Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Undagi, Profesi Unik Bukan Asal Ulah-Aluh

I Putu Suyatra • Senin, 26 Maret 2018 | 23:30 WIB
Undagi, Profesi Unik Bukan Asal Ulah-Aluh
Undagi, Profesi Unik Bukan Asal Ulah-Aluh

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sebelum menekuni profesi Undagi, seseorang harus melalui proses pembersihan secara skala dan niskala. Apalagi Undang khusus membuat Wadah atau Bade untuk upacara Ngaben.


Undagi adalah sebutan bagi arsitek  tradisional Bali. Seorang Undagi tidak hanya membekali dirinya dengan ilmu rancang bangun, namun juga harus mempelajari serta memahami seni, budaya, adat dan agama. Hal tersebut wajib dikuasai  seorang Undagi agar dalam proses perancangan dan penciptaan karya bangunan selaras dan sejalan dengan konsep Tri Hita Karana. Jadi, bukan saja soal  Asta Kosala Kosali yang diperhatikan, tetapi juga proses penyucian seorang Undagi.



Undagi adalah para arsitek tradisional Bali yang diayomi oleh Bhagawan Wiswakarma sebagai arsitek seni bangunan para Dewa yang dalam salah satu lontar tentang arsitektur Bali disebutkan, melalui karya seni mereka, sebuah tempat dapat memiliki representasi peradaban kehidupan, seni budaya  dalam cipta dan rasa dengan nilai-nilai kultural setempat untuk menjadi asri dan nyaman.
Asta Kosala Kosali juga menentukan ada beberapa kayu yang harus diletakkan sesuai dengan sebutan dan status yang dijabarkan dalam sastra agama. Pemanfaatan Asta Kosala Kosali dalam pengerjaan bangunan Bali ataupun tempat suci misalnya, akan menjadikan segala hal yang dikerjakan memiliki taksu atau kekuatan spiritual. Profesi Undagi kian terlihat unik, apalagi akhirnya menangani hal lebih spesifik lagi, seperti membuat berbagai perlengkapan untuk prasarana Ngaben.



Salah satu Undagi yang telah memiliki nama besar adalah Undagi Gases. Kelompok Undagi yang bertempat di Sesetan, Denpasar ini, sudah menjadikan Undagi membuat wadah, bade, lembu, dan sarana lainnya untuk keperluan upacara Ngaben sebagai profesi. Di Bali, profesi sebagai seorang Undagi memang dikatakan unik karena juga terkait dengan adat, budaya, dan agama. Undagi sekaligus salah satu pemiliki Gases Bali, Indra Wirawan, tak menyanggah bahwa ada proses panjang yang harus dilewati sebelum menjadi seorang Undagi. “Menjadi undagi tidak bisa asal ulah - aluh atau aji mumpung dan disepelekan. Ada rangkaian pelatihan dan ritual khusus sebelum sah disebut Undagi. Mereka yang kebetulan memiliki keahlian membuat wadah dan bade, namun tidak diberikan pelatihan khusus serta ritual mawinten, tidak bisa dikatakan sebagai seorang Undagi,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin di Sesetan, Denpasar.



Dikatakan Wirawan, banyak pakem - pakem khusus yang harus diketahui seorang Undagi. Dalam lontar Dharma Laksana, lanjutnya, dijabarkan beberapa aturan dasar yang harus dilaksanakan seorang Undagi.  “Jika ia hanya seorang seniman, bukan seorang Undagi, biasanya mereka membuat wadah berdasarkan seninya saja. Atau hanya sekadar terlihat bagus dan unik. Namun, jika ia seorang Undagi dia harus tau apa saja fungsi, filosofi serta makna dari setiap bagian – bagian bade atau wadah tersebut. Dan, ada aturan khusus pembuatan yang hanya diketahui oleh seorang Undagi,” papar pria yang akrab disapa Komang Gases ini.



Komang Gases menjelaskan, pentingnya prosesi mawinten pada seorang Undagi, agar karya yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai sekadar hiasan. “Pawintenan Undagi mungkin jarang didengar. Namun, itu sebuah prosesi wajib bagi kami seorang Undagi.  Tujuannya untuk penyucian diri secara lahir dan batin. Tentu kaitannya penyucian dalam melaksanakan tugasnya sebagai Undagi," urainya.
Dikatakannya, mawinten ini tidak hanya dilakukan oleh Undagi. Semua yang berkaitan dengan pelaksanaan karya juga diwinten, seperti tukang banten, pande besi, pematung, bahkan balian juga mawinten. Hanya saja, dari segi banten yang agak berbeda sesuai profesinya.



Dicontohkannya,  jika seseorang yang bisa mengerjakan tempat suci, namun belum melaksanakan upacara pembersihan berupa pawintenan, biasanya banyak menemui masalah maupun rintangan. Proses ini juga menjadi bagian dari hal-hal yang harus dipahami seorang Undagi.



Ketika ditanya berapa omset yang ia terima ketika menjalankan profesinya sebagai Undagi? Wirawan yang juga dosen IKIP PGRI ini tersenyum malu – malu. Ia memaparkan jika sedang duasa (musim hari baik) ngaben, order yang diterima bisa mencapai 150 buah bade atau lembu per bulan. “Kalau ditanya soal pendapatan angkanya saya tidak bersedia menjawab. Tapi yang jelas dengan omset 150 buah per bulan dengan kisaran harga sepuluh sampai 15 juta rupiah perbuah. Saya kira itu cukup untuk menggaji 200 orang karyawan kami,” ujarnya sembari tersenyum.



Soal bahan dasar pembuatan bade, diakuinya kini memang lebih mengikuti zaman. Tidak lagi harus menggunakan bambu, atau ulatan bambu, tapi kini lebih modern, yakni bisa menggunakan strerofoam dan gypsum sebagai hiasan. “Memang ada beberapa bahan yang tidak bisa diganti, seperti bambu untuk tatakan jenasah, baik jumlahnya dan letak bambunya, karena itu ada hitungannya tersendiri. Namun, untuk bahan dasar lainnya, bisa digunakan bahan pengganti yang lebih awet serta lebih mudah untuk diaplikasikan,” tandas Wirawan, yang kemarin ditemani sang kakak Putu Indira mengerjakan sebuah bade berukuran sedang.



Ketika ditanya, mengapa  tertarik menjadi seorang Undagi, bungsu dari tiga bersaudara ini, melempar senyum. “Kalau ditanya begitu, saya pun tak tau bagaimana harus menjawabnya. Mungkin karena saya dan kakak sering melihat bapak membuat itu (bade, wadah dan lembu), makanya kami juga tertarik. Tapi, sesungguhnya ini hanya hobi saja yang kami jalani. Selain sebagai Undagi, kami memiliki bidang dan profesi lain yang kami geluti," urainya. Memang, Wirawan bukan hanya seorang Undagi khusus, ia juga penari sekaligus produser film.


Kakaknya juga seorang politikus yang kini  lebih fokus ke profesi sebagai Undagi. Wirawan yang juga produser sekaligus pembuat naskah film 'Nyungsang' ini, mengakui banyak kesulitan yang dialami ketika menjadi seorang Undagi, terutama saat memulai proses produksi. “Banyak kesulitan, terutama ketika pesanan mulai menumpuk. Kami tidak bisa asal buat saja, kami harus memperhatikan pakemnya, hari baik dan  bahan yang digunakan, kan tidak sembarangan," bebernya.



Suatu ketika pernah ada permintaan membuat wadah dan lembu untuk Ngaben ukuran besar, harus selesai sehari. Karena misinya untuk memudahkan sekaligus melancarkan prosesi upacara Ngaben, lanjutnya, permintaan itu harus dipenuhi. "Kami sempat kelabakan, akhirnya teman - teman yang lainnya saya fokuskan tenaganya untuk menangani menyelesaikan permintaan mendadak itu dulu. Setelah seharian kerja total keroyokan akhirnya selesai juga,” ujarnya.



Dikatakannya, almarhum ayahnya yang kerap menghelat pentas Calonarang yang jug menekuni Undagi, tidak pernah kewajibannya untuk.meneruskan profesinya. “Bapak tidak pernah menentukan kami harus begini atau begitu. Bapak seorang seniman, ia tak suka dituntut orang, makanya ia tidak pernah menuntut kami harus melanjutkan atau tidak. Ini semua berjalan begitu saja, sebelum fokus di Undagi, kami telah mencoba banyak bidang, seperti akademisi, politik bahkan pengacara,” katanya.



Keberadaan para Undagi di Bali,  memiliki sejarah yang cukup panjang yang dalam asal usul sejarah Pulau Bali ini diceritakan  bahwa dahulu saat zaman perundagian  dalam kebudayaan Megalithik yang menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar.  Batu-batu ini biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan.  Seperti halnya dalam jejak Megalititikum di Bali, tradisi Megalithik disebutkan masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini dan adapun temuan yang penting berupa Batu Berdiri (Menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Di pura ini terdapat sebuah arca setinggi empat meter yang disebut arca Da Tonta yang  cirinya berasal dari masa tradisi Megalithik.



Temuan lainnya, di Sembiran, Buleleng, yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping Desa di Trunyan dan Tenganan. Tradisi Megalithik di Desa Sembiran dapat dilihat pada pura  yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. Dari 20 buah pura, ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk Megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali.




Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali. Temuan lainnya yang penting, juga berupa bangunan-bangunan Megalithik yang terdapat di Gelgel, Klungkung, berupa arca Menhir  di Pura Panataran Jro Agung.
Arca Menhir ini dibuat dari batu yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting,  sebagai lambang kesuburan. Penemuan inilah menjadi bukti bahwa Undagi memang sangat terkait dengan tradisi zaman dulu, yang akhirnya terus berkembang lebih spesifik mengikuti waktu.

Editor : I Putu Suyatra