BALIEXPRESS.ID-Banjar Adat Sabang, Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, memiliki warisan budaya sakral yang hingga kini tetap dijaga keberadaannya. Salah satunya adalah Tari Baris Paku, yang oleh masyarakat setempat juga dikenal sebagai bagian dari kelompok Tari Baris Bunga.
Tarian ini tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi berkaitan erat dengan kehidupan spiritual dan adat masyarakat Banjar Adat Sabang. Menurut tokoh adat I Made Kopeng, Tari Baris Paku dipercaya telah ada sejak masa leluhur sekitar abad ke-17 hingga 18, ketika masyarakat mengalami peristiwa bencana alam.
“Menurut cerita yang diwariskan para leluhur, tarian ini diciptakan sebagai respons terhadap kejadian alam yang terjadi pada masa lampau. Ada keyakinan bahwa melalui tarian ini masyarakat memohon keseimbangan dan keselamatan,” ujar I Made Kopeng.
Dalam kepercayaan masyarakat, Tari Baris Paku menjadi media untuk menghubungkan Bhuana Agung atau alam semesta dengan Bhuana Alit atau manusia. Gerakan tarian menjadi bagian dari ritual untuk memohon keharmonisan antara kehidupan manusia, alam, dan kekuatan niskala.
Sebelum dipentaskan, para penari terlebih dahulu mengikuti sejumlah prosesi, seperti Matur Piuning, sembahyang, Ngaturang Segehan Agung, serta Nuwur Tirta Pangrapuh.
Tirta yang digunakan dipercaya menjadi sumber taksu bagi para penari. Penari juga memiliki pantangan, salah satunya tidak mengonsumsi daging babi sehari sebelum pementasan.
Tari Baris Paku hanya dipentaskan pada tempat dan momentum tertentu, terutama berkaitan dengan piodalan, penolak bala, maupun pelaksanaan yadnya. Beberapa pura yang menjadi tempat pementasan antara lain Pura Taman Sari Klansang, Pemangkalan Agung, Pura Jero Kelodan, Pura Jero Kajanan, Pura Bukit Tegeh, Pura Dadia Tangkas Kori Agung, Pura Batur, dan Pura Penulisan.
Baca Juga: Tradisi Mapeed Desa Adat Sukawati, Berjalan Beriringan Mendak Tirtha, Ada Sejak Abad ke-18
Tarian ini juga dapat dipentaskan di Pura Sad Kahyangan dan Kahyangan Jagat dengan ketentuan upacara tertentu.
Sebaliknya, Tari Baris Paku tidak dipentaskan di Kahyangan Tiga maupun merajan keluarga. Pementasannya diiringi Gong Kebyar.
Dari sisi busana, penari mengenakan celana panjang putih, kamen putih, badong, serta pakaian berbahan daun paku pahid dan paku Bali. Topi berbentuk kerucut dari anyaman daun paku menjadi ciri khas lainnya.
"Penari juga membawa keris sebagai simbol keberanian dan semangat kepahlawanan," imbuhnya.
Hingga kini, masyarakat Banjar Adat Sabang tetap mempertahankan pakem tarian, mulai dari busana, gerakan, hingga tata cara pementasan. Pelestarian tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus menjaga nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. (dik)
Editor : I Putu Mardika