BALIEXPRESS.ID-Masyarakat Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, memiliki tradisi unik yang menjadi bagian dari pelaksanaan Aci Tabuh Rah Pengangon. Tradisi tersebut berupa Peed Aci Tabuh Rah Pengangon, yakni arak-arakan masyarakat yang berjalan bersama dari Pura Purusada menuju Pura Desa lan Puseh Desa Adat Kapal.
Bagi masyarakat Kapal, peed bukan sekadar kegiatan berjalan beriringan. Di dalamnya terdapat nilai agama, kebersamaan, sejarah, serta penghormatan terhadap warisan leluhur. Tradisi ini juga menjadi salah satu cara masyarakat menjaga agar cerita tentang Aci Tabuh Rah Pengangon tetap diketahui generasi muda.
Jero Mangku Pura Purusada Desa Adat Kapal, I Nyoman Sudira mengatakan, peed secara sederhana berarti arak-arakan atau barisan masyarakat yang berjalan bersama dalam sebuah rangkaian upacara. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berjalan dengan tertib sambil membawa berbagai perlengkapan dan simbol yang berkaitan dengan upacara.
“Peed itu artinya arak-arakan atau barisan yang berjalan bersama. Dalam upacara agama Hindu di Bali, mapeed merupakan salah satu bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kita berjalan bersama dengan tertib sambil membawa simbol-simbol suci sesuai dengan urutan upacaranya,” ujar Jero Mangku Sudira.
Tradisi mapeed sebenarnya sudah sangat akrab bagi masyarakat Desa Adat Kapal. Hampir setiap pelaksanaan odalan atau pujawali di Pura Kahyangan Tiga maupun Pura Purusada, masyarakat melaksanakan mapeed. Namun, menurut Jero Mangku Sudira, Peed Aci Tabuh Rah Pengangon memiliki bentuk yang lebih lengkap dibandingkan peed pada upacara lainnya.
“Kalau peed pada saat piodalan biasanya lebih sederhana. Ada yang membawa gebogan atau aturan, kemudian diikuti balaganjur. Tetapi kalau Peed Aci Tabuh Rah Pengangon, susunan barisannya lebih banyak dan lengkap. Peed ini hanya dilaksanakan ketika Aci Tabuh Rah Pengangon,” jelasnya.
Peed tersebut dilaksanakan setahun sekali, tepatnya pada Purnama Sasih Kapat atau sekitar Oktober. Prosesi dimulai dari Pura Purusada. Selanjutnya, seluruh rombongan berjalan menuju Pura Desa lan Puseh Desa Adat Kapal yang menjadi tempat dilaksanakannya Aci Tabuh Rah Pengangon.
Sebelum berangkat, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti sejumlah prosesi di Pura Purusada. Diawali dengan mapakeling, kemudian memohon tirta dan melakukan persembahyangan bersama. Setelah seluruh rangkaian selesai, rombongan bersiap untuk mapeed.
Baca Juga: Dewi Yuali, Istri Kapolri Suyudi Ario Seto yang Ternyata Satu Angkatan di Akpol
Prosesi mapeed diawali dengan Topeng Panuntun. Topeng tersebut mulai menari di jaba Pura Purusada dengan diiringi gong suling. Melalui gerak tari dan dialog, topeng menceritakan alasan dilaksanakannya prosesi memohon wangsuh pada dan memendak wangsuh pada di Pura Purusada.
“Topeng panuntun ini yang mengarahkan jalannya peed. Sebelum berangkat, topeng menyampaikan cerita singkat mengenai prosesi yang dilakukan di Pura Purusada. Setelah wangsuh pada selesai dimohonkan, seluruh peserta kemudian diarahkan untuk berbaris dan berjalan menuju Pura Desa lan Puseh,” kata Jero Mangku.
Peed Aci Tabuh Rah Pengangon memiliki susunan barisan yang cukup panjang. Setelah Topeng Panuntun, terdapat bandrang, kober, umbul-umbul dan tedung. Berikutnya ada iringan gong suling dan barisan 17 sekaa teruna dari seluruh wilayah Desa Adat Kapal.
Setelah itu, terdapat barisan pembawa dupa dan pasepan, kemudian Tirta Pura Purusada. Tirta tersebut terdiri atas Tirta Manik Galih dan Luhur Candi Raras Pura Purusada. Barisan selanjutnya terdiri atas pamangku dan juru kidung.
Iringan kemudian dilanjutkan dengan penari Baris dan Rejang Aci Tabuh Rah Pengangon. Sebanyak 11 penari Baris dan 11 penari Rejang ikut dalam barisan tersebut. Berikutnya terdapat pengayah Aci Tabuh Rah Pengangon yang terdiri atas 33 orang laki-laki dan 33 orang perempuan.
Baca Juga: Pir Kukus untuk Batuk? Ini Tradisi dan Fakta yang Perlu Diketahui
Barisan kemudian diikuti pengusung aturan tipat bantal krama dan ditutup dengan balaganjur. Seluruh barisan tersebut bergerak bersama menuju Pura Desa lan Puseh.
Menurut Jero Mangku Sudira, setiap bagian dalam barisan memiliki fungsi masing-masing. Karena itu, tidak semua unsur tersebut ditemukan dalam peed pada upacara lain di Desa Adat Kapal.
“Susunan ini memang khusus untuk Peed Aci Tabuh Rah Pengangon. Ada penari, pengayah, sekaa teruna, tirta, sampai aturan yang dibawa masyarakat. Semua menjadi satu kesatuan dalam rangkaian upacara,” ungkapnya.
Ketika rombongan masih dalam perjalanan, di jaba Pura Desa lan Puseh telah bersiap Topeng Panyanggra. Topeng tersebut menjadi bagian dari cerita yang berhubungan dengan prosesi di Pura Purusada.
Setibanya rombongan di depan Pura Desa lan Puseh, Topeng Panuntun kemudian bertemu dengan penari topeng panyanggra. Keduanya berdialog mengenai perjalanan nunas tirta dan prosesi yang telah dilakukan.
“Di Pura Desa lan Puseh nanti ada topeng panyanggra yang menyambut. Ada dialog tentang perjalanan nunas tirta dan makna peed. Jadi ceritanya sambung dari Pura Purusada sampai ke Pura Desa lan Puseh,” jelasnya.
Bagi masyarakat, bagian tersebut menjadi penting karena peed tidak hanya menjadi arak-arakan. Melalui dialog dan cerita yang disampaikan topeng, masyarakat kembali diingatkan mengenai sejarah Aci Tabuh Rah Pengangon.
Jero Mangku Nyoman Sudira menjelaskan, dimulainya prosesi dari Pura Purusada juga memiliki kaitan dengan sejarah Aci Tabuh Rah Pengangon. Menurut cerita yang diwariskan masyarakat, awal pelaksanaan upacara tersebut berkaitan dengan turunnya wahyu kepada Patih Kebo Iwa untuk melaksanakan Aci Tabuh Rah Pengangon.
Baca Juga: MK Tuntaskan Sidang Syarat Pendidikan Gibran, Putusan Kini Dinanti
“Karena itu, perjalanan dari Pura Purusada menuju Pura Desa lan Puseh mempunyai makna. Ada sejarah yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Jadi bukan hanya berjalan, tetapi ada cerita dan pesan yang dibawa dalam perjalanan tersebut,” tuturnya.
Selain memiliki nilai keagamaan dan sejarah, Peed Aci Tabuh Rah Pengangon juga memperkuat hubungan sosial masyarakat. Berbagai unsur masyarakat terlibat dalam pelaksanaannya. Mulai dari sekaa teruna, penari, pengayah, pamangku, juru kidung hingga masyarakat yang membawa sarana upacara.
Keterlibatan tersebut membuat masyarakat memiliki ruang untuk belajar dan bekerja bersama. Anak-anak muda juga tidak hanya menjadi penonton. Mereka ikut menjadi bagian dari sekaa yang menjalankan tradisi tersebut.
“Saat prosesi dilaksanakan, masyarakat berkumpul dan bekerja bersama. Generasi muda juga ikut terlibat. Mereka belajar langsung dari yang lebih tua, sehingga tradisi ini tidak berhenti pada satu generasi,” ujar Jero Mangku Sudira.
Hingga kini, tradisi tersebut masih dijalankan secara turun-temurun. Sekaa yang menjadi bagian dari iringan juga masih tetap ada. Pengetahuan mengenai peed diwariskan melalui keterlibatan langsung dalam setiap pelaksanaan.
“Tradisi ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Desa Adat Kapal. Sekaa iringan masih eksis dan terus diwariskan. Anak-anak muda belajar dari generasi sebelumnya dengan ikut langsung dalam pelaksanaan. Jadi yang diwariskan bukan hanya ceritanya, tetapi juga cara melaksanakan tradisinya,” tegasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika