BULELENG, BALI EXPRESS - Lembu putih dalam mitologi Hindu Bali diyakini sebagai wahana Dewa Siwa.
Tentu saja membuat Lembu putih sebagai hewan yang disucikan dan hanya diperuntukkan khusus sebagai sarana pelengkap upacara keagamaan Hindu di Bali. Bahkan, Lembu Putih dijelaskan secara tuntas dalam Lontar Siwagama.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika menyebut Lembu Putih diulas di dalam Lontar Siwagama khususnya pada Sargah IV.
Diceritakan bahwa Bhatari Uma ingin mendengarkan ajaran-ajaran dari Bhatara Guru (Dewa Siwa).
“Namun sebelum ajaran-ajaran tersebut diberikan maka Bhatari Uma diminta oleh Bhatara Guru untuk mencari air susu lembu hitam betina. Kesetiaan Bhatari Uma diuji oleh Batara Guru. Bhatari Uma pergi menuju bumi,” ungkapnya.
Tanpa diketahui oleh Bhatari Uma, Bhatara Guru pun berubah wujud menjadi penggembala lembu hitam.
Selanjutnya pengembala tersebut bernama Rare Angon. Lembu hitam yang digembalakan oleh Rare Angon adalah lembu putih milik Bhatara Guru yang dikutuk menjadi lembu hitam betina. Selanjutnya bertemulah Rare Angon dengan Bhatari Uma.
Munculah hendak Bhatari Uma untuk membeli susu dari lembu hitam yang dimiliki oleh Rare Angon.
Rare Angon dalam dialognya bertanya kepada Dewi Uma untuk apa membeli susu? Namun dijawab oleh Bhatari Uma jika susu tersebut tentu akan berguna. Bahkan, Rare Angon pun ditawarinya emas sebagai pengganti
“Rare Angon tidak tertarik sama emas. Ia akan mau memberikan susu asalkan kecantikannya dijadikan sebagai penebusnya. Karena menurutnya, kecantikan Dewi Uma sangat berharga, pantas dibeli dengan seribu negara,” paparnya.
Apa yang disampaikan oleh Rare Angon membuat hati Bhatari Uma tersipu malu. Perkataan Rare Angon dibiarkan berlalu begitu saja.
Pikirannya bimbang, dipikir-pikirnya lagi, tiada jalan lain kecuali mengikuti keinginan Rare Angon tersebut. Bahkan, Dewi Uma pun menyembunyikan dirinya telah bersuami.
Hati Rare Angon senang, lalu ia bersenggama dengan Bhatari Uma. Setelah percintaan selesai selanjutnya susu lembu hitam tersebut diberikan oleh Rare Angon.
Rare Angon mohon diri kepada Bhatari Uma untuk pergi menunggang lembu hitam betina.
Rare Angon lenyap tak terbayangkan kemana perginya. Bhatari Uma berpikir-pikir tentang kecurangannya dalam mendapatkan keinginan. Sambil berjalan pulang, susu itu dibawa dengan diwadahi kendi emas.
Tidak dikisahkan diperjalanan. Diceritakan Bahwa sebelum Bhatari Uma betemu dengan Batara Guru, Bhatara Guru sedang menobatkan Sang Hyang Pancadewata.
Dalam penobatannya, Sang Hyang Pancadewata diberikan petuah, dan diberi gelar oleh Bhatara Guru yaitu Sang Hyang Kusika, Sang Hyang Gargha, Sang Hyang Maitri, Sang Hyang Kurusya dan Sang Hyang Pretanjala.
Beliau adalah kelompok Pancakasika karena beliau lahir dari kesucian tangan Bhatara Guru. Sang Hyang Kusika lahir dari ibu jari (Anggusta), berwujud Pradhana.
Sang Hyang Garga lahir dari telunjuk (tarjini), berwujud Purusa. Sang Hyang Maitri lahir dari jari tengah (madiamika) berwujud Brahma.
Sang Hyang Kurusya lahir dari jari manis (manamika) berwujud Wisnu.
Sang Hyang Pretanjala lahir dari kelingking (kanistika) berwujud Mahadewa. Demikianlah perwujudan beliau menjadi Bhatara Pancasiwa. Beliau pantas meruwat seluruh alam semesta.
Selanjutnya mereka diminta untuk bertapa oleh Bhatara Guru. Sang Hyang Pancasiwa mohon diri, serta menyembah di kaki Bhatara Guru dengan doa pemujaan:
“Om Om Om nama siwaya nama swaha”.
Dikisahkan Bhatari Uma datang menyembah di kaki Bhatara Guru. Beliau mempersembahkan susu.
Susu tersebut diterima oleh Bhatara Guru dengan pandangan lembut. Selanjutnya Bhatara Guru meminta kepada Sang Hyang Ghana untuk menenung perjalanan ibunya (Bhatari Uma) dalam perjalanannya mencari susu lembu hitam.
Sang Hyang Ghana menurut, kemudian mengambil pustaka, pemberian Bhatara Guru sebelumnya.Pustaka tersebut sebelum dibaca, diberi mantra.
Tampaklah bayangan ibunya berbuat serong dengan pengembala. Hal itu disampaikan kepada Bhatara Guru.
Bhatara Guru tampak tersipu. Betapa marahnya Bhatari Uma dengan serta merta berkata kasar.
“Apa katamu Ghana? Kau masih Bayi, sok tahu meramal sesuatu yang tidak jelas. Kau begitu tega mencela perilaku ibumu! Kau tidak tahu rahasia! Jika saja kau tidak memegang pustaka suci, pastilah kau mati dimakan olehku. Kau kira siapa ibumu ini. Bukankah aku ini perwujudan Durga? Aku bisa menelan bumi!.
Demikian kata Bhatari Uma menghujat. Keluarlah api dari mata Bhatari Uma.
Sangat dahsyat, dan membasmi pustaka itu sehingga dalam sekejap berubah menjadi abu. Hati Sang Hyang Ghana sedih atas terbakarnya pustaka itu.
Pustaka itu ditulis kembali oleh Sang Hyang Ghana. Bhatari Uma menyuruh Sang Hyang Kumara untuk menginjak-injak debu pustaka itu.
Segera Sang Hyang Kumara menginjak-injak abu pustaka itu dengan kedua kakinya.
Karena injakan tersebut, abu pustaka itu berserakan dan menyebar sehingga tidak bisa lagi dilihat oleh mata.
Sang Hyang Ghana marah kepada Sang Hyang Kumara. Sang Hyang Ghana berubah wujud menjadi Sang Hyang Ghanamurti, bertangan empat, dan bertaring empat.
Sang Hyang Kumara ditangkap dan dibantai. Segera Bhatara Guru datang dan menyapa Sang Hyang Ghana dengan ramah.
“Wahai Ghana, janganlah kau berbuat demikian! Itu dinamakan Brahmatya, yang dapat mengakibatkan kesucianmu hilang! Dia masih kanak-kanak. Jika seseorang belum genap berumur empat belas tahun, janganlah dikenai hukuman, hentikanlah kemarahanmu kepada Sang Hyang Kumara! Nanti jika Sang Hyang Kumara sudah besar, lebih dari sepuluh tahun, disanalah kau melanjutkan kemarahanmu kepada Sang Hyang Kumara,” Demikian kata Bhatara Guru.
“Dari cerita singkat di atas dapat diambil benang merah bahwa lembu hitam yang ada di dunia ini berasal dari lembu putih yang dikutuk menjadi lembu hitam oleh Bhatara Guru ketika beliau menjelma menjadi seorang pengembala lembu,” paparnya.
Lembu putih yang terdapat di Desa Taro merupakan keyakinan dari masyarakat Desa Taro bahwa Lembu tersebut adalah milik dari Bhatara Guru yang dititipkan kepada mereka untuk dipelihara melalui seorang maharesi yang bernama Rsi Markandeya.
Seiring berjalannya waktu, kisah Rare Angon ini diabadikan dalam upacara yadnya terutama bila seseorang melaksanakan upacara Maligya.
Pada upacara tersebut selalu diikuti dengan acara mencari “empehan lembu”. Empehan lembu yang dimaksud adalah susu lembu putih yang hanya ada di Desa Taro. Lembu putih tersebut diberi nama “Tiyusmerana”.
Editor : I Putu Suyatra