Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pemangku Tak Boleh Katakan Nak Mule Keto, Itu Menyesatkan

I Putu Suyatra • Senin, 10 Desember 2018 | 15:43 WIB
Pemangku Tak Boleh Katakan Nak Mule Keto, Itu Menyesatkan
Pemangku Tak Boleh Katakan Nak Mule Keto, Itu Menyesatkan


BALI EXPRESS, DENPASAR - Pernahkah Anda mendengar istilah nak mule keto? Istilah yang biasa diucapkan para orang tua ketika tidak mengetahui sesuatu yang sedang ditanyakan. Sebagai seorang panutan, pencerah dan pemuka agama Hindu, seorang pemangku tak diperkenankan menggunakan istilah "nak mule keto" mengapa?


Dalam prosesi Mejaya - jaya dan prosesi mewinten Ghana, Ketua PSN Kodya Denpasar, Jro Mangku Ir. wayan Suwirta menjelaskan seorang pemangku harus bisa menjadi penerang atau pencerah bagi masyarakat. Maka dari itu menjadi seorang pemangku tidaklah cukup hanya mengetahui soal menghaturkan banten dan prosesi upacara.


"Pemangku itu dianggap sebagai panutan juga. Walaupun statusnya masih eka jati, namun seorang pemangku juga dituntut harus bisa menjadi penerang bagi umat hindu. Bagaimana caranya? Ya harus banyak membaca, mendengar dan belajar. Jangan hanya bisa jawab nak mule keto. Itu menyesatkan,"tegasnya.


 


Lewat pelatihan kepemangkuan yang dilakukan selama 8 bulan yaitu mulai tanggal 3 Februari hingga 9 Desember 2018, Suwirta berharap pemangku yang telah mewinten akan siap secara wawasan serta kemampuan untuk terjun dan membina masyarakat. "Karena itu, menjadi seorang pemangku tidaklah cukup hanya sekadar dibilang ngiring lalu jadi mangku. Tidak, seorang pemangku harus memiliki wawasan soal agama Hindu, soal tattwa dan upacara maupun upakara. Jadi ia bisa memberi penjelasan kepada masyarakat luas secara benar sesuai tattwanya. Tidak sembarangan," ungkapnya.


 


Pelatihan yang diikuti oleh 100 orang peserta itu, memiliki beragam materi kepemangkuan diantaranya pengetahuan dasar kepemangkuan, mantra, tatwa, prosesi panca yadnya dan lain sebagainya.


 


Dalam pelatihan tersebut diakuinya tidak seuruh peserta dapat lolos. "Dalam pelatihan itu ada ujiannya juga, baik secara teori maupun praktek. Jadi tidak sembarangan kalau mau jadi pemangku. Masak status pemangku tidak bisa muput, atau ngleneng? Kan malu. Makanya kami perketat agar kualitasnya bagus," ujarnya.


 


Ia juga menegaskan, seorang pemangku seharusnya bisa profesional. "Bagaimana seorang mangku profesional itu? Ia harus bisa menjelaskan beragam persoalan berdasarkan tatwanya. Bukan cuma sekedar menjelaskan apa yang semua orang sudah tahu ataupun beralibi dengan kalimat nak mule keto," ungkapnya.


 


Dalam pelatihan kepemangkuan itu terdapat dua jenis peserta yaitu Peserta pendidikan dasar dan peserta lanjutan. "Ada dua jenis. Kalau pendidikan dasar ada 100 peserta. Kalau lanjutannya ada 40 orang. Masing - masing materinya berbeda bobotnya," tegasnya.


 


Ia menjelaskan, pendidikan kepemangkuan terdiri dari dua tahapan yaitu pendidikan dasar dan lanjutan. "Bagi yang belum pernah mendapatkan pendidikan kepemangkuan harus memulai dari pendidikan dasar kepamangkuan, lalu dilanjutkan ke pendidikan lanjutan dan di akhiri dengan prosesi mewinten Ghana dan mejaya -jaya sebagai tahap akhir atau prosesi pelantikan sebagai seorang pemangku," jelasnya.


Tambahnya Pawintenan berarti suci. Pawintenan terdiri dari kata inten yang berarti permata. "Nah ketika menjadi permata disebut soca yang artinya suci, maka tujuan terakhir yang kita harapkan adalah wisuda atau majaya-jaya itu adalah memenangkan kesucian, hasil dari memenangkan perjuangan yang penuh dengan hati nurani," ungkapnya.


Ke depan ia bersama Pemerintah Kota Denpasar, PHDI dan dinas terkait berencana untuk membangun sebuah sekolah tinggi kepemangkuan . "Kedepannya ingin membangun sekolah khusus kepemangkuan yang disebut Sekolah Tinggi Brahma Widya. Tujuannya untuk mendidik dan mencetak para pemangku yang benar - benar mumpuni dan profesional," tandasnya.


 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #denpasar