BALIEXPRESS.ID-Tari Baris Jongko menjadi salah satu warisan budaya sakral yang hingga kini tetap dijaga masyarakat Banjar Adat Sabang, Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Tarian ini dipercaya lahir dari situasi penuh gejolak pada masa penjajahan, ketika Banjar Adat Sabang menjadi salah satu wilayah yang terdampak secara sekala maupun niskala.
Sedahan Adat Banjar Adat Sabang, I Made Kopeng, mengatakan Tari Baris Jongko tidak hanya menjadi kesenian tradisional, tarian sarat akan makna spiritual sebagai simbol perlindungan bagi masyarakat.
“Dulu ketika terjadi gangguan dan situasi yang tidak baik, Dalem Solo mengirim pasukan dari Jawa untuk menjaga keamanan. Keberadaan prajurit yang gagah berani itu kemudian menginspirasi masyarakat untuk membuat sebuah tarian sebagai bentuk penghormatan sekaligus perlindungan,” kata I Made Kopeng.
Menurutnya, sejarah Tari Baris Jongko juga berkaitan dengan peristiwa gempa bumi dahsyat yang terjadi pada abad ke-17. Peristiwa tersebut mendorong para panglingsir menciptakan sarana spiritual untuk memulihkan keseimbangan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Sejak saat itu, Tari Baris Jongko diwariskan sebagai tradisi sakral dan dipentaskan dalam berbagai upacara penting.
Baca Juga: Peed Aci Tabuh Rah Pengangon di Pura Purusada: Dilaksanakan Setahun Sekali saat Purnama Kapat
Tari Baris Jongko dibawakan sembilan penari laki-laki yang seluruhnya merupakan warga Banjar Adat Sabang. Jumlah sembilan penari tersebut melambangkan Dewata Nawa Sanga sebagai penjaga sembilan penjuru mata angin. “Sembilan penari ini menjadi simbol Dewata Nawa Sanga. Karena itu, tarian ini dipercaya memiliki fungsi untuk menolak bala serta melindungi masyarakat dari ancaman sekala maupun niskala,” ujarnya.
Pementasan dilakukan di sejumlah pura tertentu, seperti Pura Taman Sari Klansang, Pemangkalan Agung, Pura Jero Kelodan, Pura Jero Kajanan, Pura Bukit Tegeh atau Pura Dadia Tangkas Kori Agung, Pura Batur dan Pura Penulisan, termasuk Pura Sad Kahyangan dan Pura Kahyangan Jagat. Namun, tarian ini tidak dipentaskan di Pura Kahyangan Tiga maupun merajan keluarga.
Sebelum pementasan, terdapat sejumlah prosesi adat seperti Matur Piuning, persembahyangan, Ngaturang Segehan Agung dan Nuwur Tirta Pangrapuh. Para penari juga memiliki pantangan tidak mengonsumsi daging babi sehari sebelum pementasan.
Baca Juga: Pir Kukus untuk Batuk? Ini Tradisi dan Fakta yang Perlu Diketahui
Dengan iringan Gong Kebyar, penari tampil membawa senapan dan bendera Merah Putih. Kostum terdiri atas celana panjang hitam, kamen hitam dengan saput poleng serta atasan berwarna hitam, putih atau ungu menyesuaikan lokasi pementasan. Penari juga mengenakan onggar atau topi perucut berbahan anyaman bambu yang ditutupi ijuk.
I Made Kopeng menambahkan, keberadaan Tari Baris Jongko juga memperkuat solidaritas masyarakat. Persiapan hingga pelaksanaan dilakukan secara kolektif sehingga mempererat hubungan warga sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan leluhur.
“Yang paling penting adalah bagaimana tradisi ini tetap dipahami dan diwariskan kepada generasi muda. Bukan hanya tariannya, tetapi juga nilai spiritual, kebersamaan dan identitas masyarakat yang ada di dalamnya,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika