Panganceng Pura Luhur Tanah Lot Anak Agung Ngurah Gede Sugiarta menyebutka, keberadaan ular poleng di Pura Tanah Lot ini, tidak terlepas dari sejarah Pura Tanah Lot itu sendiri. “Pada masa itu, dipercaya Dang Hyang Dwijendra memindahkan karang ke tengah laut, kemudian melambaikan selendangnya sehingga muncul ular poleng,” tuturnya.
Ular poleng ini, lanjut Sugiarta, merupakan senjata yang diciptakan oleh Dang Hyang Dwijendra untuk menyerang Bendesa Beraban bersama pengikutnya karena Ki Bandesa Beraban juga sangat sakti, sehingga disebut Bandesa Beraban Sakti.
Ki Bendesa Beraban ini, tidak menyukai kedatangan Dang Hyang Dwijendra, karena ajarannya menarik murid-murid Bandesa Beraban. Sehingga saat itu banyak murid-muridnya berpindah menjadi pengikut Dang Hyang Dwijendra.
Saat diserang, Dang Hyang Dwijendra sedang bersemedi di atas karang berbentuk burung beo. “Ketika itu, Dang Hyang Dwijendra melihat ada Lingga Yoni di wilayah pesisir Pantai Tanah Lot, ia memutuskan untuk bersemedi di atas karang berbentuk burung beo. Sesekali ia ke Pura Pekendungan untuk memberikan dharma wacana kepada warga sekitar,” lanjutnya.
Terkait keberadaan ular poleng ini, dikatakan Sugiarta hingga kini masih bisa dilihat di pesisir Pantai Tanah Lot. Banyak umat Hindu di Bali percaya, berdoa sembari mengelus ular suci ini. “Banyak yang berdoa mendapat keselamatan, rezeki, hingga ingin dikaruniai anak, dan memang ada yang dikabulkan doanya, sehingga mereka kembali lagi ke sini untuk berterima kasih,” tambahnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya