Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tutur Atma Prasangsa Ungkap Perjalanan Atman Setelah Meninggal

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 2 Juni 2021 | 19:51 WIB
Tutur Atma Prasangsa Ungkap Perjalanan Atman Setelah Meninggal
Tutur Atma Prasangsa Ungkap Perjalanan Atman Setelah Meninggal

SINGARAJA, BALI-Surga dan Neraka urusan manusia setelah meninggal nanti. Namun, tidak ada salahnya untuk mulai memahami seperti apa perjalanan Atman setelah meninggal. Apakah masuk Surga atau Neraka, semuanya itu tergantung karma wasana selama hidup.


Banyak pustaka berupa lontar yang mengulas tentang perjalanan Atman setelah meninggalkan badan kasar. Diantaranya Lontar Atma Prasangsa, Geguritan Bima Swarga, Putru Astika Carita, Geguritan I Japat Wana, Putru Pasaji, dan Lontar Swarga Rohana Parwa.


Akademisi UNHI Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS menjelaskan, dari berbagai sumber disebutkan sang Atma yang selama hidupnya lebih dominan berbuat buruk tentu akan diganjar hukuman di Neraka. Semua tahu, jika Neraka digambarkan sebagai tempat yang mengerikan dan penuh dengan siksaan.


Saat sang Atman meninggalkan badan kasar, maka perjalanan Atman pertama akan bertemu dengan Tegal Penangsaran. Dalam Lontar Atma Prasangsa disebutkan, sang Atman tidak lagi ada tempat untuk bernaung dan berteduh di tempat ini.


“Seperti gurun pasir. Tidak ada pohon. Panas bukan main. Para Atma berlarian kesana kemari berusaha mencari air dan tidak ketemu. Bayangkan, betapa sedih dan menderitanya Atma berada dalam sebuah tempat panas tanpa air. Apalagi Atma tidak bisa mati. Ia akan menderita,” ujarnya.


Setelah melewati Tegal Penangsaran, maka Atma akan masuk Kawah Candradimuka. Kawah ini adalah jambangan tembaga dengan bentuk menyerupai kepala banteng. 


Jambangan tembaga ini menyimbulkan perut manusia. Sedangkan kepala banteng menyimbulkan mulut dan kerongkongan manusia. Dikatakan mantan Dirjen Bimas Hindu ini, agar selama hidup manusia untuk senantiasa menjaga mulut (perkataan) dan kerongkongan agar tak melukai orang lain. 


“Ada pepatah, mulutmu harimaumu. Karena kata-lata kita mendapat musuh, karena perkataan kita mendapat teman, dan karena perkataan juga kita menemui ajal. Kawah Candradimuka adalah simbol penghukuman manusia yang suka memaki, memfitnah, atau tidakan yang bersumber dari mulut,” imbuhnya.


Tuntas dengan Kawah Candradimuka, Atman selanjutnya akan melalui Kawah Weci. Yakni jambangan besar yang berisi penuh dengan kotoran manusia. Ini adalah tempat untuk menghukum Atman yang semasa hidupnya hanya memikirkan perutnya sendiri. Tanpa mau berbagi dan menolong orang lain.


“Bisa saja selama hidupnya sang Atman tidak pernah melaksanakan dana punia. Tidak pernah ngayah, mapunia tenaga, mapunia sasolahan, mapunia pengetahuan, dan semacamnya,” bebernya.


Selain itu, Atman akan bertemu Batu Masepak. Yakni batu yang bisa terbuka dan menutup tiba-tiba. Tak satupun Atman tahu kapan batu masepak ini terbuka dan menutup. Para Atma yang terjepit akan mengerang kesakitan. Batu Masepak Ini merupakan tempat penghukuman bagi manusia yang suka berkata sombong, omong besar dan kasar. Siap-siaplah.


Tak berhenti disana, Atman kemudian akan menemukan Titi Gongggang. Ini adalah titi yang di bawahnya berisi jurang api. Ujung kanan kiri tidak bertiang dan atma akan berpeluang jatuh. Titi Gonggang adalah tempat penghukuman bagi manusia yang gemar menipu, tidak menepati janji.


Selain Titi Gonggang, dalam Lontar Atma Prasangsa disebutkan bahwa Atman akan melewati Titi Ugal-Agil. Ini adalah jembatan yang bergoyang-goyang. Atman yang berbuat keburukan selama hidupnya tentu akan terjatuh. “Ini adalah hukuman bagi manusia yang selama hidupnya gemar memfitnah,” jelasnya.


Ada pula hukuman berupa Kayu Curiga. Pohon yang berdaun keris. Apabila roh manusia berdosa yang bernaung di bawah itu, badannya akan dihujani keris. Ini adalah hukuman bagi orang yang selama hidupnya suka berjinah, main serong dengan orang lain.


Sedangkan Petung Agni adalah pohon bambu yang penuh dengan api. “Atman yang semasih hidupnya sering mempelajari ilmu hitam, teluh, desti, nyantet, main guna-guna, akan digantung di pohon itu dengan kaki di atas dengan kepala di bawah,” jelasnya.



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #upacara #hindu