambat 3x8 yang membangun suasana sakral.

Baca Juga: Pesisir Pantai Dipastikan Bersih, DLHK Badung Berhasil Angkut 9.028 Ton Sampah Kiriman

Gede Pariadnyana menjelaskan, Sikap dasar (Agem) menunjukkan tubuh tegak, dada membusung, kaki terbuka selebar bahu, dan tangan memegang tombak dengan mantap, menggambarkan kewibawaan serta kesiagaan, mengikuti ketukan 3x8 yang tegas.

Sikap siaga (Tegak Ngagem) memperlihatkan gerakan tangan dan kaki dalam posisi siap dengan pandangan tajam ke depan, menggambarkan kewaspadaan spiritual, diiringi ketukan 3x8 cepat.

Gerakan langkah gagah (Ngeleog) dilakukan dengan langkah lebar dan hentakan kuat mengikuti ritme 3x8, menampilkan kejantanan dan kekuatan. Gerak kepala dan mata (Ngelik dan Nyeledet) bergerak cepat dan tajam dengan ketukan 2x8, melambangkan konsentrasi batin dan penguasaan diri.

“Gerak tangan dan tombak (Ngembat dan Nyeleog) dilakukan dengan ayunan halus dan kuat sesuai irama 3x8, menjadi simbol perlawanan terhadap kekuatan negatif,” jelasnya.

Gerakan perang (Mebangbang) menampilkan formasi prajurit bertempur dengan ketukan dinamis 4x8, menandai semangat heroik pelindung desa. Gerak Malpal sebagai transisi dilakukan dengan langkah gagah berirama 3x8, menggambarkan penjagaan wilayah suci.

Gerak jongkok (Mendak) melambangkan penghormatan kepada bumi dengan ketukan 3x8, Nyeregseg menekankan harmoni antarmanusia dengan ketukan 3x8, dan Nungkayak menunjukkan hubungan dengan Tuhan, juga dengan ketukan 3x8.

Gerak ayunan tombak menggambarkan ketangkasan prajurit dalam irama 3x8. Penutup (Ngumbang dan Ngelayang) dilakukan lembut dan penuh hormat dengan ketukan pelan 2x8, menyimbolkan pengembalian energi suci kepada alam semesta.

Instrumen dalam Tari Baris Singa Mandawa berfungsi bukan sekadar pengiring musikal, melainkan media spiritual yang menyeimbangkan hubungan antara dunia sekala (nyata) dan niskala (gaib). Setiap alat musik memiliki karakter suara dan simbolisme tersendiri yang menyatu dengan gerak tarian, menciptakan nuansa sakral dan khidmat dalam setiap pementasan.

Kemudian, Genta merupakan lonceng kecil dari logam perunggu yang dibunyikan dengan ayunan tangan. Suaranya yang lembut dan bergetar panjang melambangkan harmoni kosmis, menjadi simbol pemanggil energi suci dan sarana penyatuan kesadaran dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Genta digunakan untuk memperkuat taksu penari, menghadirkan rasa kehadiran ilahi di tengah pertunjukan.

Selanjutnya Gentorag terdiri atas rangkaian lonceng kecil yang diikat pada kayu atau kain. Bunyi gemerincingnya menggambarkan kesiagaan dan perlindungan spiritual, dipercaya mampu mengusir kekuatan negatif. Ritmenya cepat dan teratur, menandakan getaran energi yang dinamis dalam menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan roh leluhur.

Mangkok uter atau genta Tibet berbentuk mangkuk logam besar yang dibunyikan dengan memutar pemukul kayu di tepinya. Getaran suaranya lembut dan mendalam, berfungsi untuk membuka ruang sakral (ngelukar alang niskala).

Gamelan gupek, berupa seperangkat gamelan kecil dengan kendang, gong, dan gangsa, menggambarkan filosofi Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai simbol penciptaan, pemeliharaan, dan pelebur energi.

Baca Juga: Polsek Gianyar Intensifkan Patroli Jam Rawan

Ketukannya stabil, berulang, dan mengalun dengan pola 4/4, menjadi jantung irama yang menuntun gerakan tarian. Ceng-ceng kopyak, terdiri atas dua piring logam kecil yang saling dibenturkan, menampilkan bunyi tajam dan cepat. Instrumen ini melambangkan bayu atau kekuatan hidup yang menghidupkan penari.

Reyong dan gempur berperan menegaskan dinamika dan ketegasan gerak. Reyong menghasilkan nada-nada berlapis yang menggambarkan semangat keprajuritan, sedangkan gempur mengeluarkan suara dalam dan bergema lama, menyerupai dengung kosmis sebagai simbol kekokohan dan keharmonisan alam semesta.

“Keseluruhan instrumen ini menciptakan perpaduan bunyi yang bukan sekadar musik, tetapi mantra bunyi menjadikan Tari Baris Singa Mandawa sebagai ritual harmoni kosmis yang memadukan musik, gerak, dan spiritualitas masyarakat Kubutambahan,” pungkasnya. (dik)

 

 
 
Editor : I Putu Mardika
Tari Baris Singa Mandawa hindu pura dalem puri kubutambahan