BALI EXPRESS, DENPASAR - Kesibukan dalam meniti kehidupan terkadang membuat jenuh dan memicu stress. Apalagi tidambah berbagai permasalahan yang menumpuk dan tak kunjung mendapat penyelesaian. Perlu dikenali proses terjadinya stres dan cara mengatasinya. Seperti apa?
Stress dalam hal ini adalah sebuah gangguan psikis maupun fisik yang terjadi pada seseorang karena tekanan dari dalam diri maupun dari luar. Ketut Gede Suatma Yasa, SH., M. Ag., CHt. MNNLP alias Guru mangku Hipno menerangkan, stres bisa terjadi pada pikiran, perasaan, dan tubuh seseorang.
Stress pada pikiran terjadi ketika pertanyaan yang timbul di dalam diri tidak mampu terjawab. Hal ini membuat pikiran menjadi terbebani berbagai pertanyaan. Jika dipaksakan, maka akan terjadi gangguan pada pikiran dan bisa memicu masalah kejiwaan. “Ketidakmampuan otak kita menjawab pertanyaan-pertanyaan kita sendiri, semisal saat termenung, kenapa bisa begini, mengapa hidup saya seperti ini, kenapa, kenapa, dan terus kenapa. Ternyata semua pertanyaan itu mendapat jawaban file not found dari otak kita. Itu artinya apa? Karena kita tidak pernah belajar cara mengatasi sesuatu yang kita hadapi,” ujarnya.
Jika seseorang pernah mempelajari, baik membaca, melihat, mendengar, atau mengalami dengan indera-inderanya setuatu yang dihadapi, maka seseorang itu tidak akan stres. “Maka stres pikiran diakibatkan oleh satu hal, kebodohan kita. Ini disebabkan otak tidak mampu menjawab pertanyaan yang ada, karena ia tidak pernah dimasuki memori terkait permasalahan yang dihadapi,” jelas Ketua Ikatan Cendikiawan Metafisika Bali (ICMB) itu.
Stres pikiran ini, lanjutnya, bisa mematikan daya pikir dan kreativitas otak. “Saat itu otak juga ‘protes’ kepada pemiliknya, mengapa tidak diberikan makanan-makanan yang cukup, yang mampu menjawab segala aspek kehidupan ini. Dengan demikian, cara menghindari dan mengatasi stres adalah dengan banyak belajar dari berbagai sumber serta berdiskusi dengan orang lain,” tegasnya.
Di samping itu, bisa pula dengan mendalami ilmu metafisika yang melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Jika otak tidak mampu menjawab dengan intelektual, maka akan mencari jawaban emosional. Jika tidak ada jawaban intelektual dan emosional, maka akan dijawab secara spiritual. “Bahkan jika tidak bisa dijawab ketiganya, akan dijawab dengan jawaban kosmik. Pelajaran kosmik ini biasanya dicantumkan dalam ajaran keagamaan,” terangnya.
Stres pada pikiran menghilangkan rasa senang pada diri. Senang berhubungan dengan unsure panas yang ada di bagian kanan tubuh, yang biasanya dialiri oleh ‘api’. Rasa senang adalah api dalam tubuh yang biasa disebut Aida. Apa jadinya jika tubuh seseorang tidak dialiri api atau semangat? Maka ia akan menimbulkan rasa malas, rasa putus asa, dan rendah diri. Terkadang menjadi ‘koh ngomong’, terdiam. “Yang paling parah, kehilangan unsur api dalam tubuh membuat tubuh menjadi terguncang dan terganggu,” jelas Guru Mangku Hipno.
Cara mengatasi stres pikiran, kata magister agama IHDN Denpasar itu, adalah melakukan sesuatu yang menyenangkan pikiran. Misalnya dengan menjalankan hobi yang positif. Dalam rasa senang ada tiga kuncinya, yakni pikiran yang bermain dengan logis dan cerdas, ada etika yang dipertahankan dengan baik, dan ada estetika yang dieksplorasi dengan baik. “Jadi mengobati rasa stres pikiran bisa dilakukan dengan menikmati hobi. Salah satunya seni,” tegas pakar Metafisika itu.
Selanjutnya, stres juga bisa menyerang perasaan seseorang. Pemicunya adalah perasaan negatif, seperti dendam yang membara, iri, dengki, dan sebagainya. Akibatnya adalah rasa tenang akan hilang. Susah tidur, tidak enak makan, bersikap depensif, mudah marah. “Jadi sikap kita akan berubah menjadi sikap yang negatif. Padahal sikap positif sangat dibutuhkan untuk mencapai ketenangan, sukses, dan keberlimpahan,” terangnya.
Cara mengatasi stres pada perasaan adalah mengembangkan perasaan yang positif. Bisa pula dnegan menghibur diri dengan mengunjungi tempat-tempat yang indah. Misalnya tirtha yatra, jalan-jalan ke tempat yang bisa memberikan aura-aura positif, mengunjungi sanak-saudara, atau mengobrol dengan sahabat. “Makanya, kalau perasaan kita stres, jangan mengunjungi tempat-tempat yang rumit,” tegasnya.
Sementara stres pada badan atau tubuh diakibatkan karena terlalu memaksakan diri dalam beraktivitas. Tubuh menjadi kelelahan. Akibatnya rasa nyaman menjadi hilang. Cara mengatasinya adalah tentu dengan memberikan kesempatan tubuh beristirahat dengan cukup. Bisa juga mengalokasikan waktu untuk memanjakan tubuh. “Bisa dengan relaksasi, yoga, dan pranayama atau olah nafas, ” tandas Guru Besar Brahmakunta Center tersebut. (bersambung)
Editor : I Putu Suyatra