Tradisi Nyuun Ancak di Desa Kedisan, Dilaksanakan Empat Tahun Sekali

I Putu Mardika • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 19:35 WIB
Tradisi Nyuun ancak di Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Bangli
Tradisi Nyuun ancak di Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Bangli

BALIEXPRESS.ID-Masyarakat Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, memiliki tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun, yakni Tradisi Nyuun Ancak. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual adat, tetapi juga memiliki makna historis sebagai bentuk penghormatan kepada saudara-saudara dari luar yang datang dan menetap di Desa Kedisan.

Tokoh adat Desa Kedisan, I Gede Putrayasa Tangkas, menjelaskan, kedatangan masyarakat dari luar desa pada masa lalu memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan kehidupan masyarakat Kedisan.

Setelah menetap, mereka kemudian diberikan panggilan sesuai sistem kekerabatan Bali, yakni Putu, Made, Komang, dan Ketut. Tradisi Nyuun Ancak menjadi salah satu bentuk penghormatan atas kesediaan mereka menjadi bagian dari masyarakat desa.

Dalam pelaksanaannya, ancak berisi hasil-hasil yang ada di Desa Kedisan untuk dipersembahkan dalam upacara. Namun, mengenai banten Nyuun Ancak, terdapat aturan khusus. Banten tersebut telah dipingit sehingga hanya orang tertentu, seperti pemangku atau penyarikan, yang diperbolehkan memegangnya. Makna isi banten juga hanya dipahami oleh mereka yang menguasai sastra Bali.

Tradisi Nyuun Ancak dilaksanakan setiap empat tahun sekali, bertepatan dengan Purnama Sasih Kedasa. Pelaksanaannya berlangsung selama tujuh hari atau lebih, dengan waktu menyesuaikan rangkaian upacara. Prosesi dimulai dari rumah masyarakat, kemudian menuju Pura Desa dan dilanjutkan ke Pura Dalam Pingit Pakraman Kedisan.

Baca Juga: Guru Agama Hindu Kurang, Wali Kelas di SDN 4 Panji Rangkap Mengajar

“Setiap ancak hanya berisi satu jenis hasil desa dan menjadi tanggung jawab masyarakat untuk membawanya. Ancak tersebut tidak boleh sampai jatuh. Apabila terjatuh, pengayah wajib nunas ampura ke pura,” paparnya.

Selama perjalanan, para pengayah berjalan di atas kain putih dan tidak diperbolehkan keluar dari jalur tersebut. Prosesi juga diiringi gambelan serta bunyi kulkul khusus yang menjadi penanda berlangsungnya upacara. Kulkul dipukul oleh orang pilihan dengan ketukan tertentu.

Sesampainya di pura, ancak dikumpulkan di Bale Pesipelan untuk disimpan hingga rangkaian upacara selesai. Tradisi ini terbuka untuk masyarakat umum, namun peserta tetap harus memenuhi ketentuan kesucian. Wanita hamil dan anak-anak yang belum putus gigi tidak diperbolehkan mengikuti prosesi sebagai bagian dari aturan adat. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Tradisi Nyuun Ancak Kintamani bangli desa kedisan