Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lahir di Wuku Rangda Tiga, Ini Alasannya Kenapa Perlu Penglukatan Rangda Tiga

I Putu Mardika • Kamis, 18 Juli 2024 | 03:21 WIB

Proses Pelukatan Rangda Tiga di Pasraman Sastra Kencana, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali
Proses Pelukatan Rangda Tiga di Pasraman Sastra Kencana, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali
BALIEXPRESS.ID-Dalam perhitungan wariga Bali terdapat enam wuku yang dipengaruhi Rangda Tiga yakni Wariga, Warigadean, Pujut, Pahang, Menail dan Prangbakat.

Kelahiran pada Wuku Rangda Tiga diyakini memiliki pengaruh negatif terhadap orang tersebut. Namun, bisa dinetralisir dengan penglukatan Rangda Tiga.

Penglukatan Rangda Tiga merupakan proses pembersihan diri jiwa dan raga dari pengaruh negatif kelahiran yang di sebut dengan istilah kelahiran Rangda Tiga.

Bahkan, dalam padewasan pawiwahan di Bali, Wuku Rangda Tiga sangat dihindari untuk melaksanakan upacara perkawinan, karena diyakini bisa berdampak negatif.

Kelahiran pada Wuku Rangda Tiga ini pada umumnya di tandai dengan andeng-andeng di kelamin (andeng-andeng apit wangke).

Pengaruh dari kelahiran ini akan menimbulkan emosional yang berlebihan pada seseorang terutama pada wanita, memiliki sifat keras hati.

Baca Juga: Nangkil ke Pura Luhur Muncaksari Tabanan, Pemedek bisa Peroleh Paica Manik Galih sebagai Jejaton

Selain itu, mereka juga memiliki watak mudah marah bahkan bisa seperti kesurupan di saat emosi, tidak pernah merasa takut, terutama saat di rangsuki oleh kekuatan Rangda Tiga atau Tri Dhurga Wisesa.

Namun di balik sifat dan prilaku keras yang di miliki ada pengaruh positif yang luar biasa yaitu wanita tersebut menjadi orang tipe pekerja yang kuat dan ulet serta sangat rejekian, Rata-rata segala pekerjaanya berhasil dengan rejeki yang baik, murah sandang dan pangan,

Namun ada yang cukup membahayakan yaitu pada umumnya suaminya akan sakit-sakitan bahkan bisa meninggal lalu kawin cerai hingga 2 atau 3 kali.

Bahkan dimitoskan bahwa sang suami konon menjadi tadahan Rangda Tiga tersebut, antara benar dan salah kita sulit melakuan kaji, uji, bukti dan evaluasinya, namun cukup banyak umat yang meyakininya.

Pinihsepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Nabe Budiarsa mengatakan untuk menetralkan atau menghilangkan pengaruh Rangda Tiga itu ada bermacam-macam cara.

Ada dengan upacara bebayuhan dengan upacara tertentu. Ada pula dengan kekuatan puja mantra yang di petik dari ajaran tatwa sastra Dasa Aksara dan Kanda Empat,

Caranya adalah dengan mempelajari sifat dan kekuatan dari pada Rangda Tiga itu sendiri.

Setelah itu barulah di rangkai doa tatwa sastranya untuk bisa menetralkan dan mengeluarkan kekuatan itu dari dalam tubuh agar kembali ke alam dan bersemayam di Kahyangan Desa Puseh Dalem.

“Karena Rangda Tiga itu adalah sakti dari Sanghyang Tiga Brahma Wisnu Iswara dalam proses Utpeti, Sthiti, dan Pralina,” jelasnya.

Dengan menggunakan rumusan sastra Dasa Akasara dan Kanda Empat maka segala bentuk upacara bisa di sederhanakan tetapi mampu menghasilkan bukti nyata di saat nyomia Tri Dhurga itu dari dalam tubuh.

Baca Juga: Pura Luhur Muncaksari Tabanan, Jadi Tempat Memohon Kemakmuran, Seblum Bercocok Tanam Petani kerap Nangkil

Menurutnya, ada kelebihan ada kekuarangan, ada kekuatan ada kelemahan. Hal itu adalah rahasia alam baik yang ada di Buana Agung maupaun di Buana Alit dan umat Hindu meyakininya.

Dengan rumusan sastra maka bisa mempelajari rahasia kekuatan dari Panca Dhurga yang menyatu menjadi Tri Durga yaitu Sanghyang Ayu Mas Rangda, Sanghyang Nila Sraya, dan Sanghyang Smara Bawa, kemudian dari Tri Dhurga ini menyatu menjadi Dwi Dhurga maka lahirlah wujud Bhatari Dhurga dan Dewi Dhurga.

Bhatari Dhurga adalah rahasia kekuatan panas atau api, Dewi Dhurga adalah rahasia pancaran sinar panas api.

Lewat Tatwa Kanda Empat dan Dasa Aksara kita bisa merumuskan kekuatan itu agar bisa di stabiliser lalu di rubah fungsinya agar menjadi positif.

Kekuatan Tri Dhurga itu jika menyatu akan menjadi kekuatan Nawa Gni Murti atau api yang datang dari segala arah atau api yang keluar dari 9 lobang tubuh manusia jika mampu ngerangsuk kekuatan Dhurga secara sempurna.

Kemudian, kekuatan itu terdiri dari seluruh kekuatan panas yang datang dari 5 penjuru (Panca Dhurga), dan kekuatan panas yang datang dari 7 lapisan bumi sapta petala (Sapta dhurga).

Bila sapta Dhurga ini menguasai 7 cakra manusia, dan Panca Dhurga ini menguasai kulit daging otot tulang dan pancering sarira atau inti tubuh maka diri akan memiliki kekuatan Dhurga penuh, dan ke 9 lobang tubuh akan mengeluarkan panas api.

Namun kekuatan itu tidak bisa di lihat oleh sembarang orang, hanya bisa dilihat oleh orang tertentu.

Menurut sastra Dasa Aksara dan Kanda Empat kekuatan Dhurga ini hanya bisa dinetralkan dengan kekuatan Siwa. Karena itulah di bumi ini hanya ada dua kekuatan maha besar yaitu kekuatan Siwa dan Dhurga.

Kekuatan Siwa berasal dari gabungan kekuatan Tri Buana Sapta Loka, sedangkan kekuatan Dhurga berasal dari kekuatan Natar Buana Sapta Petala.

Bila memahami rumusan sastra Dasa Aksara agar terciptanya kekuatan Siwa dan memahami pula rahasia Kanda Empat hingga terciptanya kekuatan Dhurga

Maka kekuatan Siwa dan Kekuatan Dhurga itu dapat diciptakan dan dapat pula di netralkan, dapat keluar masuk ke dalam tubuh sesuai kebutuhan asal paham pasuk wetunya kekuatan Siwa Dhurga dalam diri, dan ajaran inilah di sebut ajaran Kiwa Tengen.

Baca Juga: Pura Pengubengan Besakih, Stana Sang Hyang Taksaka, Jadi tempat Ngubeng saat pujawali

Pun begitu pula tata cara menetralkan kekuatan Tri Dhurga atau Rangda Tiga pada tubuh seseorang lalu merubahnya menjadi kekuatan positif.

Yang tadinya mudah emosi, marah kesurupan susah terkendali, berubah menjadi sifat cinta kasih penuh perhatian.

Tadinya kowos boros walaupun murah rejeki, berubah menjadi sayang harta hemat dan bersahaja.

“Yang tadinya menghukum suami konon bisa menyakiti suami akan berubah menjadi sayang suami pendorong keberkatan dan kerejekian suami. itulah Kelahiran Rangda TIga, di bali kelemahan ada kelebihan dan kekuatan, Dan Itulah rahasia kekuatan Siwa dan Dhurga,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #dasa Aksara #wariga #hindu bali #hindu #penglukatan #Dhurga #Rangda Tiga #siwa