BALIEXPRESS.ID-Pengetahuan pengobatan tradisional Bali tidak hanya diwariskan melalui praktik secara turun-temurun, tetapi juga terdokumentasi dalam berbagai naskah lontar. Salah satunya adalah Lontar Usada Tenung Tanyalara, yang memuat pengetahuan mengenai penyakit, cara mendiagnosis, hingga ramuan yang digunakan untuk pengobatan tradisional masyarakat Bali.
Lontar Usada Tenung Tanyalara menjadi salah satu sumber pengetahuan usada Bali yang masih menarik untuk dikaji. Naskah ini antara lain memuat diagnostik penyakit berdasarkan hari, khususnya perpaduan panca wara dan sapta wara. Selain diagnosis, lontar tersebut juga menjelaskan cara penyembuhan berbagai penyakit dan gangguan kesehatan, seperti panas dalam, tidak mau makan, batuk atau cekehan, sakit gigi, sakit perut, hingga penyakit yang dalam pengetahuan tradisional dikaitkan dengan desti.
Akademisi Ayurweda Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Dr. Ida Bagus Suatama, M.Si., mengatakan pengetahuan mengenai tanaman obat dalam Usada Tenung Tanyalara menunjukkan kekayaan pengetahuan kesehatan masyarakat Bali pada masa lalu.
Menurutnya, setidaknya 104 jenis tanaman yang tercantum dalam Usada Tenung Tanyalara telah diketahui nama ilmiahnya dan memiliki potensi khasiat dalam pengobatan berbagai penyakit maupun gangguan kesehatan. Tanaman tersebut antara lain berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan, saluran pencernaan, kondisi demam, batuk, serta gangguan pada kulit.
Baca Juga: BRI Tegaskan Komitmen Jaga Shareholder Return di Tengah Akselerasi Pertumbuhan Bisnis
“Usada Tenung Tanyalara mengulas tanaman obat yang terdapat di dalamnya dan dapat digolongkan menjadi empat kelompok penyakit, yaitu berbagai keadaan demam, sakit pada ulu hati, cekehan atau batuk, dan bengkak pada kulit,” ujar Suatama.
Dalam ramuan yang disebutkan dalam lontar tersebut terdapat sejumlah tanaman, di antaranya ketumbar, bawang merah, kunyit, adas, gamongan, asam, bawang putih, kencur, merica, pulasari, sintok, dan pala. Khusus untuk gangguan cekehan atau batuk, salah satu bahan yang disebut adalah temu tin.
Selain temu tin, ramuan untuk cekehan juga menggunakan putih telur ayam mentah dan santan dari kelapa yang berkulit hijau. Pengobatan dilakukan secara bertahap dan dalam praktik usada juga disertai dengan penggunaan mantra.
Salah satu mantra yang tercantum dalam pengobatan tersebut berbunyi, “Om idup putih da konkon kita, ayo langgana anambanin lara dugalan lampeten, panas cekehan, ompeten panas cekehan, nanah mendadi terik, wus karinget dadi uyuh terima adwas.”
Suatama menjelaskan, tanaman temu putih juga menjadi salah satu tanaman obat yang dikenal dalam pengetahuan Usada Tenung Tanyalara. Tanaman ini dapat ditanam sebagai tanaman obat dan dapat pula ditemukan tumbuh liar di tempat terbuka dengan kondisi tanah lembap. Secara fisik, temu putih memiliki kemiripan dengan temulawak, tetapi dapat dibedakan berdasarkan karakter rimpangnya.
“Khasiat temu putih yang tercantum dalam ramuan Usada Tenung Tanyalara berkhasiat sebagai obat batuk atau cekehan,” jelasnya.
Menurut Suatama, secara farmakologis temu putih juga diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi. Kondisi inflamasi atau peradangan pada saluran pernapasan dapat berkaitan dengan munculnya gejala batuk yang biasanya disertai sekresi mukosa atau dahak.
Tidak hanya untuk batuk, temu putih dalam pengetahuan pengobatan tradisional juga memiliki berbagai kegunaan lain. Tanaman tersebut secara tradisional digunakan untuk membantu mengatasi kudis, radang kulit, perut kembung, serta gangguan pada saluran pencernaan. Temu putih juga dikenal dalam pengobatan tradisional sebagai bahan untuk membantu membersihkan darah dan sebagai tonik setelah masa nifas.
Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau, 13.000 Penumpang Terdampak dan 108 Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Bali Bata
Rimpang temu putih memiliki rasa sangat pahit dan pedas, dengan sifat hangat serta aroma yang khas. Dalam pengetahuan pengobatan tradisional, tanaman ini dikaitkan dengan fungsi menyehatkan darah, menghilangkan sumbatan, membantu memperlancar sirkulasi energi, serta mengurangi rasa nyeri.
Pengolahannya sebagai bahan obat dilakukan dengan cara diparut atau dihaluskan maupun direbus. Hasil parutan atau rebusan kemudian dapat dicampurkan dengan bahan lain sesuai dengan ramuan yang digunakan.
“Kemudian hasil parutan atau rebusan dari temu putih tersebut dicampur dengan bahan lainnya sehingga dapat meredakan penyakit batuk,” paparnya.
Selain temu putih, kelapa juga disebut dalam Usada Tenung Tanyalara sebagai salah satu bahan yang memiliki khasiat tertentu. Dalam pengetahuan tradisional, kelapa digunakan untuk berbagai kondisi seperti demam panas, demam disertai kegelisahan, nyeri, berkeringat, panas dingin, hingga perut kembung.
“Kelapa biasanya digunakan sebagai obat demam panas, batuk dan gelisah. Bahan obat yang digunakan adalah beras setangkup tangan diisi air, digosok dengan sepotong kelapa, kemudian airnya diminum,” ungkapnya.
Batuk atau cekehan selama ini mungkin dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan. Namun, batuk yang berlangsung lama perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi gejala dari penyakit tertentu.
Suatama menjelaskan, secara medis batuk secara umum dapat dibedakan menjadi batuk berdahak dan batuk tidak berdahak atau batuk kering. Batuk berdahak biasanya berkaitan dengan adanya produksi lendir atau dahak pada saluran pernapasan. Sementara batuk kering dapat terjadi akibat iritasi pada tenggorokan maupun kondisi lain yang tidak menghasilkan sekresi saluran napas dalam jumlah berarti.
Batuk dapat disebabkan oleh penyakit infeksi maupun noninfeksi. Penyebab infeksi dapat berupa bakteri atau virus, seperti tuberkulosis (TB), influenza, campak, dan pertusis atau batuk rejan. Sementara penyebab noninfeksi dapat berupa paparan debu, asma, alergi, makanan yang mengiritasi tenggorokan, maupun kebiasaan merokok.
Batuk juga dapat menjadi gejala gangguan pada saluran pernapasan seperti bronkitis dan pneumonia. Karena itu, tidak semua jenis batuk tepat ditangani hanya dengan pengobatan mandiri.
Beberapa kondisi memerlukan pemeriksaan tenaga kesehatan. Batuk yang berlangsung lebih dari tiga minggu, misalnya, perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi salah satu gejala tuberkulosis. Demikian pula batuk yang berkaitan dengan asma dapat disertai penyempitan saluran napas, produksi mukus berlebih, sesak, atau mengi.
Pada penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), batuk produktif juga dapat berlangsung dalam jangka panjang. Sementara pneumonia merupakan infeksi atau peradangan paru yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri Streptococcus pneumoniae.
“Berkonsultasi dengan tenaga medis secara tepat penting dilakukan karena kondisi tersebut dapat berbahaya bagi pasien yang menderita,” pungkas Suatama.(dik)
Editor : I Putu Mardika