Tradisi Ngerasakin di Carik: Sesajen Dipersembahkan kepada Jro Sedahan Carik, Sarana Mulai Ayam hing

I Putu Mardika • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 14:40 WIB
Prosesi ritual Ngerasakin di Abian sebagai wujud syukur atas panen berlimpah (ist)
Prosesi ritual Ngerasakin di Abian sebagai wujud syukur atas panen berlimpah (ist)

BALIEXPRESS.ID-Umat Hindu di Bali memiliki ritual khusus yang dihaturkan kepada Jro Sedahan Carik atau Jero Sedahan Abian dalam wujud upacara Ngerasakin. Ritual ini sebagai wujud syukur atas hasil panen yang berlimpah, sehingga memberikan kemakmuran bagi pemilik lahan.

Sekertaris PHDI Buleleng Dr. Nyoman Suardika, M.Fil.H menjelaskan, upacara Ngerasakin merupakan salah satu pemujaan Sang Hyang Sangkara, yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa  sebagai Dewanya tumbuh-tumbuhan. Ini berarti, penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan tak hanya dilakukan saat tumpek wariga semata, tetapi juga dalam upacara ngerasakin.

“Ngerasakin itu sangat lumrah dilakukan oleh petani pemilik lahan kering atau tegalan dan sawah di Buleleng. Sarananya juga beragam. Ada menggunakan suku pat seperti guling, ada juga ayam, bebek dan lainnya,” ungkapnya.

Dalam upacara ini, ada beberapa tahap yang dilaksanakan. Ritual diawali dengan Nunas Tirta Pengelukatan dengan cara Nyonteng atau dengan menggunakan mantram. Dilanjutkan dengan Ngelukat Banten dan Pelinggih Ida Betara termasuk pemimpin upacara dan juga yang melaksanakan upacara dengan tujuan agar bersih atau suci.

Setelah semuanya sudah bersih maka selanjutnya Nuur atau mendak atau memanggil Ida Betara agar berkenan hadir dengan cara memohon atau Ngajum agar beliau berkenan kontak dengan manusia melalui manifestasi-Nya sesuai dengan fungsinya, untuk menyaksikan persembahyangan atau sebagai Pesaksi.

“Saat ngerasakin ada prosesi Ngaturang Piuning ke hadapan Sang Hyang Raditya dan Ibu Pertiwi. Banten yang di gunakan adalah banten Canang Raka, banten Ajuman dan banten Daksina misi segehan,” ungkapnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo Ungkap Potensi Bank Emas, BRI Group Kelola Ekosistem Emas 153 Ton melalui Ekosistem

Kemudian dilanjutkan dengan tahapan Ngadegang (Stiti). Prosesi ini dianalogikan sebagai momen mestanakan Beliau, dalam imajinasi seolah-olah beliau telah duduk pada stananya, dan telah siap menyaksikan dan menerima persembahan upacara yang di suguhkan.

Dalam proses menstanakan ini banten yang dipakai dapat di bagi menjadi dua. Yaitu banten untuk di Pelinggih terdiri dari canang raka tipat kelanan misi taluh abungkul yang merupakan suguhan untuk Dewa Sangkara.

Dan yang kedua adalah banten yang utama atau yang disuguhkan kepada Jero Sedahan Abian atau Jero Sedahan Carik yang terdiri dari banten Pengambean Pengulapan, Banten Sorohan Alit dan Banten Guling. Dimana, alasnya memakai kapar yang terdiri dari Cacahan, Tumpeng Pitu dan Babi Guling yang di hiasi dengan potongan-potongan hati.

Dalam proses Upacara Ngerasakin ada proses Ngayabang. Dimana yang di pakai adalah Sesontengan yang di ikuti dengan Murak atau memotong kepala guling dan memotong keempat kakinya sebagai simbol bahwa persersembahan sudah disuguhkan atau diaturkan.

Dalam Sesontengan dikatakan bahwasanya aturan atau persembahan yang disuguhkan katur atau diterima. “Harapannya agar hasil bumi lebih meningkat lagi dan terhindar dari gangguan manusia, binatang dan penyakit,” paaprnya.

Prosesi selanjutnya adalah Ngamantukang (Pralina). Tahapan ini merupakan proses menghaturkan persembahan untuk memohon agar Beliau berkenan untuk kembali ke Kahyangan karena proses upacara sudah selesai.

Dalam hal ini menggunakan sarana sarana (simbol) arak, berem, maka dalam melakukan tetabuhan dengan tujuan prelina. Caranya dengan terlebih dahulu menuangkan araknya kemudian baru beremnya dengan puja Sesontengan.

Baca Juga: Umpan Balik Penilaian Kompetensi, Proses Penentuan Arah Pengembangan Pegawai Kementerian ATR/BPN

Dilanjutkan dengan proses Ngeluarang dengan memakai Segehan Panca Warna, perlu diingat bahwasanya dalam proses Ngelarang ini merupakan memberikan suguhan kepada Bhuta Kala. Bhuta Kala supaya ikut juga menikmati persembahan Guling ini maka telubih, kuping, layah, kuku kaki dan ekornya di potong untuk di persembahkan ke pada bhuta kala yang di taruh di segehan dan di ayabang/di manterai atau bisa juga memakai Sesontengan.

“Dengan tujuan supaya tidak mengganggu atau merusak abian secara niskala. Sehingga apa yang menjadi tujuan dari pelaksanaan Upacara Ngerasakin bisa terwujud, hidup tentram damai dan hasil yang dicapai bisa menjadi maksimal,” sebutnya.

Setiap kawasan tegalan umumnya memiliki pelinggih yang disebut dengan Jero Sedahan Abian untuk di Ladang atau abian. Sedangkan Jero Sedahan Carik untuk di Sawah. Jero Sedahan Abian dan Jero Sedahan Sawah diyakini berfungsi menjaga atau melindungi atau Ngeraksa Abian dan Carik.

Dikatakan Nyoman Suardika, karena tugasnya menjaga dan melindungi abian atau carik yang menjadi sumber penghasilan petani, maka masyrakat wajib melaksanakan Upacara Ngerasakin. Sebab, jika tidak pernah dilaksanakan, maka diyakini Jro Sedahan Carik atau  Jero Sedahan Abian akan demit atau pelit dengan rejeki, sehingga panen tidak maksimal.

Bahkan, tidak jarang jika ngerasakin kerap dianalogikan  dengan membayar upeti atau disebut dengan Ngaturang Tiga Sana Suku Empat yang menjadi persembahan utamanya adalah Guling Babi.

Baca Juga: BRI Group Borong Enam Penghargaan Internasional dari Finance Asia

Upacara Ngerasakin sebaiknya dilaksanakan bertepatan dengan Tumpek wariga yang dilaksanakan dua puluh lima hari menjelang Galungan yang jatuh pada Sabtu Kliwon Wuku Wariga. Namun dalam pelaksanaan Upacara Ngerasakin disarankan untuk menghindari Pasah dalam Tri Waranya dan yang sering disarankan untuk dilaksanakan adalah beteng maupun kajeng.

Sarana banten yang digunakan dalam Upacara Ngerasakin yaitu Daksina sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada daksina misalnya terdapat kelapa, telor, pisang kayu, tingkih, beras, bija ratus rampak, dan peselan. “Banten daksina menggambarkan badan alam makroskosmos, dalam mithologi bahwa kelapa itu tidak lain wujud makrokosmos atau alam jagad raga karena berasal dari kepala Dewa Brahma,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sarana telor sebagai jantung atau papusuh karena bentuknya menyerupai jantung, tingkih sebagai ungsilan, pangi simbolik sebagai hati karena bentuknya menyerupai hati dan warnanya. Pisang kayu sebagai tulang karena bentuknya seperti tulang.

Bija ratus sebagai jeroan (usus). Kemudian tampak sebagai simbol cakra berputar yang melambangkan hukum alam selalu bergerak. Kemudian sarana peselan melambangkan Panca Dewata.

“Intinya ngerasakin ini memiliki makna ungkapan rasa syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa melalui manifestasinya sebagai Jero Sedahan Abian atau Carik atas segala karunianya, berupa hasil bumi yang melimpah ruah,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Ngerasakin Jero Sedahan Carik tumbuh-tumbuhan Wujud Syukur