Umat Hindu Bali menjadikan lawar sebagai sarana ritual yang sarat akan makna. Baik dari bumbu yang digunakan maupun warnanya.
Berdasarkan bumbu lawar yang digunakan, dijelaskan mengenai kandungan bahan-bahan bumbu terkait simbol pemujaan tokoh pewayangan (kuluarga pandawa) sampai nilai urip (kekuatan angkanya).
Kadek Edi Palguna mengatakan, seperti telah dijelaskan dalam Lontar Dharma Caruban, diantaranya Cekuh, merupakan simbol dari Sahadewa (Timur) dengan nilai urip 5; Isen, merupakan simbol dari dari Sang Bima (Selatan) dan memiliki nilai urip 9.
Kunyit, merupakan simbol dari Sang Arjuna (Barat) dengan nilai urip 7; Jahe, merupakan simbol Sang Nakula (Utara) dan memiliki nilai urip 4.
Bawang Merah, merupakan simbol dari Sang Dharma Wangsa (Tengah) dengan nilai urip 8; dan Lemo merupakan simbol dari Dewi Drupadi, memiliki sifat menyatukan kelima Pandawa.
Berdasarkan tetandingan banten, tata letak (tetandingan) lawar pada aled upakara atau alas sesajen dari anyaman janur yang berbentuk segi empat sama sisi ini.
Selain itu mengikuti pola letak warna pada pengider-ider bhuwana (penguasa penjuru arah mata angin) sebagai simbol perwakilan dari Panca Dewata atau empat arah mata angin yang memiliki pusat di tengah.
“Letaknya juga masing-masing mengikuti perputaran arah jarum jam (purwa daksina) adalah Timur, Selatan, Barat, Utara, dan Tengah,” katanya.
Dengan demikian ada lima jenis warna lawar yang digunakan untuk sesajen oleh masyarakat Bali.
Diantaranya Lawar putih di arah Timur (Purwa artinya awal) menjadi simbol wilayah kekuasaan Dewa Iswara.
Lawar abang (merah darah) di arah Selatan (Daksina) menjadi simbol wilayah kekuasaan Dewa Brahma, Lawar penyon (kuning) terletak di arah Barat menjadi simbol wilayah kekuasaan Dewa Mahadewa.
Kemudian Lawar ijo (hijau) di arah Timur menjadi simbol wilayah kekuasaan Dewa Wisnu.
“Sedangkan Lawar padamara sebagai campuran yang sama empat lawar tersebut di Tengah menjadi simbol wilayah kekuasaan Dewa Siwa sebagai pusat orientasi atau pemersatu semua Dewa,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika