20 Tahun Berlalu, Penyungsung Pura Tuluk Biyu Batur Kembali Gelar Madewasraya

I Made Mertawan • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 06:51 WIB
Penyungsung Pura Tuluk Biyu, Batur melaksanakan serangkaian upacara Madewasraya,  Jumat (11/9/2026). (I Made Mertawan/Bali Express)
Penyungsung Pura Tuluk Biyu, Batur melaksanakan serangkaian upacara Madewasraya,  Jumat (11/9/2026). (I Made Mertawan/Bali Express)

BALIEXPRESS.ID- Pelaksanaan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat di Pura Tuluk Biyu Batur, Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli, berlangsung berbeda tahun ini.

Penyungsung pura juga melaksanakan upacara Madewasraya yang ditujukan kepada Ida Bhatara yang berstana di Gunung Abang, Kintamani.

Palinggih Dane Jero Kelodan mengatakan, Madewasraya dilaksanakan sebagai upaya niskala menyikapi berbagai bencana dan situasi yang dinilai tidak kondusif dalam beberapa tahun terakhir, di antaranya pandemi Covid-19, perang di sejumlah negara yang turut berdampak terhadap masyarakat, serta berbagai bencana alam.

Baca Juga: Pemilik Videotron di Penelokan Kintamani Buka Suara soal Izin dan Tujuan Pembangunan

Situasi tersebut menjadi pertimbangan penyungsung Pura Tuluk Biyu untuk melaksanakan Madewasraya.

Menurutnya, pentingnya menggelar Madewasraya tercatat dalam Prasasti Lempengan VI.b pada masa pemerintahan Raja Sri Dharmmodayana Warmadewa.

Ia menyebutkan, upacara serupa terakhir kali dilaksanakan pada 2006. Saat itu, pelaksanaan Madewasraya juga berkaitan dengan situasi bencana dan kondisi yang tidak kondusif, di antaranya Bom Bali I dan II.

Baca Juga: Didukung Kolaborasi Lintas Sektor, Penetapan LP2B Nasional Capai 87,52%

“Saat ini berdasarkan inisiasi penyungsung karena adanya bencana alam, perang,

patut dilaksanakan Madewasraya,” katanya didampingi Palinggih Dane Jero Kaleran dan lainnya ditemui di Pura Tuluk Biyu, Jumat (11/9/2026).

Baca Juga: Menteri Nusron Peringatkan Pengusaha: Kebakaran Lahan Dapat Batalkan HGU

Dalam pelaksanaannya, upacara tersebut menggunakan sejumlah sarana, di antaranya 13 ekor kerbau, tiga ekor sapi, dan 15 ekor kambing. Selain itu, disiapkan pula berbagai sarana upacara lainnya.

Rangkaian upacara telah dimulai sejak 28 Agustus lalu. Puncaknya dijadwalkan berlangsung pada 26 September mendatang.

Melalui pelaksanaan upacara tersebut, penyungsung berharap alam semesta berada dalam keadaan  damai, masyarakat terbebas dari perang maupun bencana.

Sementara itu, Ketua Panitia Karya I Wayan Gunawan menyampaikan terima kasih  kepada Pemprov Bali, wali kota dan bupati se-Bali yang memberikan dukungan. Berkat dukungan itu, karya agung ini dapat dilaksanakan. 

Melalui karya ini umat sedharma diharapkan tercipta kedamaian dan keselamatan jagat raya. (*)

Editor : I Made Mertawan
Upacara Madewasraya Kintamani batur Pura Tuluk Biyu