Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kenapa Catus Pata Jadi Simpul Energi Alam? Begini Penjelasannya

I Putu Suyatra • Rabu, 23 Agustus 2017 | 22:07 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Persimpangan jalan di kawasan kota kerap menjadi spot yang unik karena dihiasi taman atau beragam patung. Namun, ada persimpangan jalan tertentu di Bali dikeramatkan karena dijadikan sebagai areal yang disucikan.


Persimpangan jalan yang kerap disakralkan adalah pertigaan dan perempatan. Perempatan jalan tersebut biasanya disebut dengan Pempatan Agung atau Catus Pata. Di tengahnya berisi palinggih tempat pemujaan. Di palinggih inilah biasanya umat menghaturkan banten atau canang sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan atau mohon perlindungan ketika hendak bepergian jauh.


Dalam beberapa sumber dijelaskan bahwa Catus Pata beserta hulu-teben merupakan konsep penataan tata ruang pemukiman dengan kelengkapannya, seperti pura, bale banjar, pasar, rumah, jalan, dan sebagainya. Contohnya adalah areal atau fasilitas yang berhubungan dengan publik seperti pasar, wantilan, pura desa, dan rumah pimpinan desa ditempatkan pada sudut-sudut dari Catus Pata tersebut agar mudah diakses.


Keberadaan Catus Pata bisa dibilang sebagai pusat dari sebuah wilayah. Oleh karena itu, kawasan ini biasanya senantiasa ramai karena banyaknya orang yang berlalu lalang atau bermukim. Penetapan Catus Pata tidak serta merta begitu saja, melainkan pada zaman dahulu ditetapkan oleh Raja atas petunjuk Bhagawanta. Hal ini selain dari sisi nilai strategis, namun secara niskala, Catus Pata dianggap sebagai titik yang sakral. Oleh karena itu, Catus Pata memiliki hubungan yang erat dengan pelaksanaan upacara yadnya. Namun demikian,  di era sekarang ini jika ada desa pakraman yang baru berdiri, Catus Pata-nya ditetapkan oleh prajuru dengan petunjuk sulinggih. Berdasarkan hal itu, setiap desa pakraman biasanya memiliki satu Catus Pata.


Berkenaan dengan hal itu, jika ada upacara yadnya yang di dalamnya ada prosesi mengarak ida bhatara, maka di Catus Pata biasanya akan dilakukan prosesi ngider bhuwana. Ngider bhuwana adalah prosesi mengitari palinggih di Catus Pata tersebut. Demikian pula jika mengarak jenazah, ngider bhuwana juga dilaksanakan di Catus Pata.


Ngider bhuwana tersebut ada dua macam. Pertama adalah Purwa Daksina, yakni  arah berputarnya ke kanan sesuai kata purwa yang berarti timur dan daksina yang berarti selatan.  Purwa daksina adalah simbol penciptaan, panguripan (penghidupan), penghormatan atau “peningkatan status” pada dewa, manusia, atau pitara dalam berbagai upacara. Sedangkan yang kedua adalah Prasawya atau pasawya-sawya yang berarti kanan ke kiri. Prasawaya adalah kebalikan dari purwa daksina, yakni mengitari dari kanan ke kiri. Hal ini merupakan simbol peleburan atau “penurunan status”. Biasanya dilakukan pada saat prosesi penguburan mayat atau pangabenan.


Banyak yang bertanya-tanya, siapakah nama Ida Bhatara yang malinggih di pertigaan dan perempatan jalan? Menurut Direktur Pasca Sarjana IHDN Denpasar, Dr. Drs. I Ketut Sumadi, S.Ag., M. Par., di pertigaan jalan yang malinggih adalah Sang Hyang Sapuh Jagat, sedangkan di perempatan jalan yang malinggih adalah Sang Hyang Catur Bhuwana. Hal itu berdasarkan Lontar Gong Besi yang menyebutkan bahwa “…Ketika beliau (Ida Bhatara Dalem) berstana di Pura Puseh, maka Sanghyang Triyodasa Sakti nama beliau. Ketika berstana di Pura Desa maka Sanghyang Tri Upasedhana sebutan beliau. Di Pura Bale Agung, beliau dipuja sebagai sebutan Sanghyang Bhagawati. Di perempatan jalan raya beliau dipuja sebagai Sanghyang Catur Bhuwana. Ketika beliau berstana di pertigaan jalan raya, disebut dengan Sanghyang Sapuh Jagat...”.


Berdasarkan lontar tersebut, Bhatara Dalem dalam hal ini ditempatkan sebagai bagian dari konsep Siwaistik. Hal inilah yang sejalan dengan konsep Tri Kahyangan di Bali. Dewa Brahma berstana di Pura Desa, Dewa Wisnu di Pura Puseh, dan Dewa Siwa di Pura Dalem.


Lebih lanjut, Sumadi menjelaskan, Sang Hyang Sapuh Jagat yang menguasai pertigaan merupakan simbolisasi energi Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, sesuai bentuk segitiga. “Makanya disebut Sang Hyang Sapuh Jagat, tugas beliau membersihkan segala macam mala. Oleh karena itu di pertigaan biasanya mencari panglukatan atau penyembuhan,” imbuhnya.


Sementara itu, perempatan menurutnya sesuai konsep Panca Dewata, yakni di Utara Dewa Wisnu, di timur Dewa Iswara, di Selatan Dewa Brahma, di Barat Dewa Mahadewa, dan di tengah adalah Dewa Siwa. Oleh karena itu, di perempatan biasanya dibuatkan patung catur mukha. Selain itu, perempatan merupakan tempat ritual panebusan dilakukan. “Selain ngider bhuwana, biasanya juga dilakukan ritual panebusan di perempatan, karena konsepnya nyatur bhuwana,” jelasnya.


Lebih gamblang, Sumadi mengatakan, pertigaan dan perempatan tersebut adalah simpul-simpul energi alam. Oleh karena itu, melalui pertigaan dan perempatan, energi alam mudah untuk diakses dengan tujuan tertentu. Energi tersebut terkumpul dan terikat sedemikian rupa melalui prosesi ritual yang dilaksanakan secara kontinyu. 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #denpasar #ritual hindu