BALIEXPRESS.ID-Tradisi ayunan atau maayunan yang terdapat di Banjar Adat Bangbang, Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, menjadi salah satu permainan rakyat yang masih bertahan hingga kini.
Ayunan tradisional tersebut konon telah ada sejak sekitar tahun 1940. Keberadaannya tidak hanya menjadi sarana hiburan masyarakat, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai sosial, spiritual, dan kultural. Tradisi maayunan secara khusus kembali dihidupkan ketika masyarakat merayakan Hari Raya Galungan, Umanis Galungan, dan Kuningan.
Tokoh Adat Banjar Bangbang, Wayan Kertayasa, mengatakan keberadaan ayunan tersebut telah melewati perjalanan panjang. Pada awalnya, sekitar tahun 1940, pengelolaan ayunan dilakukan oleh kelompok masyarakat yang disebut Sekaa Ayunan. Kelompok tersebut memiliki tanggung jawab untuk merawat dan menghidupkan tradisi permainan ayunan dalam kehidupan masyarakat.
“Konon ayunan ini sudah ada sejak tahun 1940. Waktu itu pengelolaannya dilakukan oleh kelompok yang disebut Sekaa Ayunan. Kemudian sejak tahun 1950-an, pengelolaannya mulai dilakukan oleh anggota banjar sampai sekarang,” ujar Wayan Kertayasa.
Menurutnya, perubahan pengelolaan dari Sekaa Ayunan menjadi tanggung jawab anggota banjar menunjukkan adanya proses pelembagaan tradisi dalam kehidupan sosial masyarakat. Ayunan yang sebelumnya dikelola oleh kelompok khusus kemudian menjadi bagian dari tanggung jawab bersama masyarakat banjar. Dengan demikian, keberadaan ayunan tidak lagi menjadi milik kelompok tertentu, tetapi menjadi warisan komunal yang dipelihara secara bersama-sama.
Baca Juga: Tradisi Memalang-Malangan di Desa Adat Mantring, Diwarnai Megibung dan Mepantig
Hingga kini, struktur ayunan masih dapat digunakan karena mendapatkan perawatan secara berkelanjutan. Salah satu material utama yang digunakan adalah kayu nangka atau ketewel. Kayu tersebut dikenal memiliki karakter kuat dan padat sehingga mampu bertahan dalam waktu yang panjang.
“Walaupun usianya sudah puluhan tahun, ayunan ini belum ada yang rusak. Yang diperbaiki atau direnovasi paling hanya bangunan dan guling-gulingnya saja,” ungkap Wayan Kertayasa.
Ketahanan ayunan tersebut menjadi bukti adanya pengetahuan masyarakat dalam memilih material sekaligus merawat warisan budaya. Perawatan dilakukan agar struktur utama tetap dapat digunakan ketika tradisi maayunan kembali dilaksanakan pada momentum hari raya.
Selain kayu nangka, dalam konstruksi ayunan juga digunakan bahan-bahan alami lainnya. Struktur gulungan atau sumbu utama menggunakan kayu manggis yang dikenal kuat dan tahan lama. Bagian pewidang atau pengait menggunakan kayu kelapa yang memiliki sifat lentur tetapi tetap kokoh. Sementara papan tempat duduk menggunakan kayu nangka atau ketewel.
“Dari dahulu masyarakat sudah mengetahui bahan yang cocok digunakan untuk ayunan. Kayu yang dipilih memang harus kuat karena digunakan berulang kali dan harus mampu bertahan lama. Sampai sekarang material tersebut masih dipertahankan,” jelasnya.
Tradisi maayunan memiliki hubungan erat dengan perayaan Galungan. Dalam tradisi Hindu Bali, Galungan dimaknai sebagai kemenangan Dharma atas Adharma. Perayaan tersebut tidak hanya diisi dengan kegiatan persembahyangan, tetapi juga berbagai aktivitas sosial dan budaya yang mempertemukan masyarakat.
Maayunan menjadi salah satu ruang perjumpaan tersebut. Ketika ayunan dipasang, masyarakat dari berbagai kelompok usia berkumpul untuk mempersiapkan sekaligus menyaksikan permainan. Kaum pria dewasa biasanya bergotong royong menyiapkan struktur ayunan, mulai dari pengumpulan bahan, perakitan kerangka, pemasangan tali hingga memastikan ayunan dapat digunakan dengan aman.
“Persiapan ayunan dilakukan secara bersama-sama. Ada yang menyiapkan bahan, merakit, memasang tali, dan mengecek kondisi ayunan. Gotong royong ini penting karena ayunan merupakan milik bersama banjar,” katanya.
Baca Juga: Tanpa Traffic Light, Pemkab Badung Rancang Penataan Arus Lalu Lintas Bandara Ngurah Rai
Dalam pelaksanaannya, anak-anak menjadi peserta utama. Mereka umumnya berasal dari usia sekolah dasar hingga remaja awal. Anak-anak duduk pada papan ayunan berbentuk balok memanjang, kemudian didorong dari belakang atau samping oleh remaja maupun orang dewasa.
Remaja dan orang dewasa lebih banyak berperan sebagai nulak ayunan, yaitu mendorong ayunan, mengatur giliran peserta, serta membantu mengawasi permainan. Anak-anak lebih dominan karena secara teknis memiliki berat badan yang lebih sesuai dengan kapasitas struktur ayunan. Selain itu, secara sosial, sebagian remaja merasa malu untuk ikut bermain karena maayunan dianggap lebih identik dengan aktivitas anak-anak.
“Anak-anak memang paling banyak menggunakan ayunan. Remaja biasanya membantu nulak atau mendorong. Orang dewasa juga ikut mengatur giliran dan mengawasi anak-anak supaya permainan berjalan dengan baik,” ungkap Wayan Kertayasa.
Permainan dimulai dengan menentukan giliran peserta. Setelah anak-anak duduk di papan ayunan dan berpegangan dengan baik, dorongan awal dilakukan secara perlahan. Setelah gerakan ayunan stabil, dorongan dapat dilakukan lebih kuat sehingga ayunan bergerak semakin tinggi.
Suasana di sekitar ayunan pun semakin meriah. Anak-anak tertawa dan bersorak ketika ayunan bergerak. Masyarakat yang menyaksikan turut memberikan sorakan dan candaan. Tidak jarang suasana juga diiringi nyanyian rakyat maupun ekspresi spontan dari warga yang berkumpul.
Menariknya, permainan maayunan tidak memiliki unsur kompetisi. Tidak terdapat pemenang maupun peringkat. Nilai utama yang terkandung di dalamnya adalah kegembiraan, kebersamaan, serta interaksi sosial antarmasyarakat.
Tradisi ini menjadi ruang pewarisan nilai antargenerasi. Anak-anak memperoleh pengalaman langsung mengenai permainan tradisional, sementara generasi dewasa menjalankan tanggung jawab untuk menjaga sarana dan keberlangsungannya. Gotong royong dalam mempersiapkan ayunan juga memperkuat solidaritas sosial masyarakat banjar.
Wayan Kertayasa berharap tradisi tersebut tetap dipertahankan meskipun masyarakat kini menghadapi perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi.
“Harapan kami tradisi ini tetap ada dan bisa diwariskan kepada anak-anak. Jangan sampai mereka hanya mengenal permainan dari teknologi. Ayunan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bangbang sejak dahulu, sehingga harus tetap dirawat dan dilestarikan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika