BALIEXPRESS.ID-Pura Goa Giri Putri di Desa Adat Karangsari, Desa Suana, Nusa Penida, tidak hanya dikenal sebagai salah satu tempat suci umat Hindu, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan budaya dan kepercayaan Hindu, Buddha, serta unsur budaya Tionghoa.
Keberadaan tempat pemujaan Dewi Kwan Im dan Dewa Langit dalam satu kawasan dengan pelinggih Hindu menunjukkan adanya proses akulturasi yang berlangsung secara alami di tengah masyarakat. Perpaduan tersebut tidak menghilangkan identitas masing-masing tradisi, tetapi justru melahirkan ruang bersama yang menunjukkan praktik toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman.
Tokoh spiritual Jero Mangku I Nyoman Dunia, S.Pd., yang juga mantan Bendesa Adat Karangsari, menjelaskan bahwa penataan kawasan Goa Giri Putri mulai dilakukan sekitar dekade 1990-an. Pada masa tersebut mulai dibangun sejumlah pelinggih hingga kawasan goa kemudian secara resmi dikenal sebagai Goa Giri Putri.
Penataan tersebut semakin mendapatkan legitimasi melalui pelaksanaan upacara plaspas pada Purnama Kalima Wraspati Kliwon Klawu, 25 Oktober 2007. Menurutnya, perkembangan penataan kawasan inilah yang kemudian menjadi salah satu pintu masuk hadirnya unsur budaya Tionghoa-Buddha di dalam kawasan pemujaan Hindu.
“Penataan Goa Giri Putri mulai dilakukan sekitar tahun 1990-an. Sejumlah pelinggih mulai didirikan dan selanjutnya dilakukan upacara plaspas pada 25 Oktober 2007. Dalam perkembangan berikutnya, unsur Buddha dan budaya Tionghoa juga hadir dan berdampingan dengan tempat pemujaan Hindu,” tutur Jero Mangku I Nyoman Dunia.
Baca Juga: HUT ke-68 Bali, Koster Dorong Pembangunan 2025-2030 Jadi Fondasi Bali Era Baru
Keberadaan Dewi Kwan Im di Goa Giri Putri juga memiliki latar belakang yang berkaitan dengan sumber tradisional masyarakat setempat. Dalam Babad Nusa Penida disebutkan mengenai kehadiran Dewi Kwan Im bersama dewa-dewa Hindu di Nusa Penida.
Kisah tersebut kemudian menjadi salah satu sumber legitimasi kultural bagi keberadaan figur Dewi Kwan Im di kawasan Goa Giri Putri. Sekitar tahun 1990-an, seorang pendeta Buddha dari Tibet disebut membawa arca Dewi Kwan Im ke Goa Giri Putri dan menempatkannya bersama tempat pemujaan dewa-dewa Hindu.
Menurut Jero Mangku I Nyoman Dunia, proses tersebut tidak dapat dilepaskan dari keyakinan masyarakat terhadap kekuatan spiritual Goa Giri Putri. Masyarakat Hindu maupun pengunjung dari berbagai daerah meyakini kawasan tersebut memiliki kekuatan spiritual yang mampu memberikan keselamatan, kesembuhan, penyucian diri, serta membuka jalan bagi keberhasilan kehidupan.
“Bagi masyarakat, yang paling penting adalah keyakinan terhadap kekuatan dan fungsi tempat suci tersebut. Karena itu, kehadiran Dewi Kwan Im tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan dengan keyakinan Hindu. Justru pemujaannya berkembang berdampingan dalam satu kawasan,” jelasnya.
Kisah lain yang berkembang di masyarakat semakin memperkuat keberadaan arca Dewi Kwan Im. Disebutkan seorang Dasaran atau Tapakan dari Desa Bungkulan, Buleleng, dalam perjalanan menuju Nusa Penida bertemu seseorang dari Bangli yang sedang sakit.
Dalam sebuah pesan spiritual, orang tersebut diminta mempersembahkan arca Dewi Kwan Im ke Goa Giri Putri apabila sembuh. Setelah kesehatannya pulih, janji tersebut kemudian dipenuhi dengan mempersembahkan arca Dewi Kwan Im ke Goa Giri Putri.
Peristiwa tersebut kemudian menginspirasi masyarakat Desa Adat Karangsari untuk menyediakan tempat pemujaan khusus bagi Dewi Kwan Im atau Ratu Syahbandar. Menariknya, tempat pemujaan tersebut tidak ditempatkan secara terpisah dari pelinggih Hindu, tetapi berada dalam satu kawasan dan sejajar dengan tempat pemujaan seperti Hyang Ciwa Amerta, Rambut Sedana, dan Ratu Melanting. Kondisi ini menjadi salah satu bentuk nyata akulturasi budaya Hindu dan Buddha yang berkembang di Goa Giri Putri.
“Di sini tidak ada kesan bahwa satu tempat pemujaan harus mengalahkan yang lain. Semuanya memiliki tempat dan fungsi masing-masing. Masyarakat memuja dengan penuh khidmat dan tetap menghormati keberadaan tradisi yang berbeda,” kata Jero Mangku I Nyoman Dunia.
Baca Juga: 55 Pejabat di Pemkab Tabanan Dilantik, Bupati Tekankan Profesionalisme
Secara keseluruhan, kawasan Pura Goa Giri Putri terbagi ke dalam enam zona pemujaan. Zona pertama berada di bagian terluar goa, yakni Pelinggih Apit Lawang yang secara simbolis menjadi batas antara sifat baik dan buruk. Zona kedua menjadi tempat pemujaan Hyang Tri Purusa dan Hyang Ganapathi. Zona ketiga menjadi tempat pemujaan Hyang Wisnu dan Dewa Ganesha.
Zona keempat terdapat Pelinggih Dewi Gangga dan Hyang Giri Pathi, serta Gedong Simpen untuk menyimpan benda-benda sakral. Zona kelima berupa Pemaruman atau payogan yang menjadi tempat bersemadi para dewa, serta Pelinggih Tangkeb Langit sebagai penjaga kawasan.
Akulturasi paling jelas terlihat pada zona keenam. Di kawasan tersebut berdampingan tempat pemujaan Hindu dan Buddha. Dari tradisi Hindu terdapat Bhatara Ciwa Amerta serta Dewi Melanting atau Dewi Tara.
Sementara dari tradisi Buddha terdapat altar Dewi Kwan Im atau Ratu Syahbandar serta Pengayengan Altar Dewa Langit. Kedua tradisi tersebut hidup berdampingan dan dipuja dalam satu kawasan.
Menurut Jero Mangku I Nyoman Dunia, keberadaan tempat pemujaan Buddha yang relatif baru bagi masyarakat Hindu Karangsari tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk memberikan penghormatan. Bahkan, sebagian pengunjung merasa rangkaian persembahyangan di Goa Giri Putri belum lengkap apabila belum singgah ke altar Dewi Kwan Im.
“Yang menarik, umat yang datang bukan hanya melihatnya sebagai tempat pemujaan umat Buddha. Mereka juga datang dan bersembahyang. Jadi ada proses saling menerima dan saling menghormati yang berkembang secara alami,” ujarnya.
Akulturasi juga terlihat dari penggunaan sarana persembahyangan. Bunga, dupa, dan air suci menjadi bagian penting dalam praktik ritual yang dilakukan di kawasan tersebut. Sarana tersebut tidak dibedakan secara tegas berdasarkan apakah persembahyangan ditujukan kepada dewa Hindu atau figur yang berasal dari tradisi Buddha. Penggunaan sarana yang sama memperlihatkan adanya proses adaptasi budaya dalam praktik keagamaan masyarakat.
Selain itu, hadir pula tradisi megecek selem setelah persembahyangan di altar Dewi Kwan Im. Dalam praktik tersebut, pemangku memberikan campuran minyak dan abu dupa berwarna hitam yang telah dipasupati untuk kemudian dioleskan pada dahi pemedek sebagai simbol penerimaan berkah dari Dewi Kwan Im. Tradisi ini diterima dan diikuti oleh pemedek, baik yang berasal dari tradisi Hindu maupun non-Hindu.
Bagi Jero Mangku I Nyoman Dunia, keberadaan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak selalu berkembang melalui proses pemisahan, tetapi juga melalui perjumpaan, penerimaan, dan penyesuaian. Goa Giri Putri menjadi contoh bahwa perbedaan keyakinan dapat hidup berdampingan ketika masyarakat memiliki kesediaan untuk menghormati tradisi lain.
Baca Juga: 29 Pasang Peserta Adu Cepat di Sungai Perancak, Lomba Sampan Jadi Magnet HUT Kota Negara
“Akulturasi ini mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Justru dari perbedaan itu masyarakat bisa menemukan nilai yang sama, seperti memohon keselamatan, kesehatan, kemakmuran, dan keberhasilan,” katanya.
Pemujaan terhadap Dewi Kwan Im atau Ratu Syahbandar menjadi salah satu gambaran penting mengenai proses tersebut. Dalam tradisi yang berkembang di Goa Giri Putri, Dewi Kwan Im dipahami sebagai sosok yang penuh welas asih, pemurah, serta berkaitan dengan kemakmuran dan perdagangan.
Sementara Pengayengan Altar Dewa Langit yang berasal dari tradisi Tionghoa-Buddha dipercaya berkaitan dengan langit, cuaca, serta keberlimpahan rezeki. Meski sebelumnya tidak dikenal dalam tradisi Hindu masyarakat Karangsari, keberadaannya kemudian diterima sebagai bagian dari ruang spiritual Goa Giri Putri.
Dengan demikian, Pura Goa Giri Putri tidak hanya memiliki arti penting dari perspektif religius, tetapi juga menjadi ruang sosial dan budaya yang memperlihatkan praktik multikulturalisme. Berdampingannya tempat pemujaan Hindu dan Buddha menunjukkan adanya penghormatan terhadap perbedaan, toleransi, serta kemampuan masyarakat dalam menerima unsur budaya baru tanpa harus kehilangan identitas budaya asalnya.
Jero Mangku I Nyoman Dunia menegaskan bahwa pengalaman Goa Giri Putri dapat menjadi pelajaran penting bagi kehidupan masyarakat yang semakin beragam. “Kita boleh berbeda dalam keyakinan dan simbol pemujaan, tetapi tujuan manusia pada dasarnya banyak yang sama, yaitu mencari keselamatan, ketenteraman, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik. Nilai seperti inilah yang harus terus dijaga,” pungkasnya.(dik)
Editor : I Putu Mardika