Barong Gajah di Desa Adat Blahkiuh, Simbol Sang Hyang Gana Pati

I Putu Mardika • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 18:26 WIB
Barong gajah di Desa Adat Blahkiuh (ist)
Barong gajah di Desa Adat Blahkiuh (ist)

BALIEXPRESS.ID-Barong Gajah di Desa Adat Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, bukan sekadar kesenian tradisional. Bagi masyarakat setempat, Barong Gajah merupakan sesuhunan yang disakralkan dan memiliki peran penting dalam kehidupan keagamaan serta sosial masyarakat. Keberadaannya dipercaya membawa ketenteraman, kemakmuran, dan kesejahteraan sekaligus menjadi simbol yang mempersatukan warga Desa Adat Blahkiuh.

Barong Gajah berstana di Pura Dalem Pancer, Desa Blahkiuh. Bentuknya menyerupai gajah dan dipercaya sebagai simbol Sang Hyang Gana Pati atau Ganesha. Dalam keyakinan masyarakat Hindu, Gana Pati merupakan putra Dewa Siwa yang memiliki wajah gajah dan diyakini sebagai manifestasi Tuhan yang memberikan kemakmuran dan kesejahteraan.

Tokoh Adat Blahkiuh, Ketut Sudiarta, mengatakan Barong Gajah memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat. Selain sebagai simbol keagamaan, Barong Gajah juga dipercaya menjadi sarana untuk menjaga keharmonisan kehidupan.

“Barong Gajah juga sebagai simbol keagamaan. Para pengempon meyakini bahwa melalui Barong Gajah yang dikeramatkan tersebut dapat membentuk keharmonisan antara hubungan baik dan buruk, khususnya hubungan Tuhan dengan Bhuta Kala,” kata Ketut Sudiarta.

Menurutnya, keyakinan masyarakat terhadap Barong Gajah sudah berlangsung secara turun-temurun. Karena itu, Barong Gajah selalu dilibatkan dalam berbagai kegiatan keagamaan di Desa Adat Blahkiuh.

Keberadaan Barong Gajah juga memiliki pengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat. Ketika ada kegiatan ritual yang melibatkan Barong Gajah, warga dari berbagai kelompok ikut terlibat. Mereka bersama-sama menjalankan kegiatan adat dan keagamaan dengan semangat ngayah.

Kondisi tersebut membuat Barong Gajah tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan. Barong Gajah juga menjadi ruang bertemunya masyarakat. Warga dari berbagai banjar, sekaa gong, dan kelompok masyarakat lainnya dapat berkumpul dan bekerja bersama dalam satu kegiatan.

“Keberadaan Barong Gajah ini memang sangat berpengaruh terhadap kesatuan masyarakat di Desa Adat Blahkiuh. Ketika ada upacara ritual yang melibatkan Barong Gajah, antusiasme umat Hindu untuk menyertai sangatlah besar,” ujar Ketut Sudiarta.

Baca Juga: Karya Agung Pura Dalem Batubayan, Pemkab Badung Berikan Hibah Rp 1,7 Miliar

Ia mengatakan Barong Gajah juga memperkuat rasa persatuan di antara para pemaksan. Karena itu, masyarakat Blahkiuh menyebut Barong Gajah sebagai salah satu simbol pemersatu desa.

“Selain itu, Barong Gajah juga membentuk rasa kesatuan para pemaksan. Inilah mengapa dikatakan bahwa Barong Gajah seperti menjadi simbol pemersatu masyarakat Desa Blahkiuh,” katanya.

Kegiatan yang melibatkan Barong Gajah antara lain Ngelawang saat Hari Raya Galungan hingga Kuningan. Dalam tradisi tersebut, Barong Gajah diarak atau melancaran di wilayah Desa Adat Blahkiuh. Masyarakat meyakini kegiatan tersebut memiliki fungsi untuk menolak wabah dan hama yang dapat mengganggu kehidupan warga, termasuk tanaman di sawah dan lingkungan rumah.

Pada hari-hari besar umat Hindu, Barong Gajah juga melakukan Ngunya atau berkunjung ke tempat-tempat suci yang memiliki hubungan dengan masyarakat Desa Blahkiuh. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi keagamaan yang terus dijalankan masyarakat.

Barong Gajah juga selalu dipentaskan dalam pujawali di Pura Kahyangan Tiga. Sebelum dihadirkan, dilakukan penguleman atau undangan dengan menghaturkan banten pejati. Kehadiran Barong Gajah dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari penghormatan dan kebersamaan dalam pelaksanaan yadnya.

Selain Galungan dan Kuningan, Barong Gajah juga memiliki hubungan erat dengan upacara Meprani. Upacara ini dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi. Dalam tradisi masyarakat Blahkiuh, Barong Gajah bersama Barong Bangkal di Pura Dalem Pancer memiliki peran dalam memohon kedamaian, ketenangan, keselamatan, dan kemakmuran bagi masyarakat.

Baca Juga: Pemkab Badung Bakal Lindungi Lahan RTH dan LP2B

“Tujuannya adalah memohon kedamaian, ketenangan, kesentosaan hidup di Desa Blahkiuh, serta memohon kemakmuran hasil bumi di sawah dan ladang,” kata Ketut Sudiarta.

Selain itu, kegiatan tersebut juga bertujuan menyucikan alam dan memohon agar masyarakat terbebas dari berbagai wabah serta mara bahaya. Pelaksanaannya dilakukan berdasarkan Pararem krama Desa Blahkiuh yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam pelaksanaannya, prajuru Desa Blahkiuh mengumumkan kegiatan kepada warga melalui masing-masing banjar adat. Krama kemudian mengikuti kegiatan dengan menggunakan pakaian adat dan membawa sarana upacara.

Prosesi dilanjutkan dengan persembahyangan bersama dan memohon tirta. Air suci tersebut kemudian dibawa pulang untuk diminum keluarga dan dipercikkan di rumah, pekarangan, sawah, serta tegal. Tujuannya adalah memohon kerahayuan jagat.

Bagi masyarakat Blahkiuh, kegiatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan keagamaan. Ada nilai kebersamaan yang kuat di dalamnya. Warga dari berbagai banjar ikut ambil bagian dalam kegiatan. Mereka menjalankan tugas masing-masing tanpa membedakan latar belakang.

Ketut Sudiarta mengatakan keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi Barong Gajah. Menurutnya, pengetahuan mengenai tradisi tidak boleh berhenti pada generasi tua.

“Ini merupakan nilai pemersatu. Perlu kerja sama yang baik antara generasi tua dengan generasi muda agar tidak terjadi jeda pengetahuan tentang kebudayaan mereka,” katanya.

Generasi muda, lanjutnya, akan menjadi penerus kegiatan pemaksan pada masa mendatang. Mereka tidak hanya akan meneruskan kegiatan ritual, tetapi juga kegiatan sosial yang berkaitan dengan Barong Gajah.

Keterlibatan generasi muda tersebut dapat dilihat ketika Barong Gajah Ngelawang atau Melancaran di wilayah Desa Adat Blahkiuh. Para pemaksan dari banjar-banjar mengikuti prosesi tersebut dengan tulus dan ikhlas sebagai bentuk ngayah.

Dalam upacara piodalan di Pura Dalem Pancer, Barong Gajah juga memiliki kedudukan khusus. Barong Gajah merupakan Sesuunan yang wajib dipentaskan atau mesolah dalam upacara tersebut. Masyarakat meyakini pementasan Barong Gajah merupakan bagian penting dalam pelaksanaan upacara di pura tersebut.

Sesolahan Barong Gajah sekaligus menjadi sarana mempertemukan warga dari enam banjar adat di Desa Blahkiuh. Tidak hanya warga setempat, pemedek dari desa lain di Kabupaten Badung juga dapat hadir untuk mengikuti persembahyangan.

Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih Diperkuat, Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Papua

Dalam setiap kegiatan tersebut, semangat ngayah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Ngayah dilakukan sebagai bentuk pengabdian tanpa pamrih dan wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bagi masyarakat, ngayah juga menjadi cara untuk belajar hidup bersama dan menjaga hubungan sosial.

Karena itu, keberadaan Barong Gajah di Desa Adat Blahkiuh memiliki makna yang luas. Barong Gajah bukan hanya warisan budaya, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat. Nilai agama, adat, kebersamaan, dan gotong royong bertemu dalam berbagai ritual yang melibatkan sesuhunan tersebut.

Bagi masyarakat Blahkiuh, menjaga Barong Gajah berarti menjaga warisan leluhur sekaligus menjaga persatuan warga. Tradisi tersebut menjadi penghubung antara generasi tua dan generasi muda. Selama masyarakat tetap terlibat dan memahami maknanya, Barong Gajah diyakini akan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan Desa Adat Blahkiuh.

“Generasi muda yang akan melanjutkan kegiatan pemaksan ini di masa yang akan datang, baik kegiatan ritualnya maupun sosialnya,” pungkas Ketut Sudiarta. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Barong gajah desa adat blahkiuh hindu badung