Menurut Jero Dasaran Alit dalam kanal Youtube Majesty Production, ilmu pangeleakan merupakan ilmu olah raga, olah rasa dan olah bathin yang bersumber dari sastra atau lontar pangeleakan. Tujuannya untuk mengendalikan kundalini. “Orang yang berhasil mengendalikan kundalini inilah yang mampu mempelajari ilmu pangeleakan,” jelasnya.
Ilmu pangleakan identik dengan ilmu puja, dan yang dipuja adalah Durga Bhairawi. Sarana yang digunakan adalah sanggah cucuk. Dengan sanggah cucuk, ngeleak dapat dilakukan di Prajapati, pamuwunan, pempatan maupun di uma atau sawah. Selain sanggah cucuk, api juga digunakan dalam ngeleak sebagai symbol Brahma. Tujuannya untuk membangkitkan energy dalam diri dan untuk mengundang sang Hyang Durga. “Api juga sebagai media penerangan dan pemujaan,” paparnya.
Lebih lanjut Jero Dasaran Alit mengungkapkan, ilmu pangeleakan juga memiliki tingkatan. Leak yang dapat mengubah diri menjadi api terbang, berarti tingkatan ilmu pengeleakannya masih rendah. Selanjutnya, ilmu pangeleakan dikatakan naik tingkat, ketika mampu mengubah diri menjadi berbagai macam binatang. Dikatakan naik tingkat lagi, jika mampu mengubah diri menjadi laki-laki atau perempuan. “Kalau yang belajar ilmu leak itu perempuan, dia mampu mengubah diri menjadi laki-laki,” ungkapnya.
Ilmu pangeleakan dikatakan naik tingkatan lagi, apabila ia mampu mengubah diri menyerupai benda-benda yang ada di sekitarnya, seperti batu, penjor, umbul-umbul atau yang lain. “Setelah bisa menjadi benda, barulah bisa menjadi lembu, kemudian burung garuda, selanjutnya bisa menjadi pohon waringin sungsang (akar di atas daun di bawah). Setelah itu barulah bisa menjadi bade, dan paling tertinggi bisa menjadi Durga atau yang bisa dilihat yaitu rangda,” jelas Jero Dasaran Alit.
Menurut Jero Dasaran Alit, hari yang sering digunakan untuk melakukan puja bagi penekun ilmu pangeleakan adalah Kliwon, Kajeng Kliwon, Malam Jumat Kliwon, Kalapaksa, Nyepi atau Tilem Kasanga, Tumpek Wayang, Kajeng Kliwon Uwudan. Editor : Nyoman Suarna