Tim UNHI Persembahkan Buku Sandyakala Huluning Toya, Refleksi Seabad Relokasi Batur

I Putu Mardika • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 19:57 WIB
Tim UNHI Denpasar mempersembahkan buku Sandyakala Huluning Toya: Refleksi 100 Tahun Relokasi Batur sebagai wujud Jnana Yadnya untuk mengenang satu abad relokasi Batur sekaligus merawat memori, ketahanan budaya, dan peradaban spiritual Bali.
Tim UNHI Denpasar mempersembahkan buku Sandyakala Huluning Toya: Refleksi 100 Tahun Relokasi Batur sebagai wujud Jnana Yadnya untuk mengenang satu abad relokasi Batur sekaligus merawat memori, ketahanan budaya, dan peradaban spiritual Bali.

BALIEXPRESS.ID-Universitas Hindu Indonesia (UNHI) mempersembahkan karya akademik bertajuk Sandyakala Huluning Toya: Refleksi 100 Tahun Relokasi Batur sebagai bentuk penghormatan terhadap peringatan satu abad Peristiwa Rarud Batur.

Buku tersebut diluncurkan di Madya Mandala Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, diawali dengan pementasan seni bertema Renaning Rat: Pemuliaan Danau Sebagai Ibu Semesta yang menggambarkan kesucian Danau Batur sebagai sumber kehidupan masyarakat Bali.

Peluncuran buku dihadiri Rektor UNHI beserta jajaran pimpinan universitas, Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Ketua Senat UNHI, Jero Penyarikan Duuran Batur, para penulis, akademisi, serta pembedah buku.

Rektor UNHI, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si., mengatakan buku tersebut lahir bukan sekadar untuk mengenang perpindahan masyarakat Batur akibat letusan dahsyat Gunung Batur tahun 1926, melainkan sebagai refleksi atas ketahanan budaya masyarakat yang mampu bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka.

"Buku Sandyakala Huluning Toya merangkum sebuah kesadaran mendalam. Huluning Toya bukan sekadar identitas geografis Batur sebagai jantung vegetasi dan sumber air bagi Bali, tetapi juga merupakan fondasi peradaban Subak dan spiritualitas masyarakat Bali. Melalui peringatan seratus tahun ini, kita tidak hanya diajak menengok masa lalu, tetapi juga membaca masa depan peradaban air kita," ujar Dr. Cokorda Gde Bayu Putra.

Menurutnya, rentang waktu satu abad menyimpan kisah perjuangan, air mata, gotong royong, serta kekuatan spiritual masyarakat Batur dalam menghadapi bencana. Karena itu, buku tersebut diharapkan menjadi monumen naratif yang merekam perjalanan masyarakat dari masa relokasi hingga tantangan yang dihadapi saat ini.

"Buku ini bukan sekadar catatan kronologis perpindahan fisik masyarakat Batur. Lebih dari itu, buku ini merekam bagaimana sebuah peradaban mampu bangkit dari puing-puing bencana, menata ulang kehidupan, merawat warisan kultural, sekaligus memetakan problem dan tantangan yang akan dihadapi pada masa depan," katanya.

Sebagai perguruan tinggi yang menjadikan agama dan kebudayaan sebagai pola ilmiah pokok, UNHI memandang Batur sebagai laboratorium peradaban yang menyimpan pelajaran penting mengenai resiliensi sosial, budaya, dan religius.

Baca Juga: Kurangi Kemacetan, Pemkab Badung Rancang Bangun Trem Kuta-Canggu

"Bagi UNHI, Batur bukan hanya ruang yang memiliki gunung dan danau. Batur adalah laboratorium peradaban hulu Bali yang tidak akan pernah habis dipelajari. Kemampuan masyarakat beradaptasi di Kalanganyar membuktikan bahwa identitas budaya, spiritualitas, dan keguyuban merupakan fondasi kuat dalam menghadapi krisis," ungkapnya.

Dr. Cokorda Bayu Putra juga mengungkapkan bahwa penerbitan buku tersebut memiliki makna historis bagi UNHI. Ia menjelaskan, secara kesejarahan lahirnya UNHI tidak dapat dipisahkan dari inspirasi yang muncul di kawasan Campuhan Ubud, tempat bertemunya aliran air yang bersumber dari Batur.

"Penulisan buku ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dan intelektual kami. Jika subak-subak menghaturkan hasil panen kepada Dewi Danu, maka UNHI menghaturkan candi pustaka sebagai wujud Jnana Yadnya. Kami ingin menjadikan buku ini sebagai persembahan ilmu pengetahuan bagi masyarakat Batur dan Bali," tegasnya.

Melalui buku setebal ratusan halaman tersebut, para akademisi UNHI menghadirkan pembacaan Batur dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari agama, kebudayaan, hukum, ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga tata ruang. Kajian tersebut tidak hanya mengulas perjalanan sejarah relokasi Batur, tetapi juga memotret kondisi kekinian serta menyusun refleksi strategis dalam menghadapi tantangan perubahan sosial, lingkungan, dan pembangunan pada masa mendatang.

Rektor UNHI memberikan apresiasi kepada seluruh tim penulis yang telah menyelesaikan buku tersebut serta menyampaikan terima kasih kepada Jero Gde Batur Duuran, Jero Penyarikan Duuran Batur, Jero Penyarikan Alitan, para guru keraman, dan panglingsir Batur yang telah menjadi narasumber selama proses penulisan.

Baca Juga: BRI Dukung Optimalisasi Instrumen Pengelolaan Kas Negara, Perkuat Penyaluran Kredit Berkualitas untuk Mendorong Sektor Riil

"Tanpa dukungan para informan, tentu para penulis tidak akan memperoleh gambaran yang utuh mengenai Batur masa lalu maupun Batur hari ini. Karena itu, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi," ujarnya.

Ia berharap buku Sandyakala Huluning Toya: Refleksi 100 Tahun Relokasi Batur dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus inspirasi bagi masyarakat luas dalam merawat ketahanan budaya, menjaga kelestarian sumber daya air, dan memperkuat keberlanjutan peradaban spiritual Batur di tengah tantangan zaman yang terus berkembang. (dik)

.

 

Editor : I Putu Mardika
Sandyakala Huluning Toya: Refleksi 100 Tahun Relokasi Batur UNHI Denpasar buku batur Rarud Batur