Tari Gandrung Bangunurip Desa Batukandik, Nusa Penida Berawal dari Burung Raksasa Pencuri Buah Semangka

I Putu Mardika • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:12 WIB
Tari Gandrung Bangunurip Desa Batukanding, Nusa Penida (ist)
Tari Gandrung Bangunurip Desa Batukanding, Nusa Penida (ist)

BALIEXPRESS.ID-Berawal dari kisah seekor burung raksasa yang membawa seorang petani terbang hingga menemukan sumber air kehidupan, Tari Gandrung Bangunurip di Desa Batukandik, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, kini menjadi tarian sakral yang tak bisa dipentaskan sembarangan.

Bagi masyarakat setempat, tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari perjalanan spiritual yang menghubungkan manusia, alam, leluhur, dan kekuatan niskala. Di balik gerak tari dan iringan gamelan, tersimpan kisah Banyu Urip, air kehidupan yang dipercaya menjadi cikal bakal lahirnya nama Bangunurip sekaligus menjadi dasar keyakinan terhadap kekuatan sakral Tari Gandrung Bangunurip.

Tokoh Adat Batukandik, I Putu Asta Sumara, menjelaskan, keberadaan Tari Gandrung Bangunurip memiliki hubungan erat dengan sejarah asal-usul Banjar Bangunurip. Pada zaman dahulu, masyarakat setempat sebagian besar menggantungkan kehidupan sebagai petani di lahan tegalan tadah hujan.

Salah satu tanaman yang dibudidayakan adalah semangka merah. Tanaman tersebut tumbuh subur dan menghasilkan buah yang manis atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Namun, kebahagiaan petani atas hasil panen tersebut kemudian terganggu oleh sebuah kejadian mistis. Buah semangka di kebun mereka hilang hampir setiap hari. Setelah diamati, ternyata buah-buah tersebut dimakan oleh seekor burung raksasa yang oleh masyarakat setempat disebut Manuk Dewata, yang dalam kisah tersebut digambarkan menyerupai burung Garuda.

“Dahulu warga di sini kebanyakan hidup sebagai petani di lahan tegalan tadah hujan. Mereka menanam semangka merah. Buahnya tumbuh bagus dan rasanya manis. Tetapi hampir setiap hari buah semangka itu hilang. Setelah diketahui, ternyata yang memakannya adalah seekor burung raksasa yang disebut Manuk Dewata,” tutur Asta Sumara.

Rasa penasaran membuat pemilik kebun berusaha menangkap burung tersebut. Ketika Manuk Dewata turun ke kebun, petani mendekati dan memegang kakinya. Namun, burung itu tidak bergeming.

Setelah kenyang memakan semangka, Manuk Dewata kemudian terbang ke arah selatan dan petani tersebut ikut terbawa. Karena takut terjatuh, ia terus memegang kaki burung raksasa itu hingga akhirnya burung berhenti di dekat sarangnya.

Baca Juga: Menteri Nusron Tutup Celah Mafia Tanah, Layanan Pertanahan Kini Makin Terintegrasi

Di tempat tersebut terdapat sebuah sumur kecil dengan air yang sangat jernih yang disebut cubang. Manuk Dewata kemudian meminum air dari cubang tersebut. Petani yang masih berada di dekat burung membawa sebuah cawan kecil atau papuhan, yang biasanya digunakan untuk tempat perlengkapan makan sirih. Setiap kali kepala burung menengadah setelah minum, petani mencelupkan papuhan ke dalam cubang hingga terisi air.

Setelah beberapa waktu, Manuk Dewata kembali membawa petani itu menuju kebun semangka. Sesampainya di kebun, petani segera melepaskan pegangan dan bergegas pulang. Dalam perjalanan, tanpa disengaja air yang berada di dalam papuhan tumpah mengenai sebatang kayu yang telah mati.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi titik penting dalam cerita asal-usul Bangunurip. Kayu yang terkena air perlahan kembali hidup. Pohon itu kemudian tumbuh subur dan berbunga. Masyarakat menyebut air tersebut sebagai Banyu Urip, sedangkan wilayah tempat peristiwa itu terjadi kemudian dikenal sebagai Bungan Urip dan dalam perkembangan selanjutnya menjadi Bangunurip.

“Air yang dibawa petani itu disebut Banyu Urip. Ketika air tersebut tidak sengaja mengenai batang kayu yang sudah mati, kayu itu kembali hidup, tumbuh dan berbunga. Dari situlah kemudian muncul nama Bungan Urip yang berkembang menjadi Bangunurip,” jelas Asta Sumara.

Kisah tersebut tidak berhenti pada peristiwa ajaib kembalinya kehidupan sebuah batang kayu. Petani kemudian menerima pewisik, atau petunjuk secara niskala, bahwa air yang dibawanya dapat digunakan untuk membantu menyembuhkan orang sakit. Kepercayaan mengenai khasiat Banyu Urip kemudian menyebar luas di Nusa Penida hingga ke Bali.

Kabar tersebut bahkan sampai ke Puri Klungkung. Raja kemudian memerintahkan petani itu menghadap ke kerajaan dengan membawa Banyu Urip. Setelah mendengar kisah asal-usul air tersebut, raja meminta agar air suci itu dipersembahkan. Sebagai pengganti air suci yang telah dipersembahkan, petani mendapat titah untuk terus membantu masyarakat yang membutuhkan.

Baca Juga: Polsek Blahbatuh Tingkatkan Kesiapsiagaan Melalui Simulasi Pengamanan Mako

Sepulangnya ke Nusa Penida, petani kembali memperoleh pewisik. Ia diminta menolong masyarakat menggunakan pees bayu, yakni air kunyahan daun sirih yang dilengkapi kapur atau pamor, gambir, tembakau dan buah pinang. Dari tradisi inilah kemudian berkembang Tari Gandrung Bangunurip sebagai pengganti Banyu Urip yang telah dipersembahkan kepada raja.

Asta Sumara menyebut Tari Gandrung Bangunurip diperkirakan telah ada sejak masa pemerintahan Raja Gelgel, Ida Dalem Waturenggong. Dalam pementasannya, dua orang anak laki-laki yang belum menginjak dewasa menjadi penari utama karena dianggap masih memiliki kesucian. Sementara itu, penasar atau bebanyolan hadir sebagai bagian dari lakon yang menceritakan perjalanan mencari air suci.

“Dua penari utama dalam Tari Gandrung Bangunurip adalah anak laki-laki yang belum dewasa. Mereka dipandang masih suci. Karena itu, proses persiapan dan penyuciannya juga dilakukan dengan tata cara tertentu,” katanya.

Pada awalnya, Tari Gandrung Bangunurip hanya dipentaskan di pura dalam rangkaian upacara yadnya. Namun, dalam perkembangannya, tarian ini juga dipentaskan di rumah-rumah warga yang memiliki hajatan atau sedang memenuhi sesangi, yakni janji atau kaul setelah permohonan mereka dikabulkan.

Salah satu bagian yang dianggap penting adalah penggunaan lekesan. Setelah pertunjukan selesai, salah seorang penari mengunyah daun sirih, kapur, gambir, pinang dan tembakau. Air kunyahan atau pees bayu kemudian dioleskan pada dahi orang yang melaksanakan naur sesangi. Masyarakat memaknai sirih sebagai simbol pengetahuan yang baik dan benar, gambir sebagai kebahagiaan batin, kapur sebagai simbol universal, dan benang sebagai tali pengikat kehidupan.

Ada sejumlah persiapan yang dilakukan menjelang pementasan Tari Gandrung Bangunurip. Pada pementasan di Pura Puseh Desa Adat Batukandik dalam upacara ngusaba, persiapan dilakukan sekitar seminggu sebelumnya.

Penari harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk berusia sekitar 10 sampai 11 tahun dan berasal dari keturunan penari sebelumnya. Pakaian tari juga harus disucikan dengan tirta, penari menjalani latihan, dan sehari sebelum pementasan dilakukan pawintenan sebagai proses penyucian lahir dan batin.

Ia menambahkan, jika dahulu masyarakat harus datang langsung untuk memadik, mantesan dan mendak penari, kini pemesanan dapat dilakukan melalui telepon berdasarkan kesepakatan waktu dan biaya.

“Teknologinya boleh berubah, tetapi nilai sakralnya jangan sampai hilang. Tari Gandrung Bangunurip tetap harus dipahami sebagai warisan leluhur yang memiliki hubungan dengan kehidupan religius masyarakat,” tegas Asta Sumara.

Baca Juga: Mini Fest Kemenag Gianyar, Satukan UMKM dan Budaya dalam Semangat Kemerdekaan

Bagi masyarakat Batukandik, fungsi Tari Gandrung Bangunurip tidak hanya berkaitan dengan seni dan hiburan. Tarian ini dipercaya mampu menetralisir pengaruh negatif bhuta kala, menciptakan keselamatan, serta membantu membangun keharmonisan kehidupan masyarakat. Pees bayu yang dihasilkan melalui lekesan juga diyakini menjadi simbol pengganti Banyu Urip yang dahulu telah dipersembahkan kepada raja.

Lebih jauh, makna utama Tari Gandrung Bangunurip berkaitan dengan konsep keseimbangan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Manusia dan alam dipandang sebagai dua unsur yang saling membutuhkan. Ketidakseimbangan dalam kehidupan manusia dapat berdampak pada lingkungan, demikian pula kerusakan lingkungan dapat mengganggu kehidupan manusia.

Karena itu, Tari Gandrung Bangunurip sesungguhnya menyimpan pesan ekologis sekaligus religius. Manusia tidak hanya dituntut menjaga hubungan dengan sesama, tetapi juga menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan. Dalam perspektif masyarakat Batukandik, keharmonisan tersebut menjadi dasar terciptanya kehidupan yang aman, tenteram dan seimbang.

“Bagi kami, Tari Gandrung Bangunurip adalah warisan yang tidak boleh hanya dilihat sebagai kesenian. Di dalamnya ada sejarah, keyakinan, penghormatan kepada leluhur, dan ajaran untuk menjaga keseimbangan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Itulah yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkas Asta Sumara. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Tari Gandrung Bangunurip Desa Batukandik nusa penida tari