Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Memahami Prosesi Memandikan Jenazah

I Putu Suyatra • Rabu, 18 September 2019 | 21:49 WIB
Memahami Prosesi Memandikan Jenazah
Memahami Prosesi Memandikan Jenazah


DENPASAR, BALI EXPRESS - Memandikan jenazah sebelum dikebumikan ataupun diaben, wajib dilakukan  umat Hindu. Banyak sarana dipasangkan di tubuh jenazah dengan harapan, bila kelak lahir kembali dengan kondisi baik. 


Meninggal adalah terlepasnya atma meninggalkan wadag (jasad) untuk kembali ke alamnya masing-masing dan menyatu dengan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan badan kasarnya kembali ke asalnya, yakni Panca Mahabhuta dengan bantuan manusia, mulai dari memandikan hingga diaben untuk kemudian Nganyut (larung ke laut).


                              
Ada beberapa pendapat tentang meninggal atau mati ini, tertuang mulai di Peraturan Pemerintah (PP) No 18 Tahun 1981, dimana orang dinyatakan  mati  ketika otak dan batang otak tidak berfungsi lagi. "Dari segi tattwa, orang mati apabila atmanya sudah terlepas dari Panca Mahabhuta. Dan,  menurut upacara agama, orang dikatakan sudah mati bila sudah diupacarai, seperti  dibahas dalam Lontar Pretekaning Wong Mati,” ujar Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika, 60, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group)
di rumahnya di Canggu Permai, pekan kemarin.



Dikatakannya, ketika seseorang baru meninggal, maka jenazahnya diletakkan di balai dengan kepala berhulu di utara dan timur. Sekujur tubuhnya diberi air kayu cendana agar harum. Selanjutnya dagu disela dengan kain dan diikatkan ke ubun-ubun agar mulut jenazah tidak menganga. Mata ditutup pakai uang kepeng serta telinga dan hidung ditutup kapas, untuk menghindari binatang kecil masuk. Setelah itu, jenazah ditutupi kain rurub yang baru.


"Langkah berikutnya disuguhi soda, dari nasi, lauk, buah dan minuman hingga makanan kesukaan yang meninggal ketika masih hidup, dan  dilengkapi dengan canang sari,” imbuh salah seorang pedharma wacana ini.



Sebelum memandikan, lanjutnya, dipersiapkan  saput kamben dan lainnya, kain putih untuk bantal dengan uang satu kepeng, kain kuning untuk selendang, rantasan kain putih kuning yang baru serta bunga dan kwangen. 


Secara umum, memandikan jenazah dilakukan di madya mandala rumah, yakni di pekarangan rumah. Tepatnya, letak pemandiannya di tebenan palinggih natah. 
Selain itu, sebelum dimandikan dipersiapkan lubang sedalam dua jengkal untuk menampung air ketika memandikan jenazah. Proses memandikan jenazah dimulai pada hari yang teah ditentukan.


"Sebelum diusung jenazah ke tempat pemandian, terlebih dahulu diadakan upacara Nanginin, yaitu membangunkan almarhum dengan menyapa dan menepuk kaki almarhum sebanyak tiga kali dengan cara memanggil nama yang bersangkutan,” terang Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika.



Selanjutnya jenazah diangkat ke tempat pemandian dengan kepala berhulu di utara atau di timur. Memandikan jenazah  dimulai dengan beberapa tahapan, pertama membuka kain rurub dengan hati-hati, selanjutnya  purus (alat vital) almarhum ditutup dengan kain merajah. “Bisa dilakukan oleh saudara tertua atau termuda dan juga bisa oleh anak sulung atau bungsu si almarhum,” tegasnya. 



Tahap ketiga dengan keramas, mencuci muka lalu masigsig dengan jaja uli yang dibakar. Sekujur tubuh dimandikan dengan blonyoh (gamongan, kunyit dan bangle), terus dibasuh dan dibilas sabun, lalu diberi air kumkuman. Tikar alas kemudian diganti dengan yang baru. 



Tahap selanjutnya adalah makerik kuku (memberrsihkan kuku). Sebelum makerik kuku, lanjutnya, ada baiknya orang yang merasa punya salah meminta maaf kepada  almarhum karena sebelum makerik kuku, almarhum masih dianggap masare (tidur) dan belum meninggal atau mati. “Jadi lebih baik lakukan atau minta maaf bila punya kesalahan karena almarhum masih dianggap masare (tidur),” terangnya. Tahap berikutnya,  kepala jenazah diberikan bantal blayag pisang Kaikik dengan uang 225 kepeng, diberi destar untuk pria, sanggul untuk wanita. 



Dilanjutkan kemudian dengan kain penggulung. Untuk jenazah pria dilipat ke kiri. Bila wanita lipatnya ke kanan. Kemudian dilakukan Masasad dengan daun alang-alang dari kepala hingga kaki. Setelah itu diberikan satu kwangen di ubun-ubun dengan uang 11 kepeng, tangan kanan kiri masing-masing 5 kepeng, di dada 11 kepeng, kaki kanan kiri sebanyak 5 kepeng. Terakhir kwangen di lambung kanan kiri masing-masing 8 kwangen dengan uang 15 kepeng. Selesai melakukan itu, lantas  diberkan air kumkuman lagi. 



Tahap selanjutnya adalah memasang eteh-eteh (hiasan) dengan berbagai makna. Diharapkan makna itu mengikuti ketika almarhum lahir kembali. Mulai dari alis dengan daun intaran, yang maknanya agar alisnya ketika lahir lagi menjadi ideal dan baik. Lalu diantara alis ada bunga teleng, dimaksudkan agar ketika almarhum lahir lagi dia akan memiliki wawasan yang luas. 



Matanya dipasangi kaca bertujuan agar tajam pandangannya dan cemerlang. Lubang hidung diberikan bunga menuh, tujuannya untuk memiliki penciuman yang tajam. Gigi diberikan waja agar kelak giginya ketika lahir kuat dan kokoh.



Selanjutnya lubang telinga diberikan malem, agar pendengaran tajam dan peka serta berpendirian teguh. 



Pada hulu hati jenazah diisi  anget-anget, yang bertujuan agar budi pekerti luhur dimilikinya kelak.  Spesifik untuk alat vital, jika pria diberikan daun terong, sedangkan wanita daun teratai agar saat lahir alat vitalnya sehat dan memiliki nafsu yang terkendali. Kemudian di lengan diberikan paku atau jarum, bertujuan agar lengannya ketika punarbawa (terlahir kembali) menjadi kokoh. 



“Tidak hanya di luar saja, gigi taring juga diberikan bunga kelor agar sad ripunya (sifat buruknya) terkendali. Di dalam mulut diisi momon, yang  bertujuan agar kelak ucapannya tidak terlepas dari dharma,” tegasnya.



Seluruh tubuh juga diberikan wewangian agar harum perilakunya saat jadi manusia kelak. Terakhir adalah kedua pipi diberikan daun Delem, bertujuan agar pipi si almarhum di kehidupan selanjutnya indah dan sempurna bentuknya, sehingga menarik.
Jika semua eteh-eteh selesai dipasang, maka selanjutnya diperciki tirta dari sanggah kemulan, dadia, kawitan, kahyangan tiga, dan lainnya, sesuai desa mawacara serta tirta pamargi dari pinandita. Usai itu, maka dipasang itik-itik pada ibu jari tangan dan kaki. Proses berlanjut dengan jenazah digulung dengan tikar dan kain merajah serta diakhiri dengan lante yang terbuat dari bambu. Selanjutnya jenazah dimasukkan dalam peti dan ditempatkan di bale gede dengan kepala di timur atau utara. “Lubang yang digali itu kemudian diurug kembali dengan tanah dan cangkul, dipukulkan tiga kali sambil menyebut bersih sebanyak tiga kali,” terangnya.



Jika sudah rampung semuanya,lanjutnya,  haturkan kembali sodan dan makanan yang disenangi alamrhum dan disembahyangi oleh keluarga. "Prosesi memandikan jenazah sudah dianggap selesai, untuk selanjutnya dilanjutkan dengan prosesi ke pemakaman hingga tuntas diaben,” pungkasnya. (agus sueca)

Editor : I Putu Suyatra
#hindu