Tradisi Memalang-Malangan di Desa Adat Mantring, Diwarnai Megibung dan Mepantig

I Putu Mardika • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 17:47 WIB
Tradisi Memalang-Malangan di Desa Adat Mantring
Tradisi Memalang-Malangan di Desa Adat Mantring

BALIEXPRESS.ID-Desa Adat Mantring, Banjar Mantring, Desa Petak Kaja, Kecamatan Gianyar, memiliki tradisi unik yang dilaksanakan setiap tahun saat Purnama Keenam. Tradisi yang dikenal dengan nama Memalang-Malangan tersebut menjadi bagian dari rangkaian piodalan di Pura Puseh sekaligus wujud syukur masyarakat atas keberlimpahan hasil pertanian.

Tokoh adat Desa Adat Mantring, I Nyoman Payu, mengatakan Memalang-Malangan memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kehidupan dan hasil pertanian yang diberikan kepada masyarakat.

“Memalang-Malangan ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat karena pertanian sudah menghasilkan dan subur. Malang dalam istilah kami berarti pembagian makanan, sehingga Memalang-Malangan berarti melakukan pembagian makanan,” ujarnya.

Tradisi tersebut juga bertujuan untuk menyucikan Ida Betara Ulu Tambun. Pelaksanaannya dilakukan satu kali dalam setahun dan berlangsung pada malam hari, sekitar pukul 00.00 Wita. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Sesuhunan berkepala empat tidak berani menampakkan diri ketika suasana terang sehingga prosesi dilakukan pada tengah malam.

Baca Juga: Tirta Gangga Art Festival 2026, Sepekan Pesta Seni dan Budaya Bali di Karangasem

Sebelum Ida Betara menuju Tegal Suci, masyarakat laki-laki melaksanakan megibung atau makan bersama. Makanan disajikan di atas daun pisang utuh yang tidak dipotong. Terdapat sekitar 40 hingga 45 gibung yang diikuti masyarakat asli Desa Adat Mantring yang berjumlah sekitar 40-45 kepala keluarga.

Makanan yang disajikan berupa nasi, daging babi, serta sate yang diambil dari lungsuran babi. Setelah megibung, Ida Betara kemudian tedun lunga menuju Tegal Suci yang berada di sebelah barat Pura Ulun Suwi, tepat di kawasan perbatasan Desa Petak.

Perjalanan menuju Tegal Suci diiringi gong baleganjur. Masyarakat yang menyungsung Ida Betara berjalan dan berlari hingga kemudian berlangsung tradisi Mepantig, berupa keributan atau perkelahian antarmasyarakat.

Menurut Payu, Mepantig dilakukan dalam suasana sakral. Sebagian peserta dapat melakukannya dalam kondisi sadar maupun tidak sadar. Namun, setelah prosesi berakhir, tidak ada rasa dendam di antara peserta.

“Setelah selesai, tidak ada rasa dendam. Ini bagian dari tradisi dan rangkaian upacara,” katanya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Desa Adat Mantring Memalang-Malangan gianyar tradisi