BALIEXPRESS.ID – Bagian Organisasi Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bangli melakukan penyaduran naskah manuskrip kuno berupa lontar. Program tersebut dimulai tahun ini.
Kasubag Perpustakaan Bagian Organisasi Setda Bangli, I Wayan Suparman, mengatakan penyaduran dilakukan sebagai upaya melestarikan naskah kuno yang masih tersimpan di masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, pihaknya bekerja sama dengan penyuluh bahasa Bali yang tersebar di masing-masing desa.
Baca Juga: Viral! Sumber Air Telaga Tunjung Tabanan Mengering, Ternyata BWS Lakukan Pemeliharaan
Hasil saduran akan menjadi koleksi perpustakaan sehingga bisa dibaca masyarakat umum.
“Kami kerja sama dengan penyuluh bahasa Bali. Hasilnya kami jadikan koleksi di perpustakaan,” kata Suparman ditemui belum lama ini.
Menurutnya, penyuluh bahasa Bali dipilih karena dinilai memiliki kemampuan dalam melakukan penyaduran.
Baca Juga: Atlet IODI Tabanan Bawa Pulang 4 Medali dari Kejurnas 2026
Mereka sekaligus mengetahui keberadaan lontar di masyarakat karena sering melakukan kegiatan konservasi naskah lontar di sejumlah wilayah.
Suparman menjelaskan, naskah yang disadur tidak hanya berasal dari lembaga atau kelompok, tetapi juga dapat berupa lontar milik pribadi.
Baca Juga: Singgung Kulkul Bulus, Parta Minta Kasus Juwuk Legi Ditangani Secara Proporsional
Dalam hasil saduran nantinya akan dicantumkan identitas pemilik asli, lokasi penyimpanan naskah, serta nama pihak yang melakukan penyaduran.
“Kalau misalnya ada yang ingin mencari yang asli bisa lebih mudah,” jelasnya.
Untuk tahun pertama, penyaduran direncanakan dilakukan terhadap lontar milik pribadi di Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, namun naskah yang disadur dibatasi maksimal 100 lembar lontar.
Jika naskahnya kurang dari itu, maka akan mencari tambahan naskah di lokasi lain.
Suparman menyebut keterbatasan anggaran membuat program tahun ini masih dalam skala terbatas.
Dana yang disiapkan sekitar Rp10 juta. Padahal apabila anggaran tercukupi, pihaknya mempertimbangkan pengembangan program seperti alih aksara, alih bahasa, dan digitalisasi naskah.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas upaya pelestarian sekaligus membuat isi manuskrip kuno lebih mudah diakses. "Sekarang baru program penyaduran,” ujarnya.
Suparman menambahkan, pihaknya belum menentukan jenis lontar yang akan menjadi fokus penyaduran.
Naskah yang disasar masih bersifat umum, baik lontar Usada maupun jenis naskah lainnya. (*)
Editor : I Made Mertawan