Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Kesakralan dari Setra Dibangun dengan Caru Pengruwak, Bisa menjadi tempat Memohon Kesembuhan

I Putu Mardika • 2024-09-10 04:11:24

Setra bagi umat Hindu menjadi tempat sakral karena melalui tahap prosesi sakralisasi
Setra bagi umat Hindu menjadi tempat sakral karena melalui tahap prosesi sakralisasi
BALIEXPRESS.ID-Setra bagi umat Hindu di Bali merupakan bagian penting dalam aktifitas ritual kematian. pada sebuah tanah lapang yang difungsikan untuk tempat menyelenggarakan aktivitas ngaben dan juga aktivitas menguburkan mayat sebelum dilaksanakannya upacara ngaben.

Setra berasal dari Bahasa Sanskerta kesetra berarti padang yang luas, seperti yang terkandung dalam istilah Kuru Kesetra dalam kisah perang Bharatayudha. Sekalipun setra difungsikan untuk mengubur mayat, setra tidak dapat dipersamakan dengan pengertian kuburan dalam Bahasa Indonesia.

Ida Bagus Made Bhaskara dari Geria Sunia Tampaksiring, Gianyar mengatakan dalam istilah lain, setra juga disebut semasana, yang juga berasal dari kata Sanskerta yaitu sema mengandung arti berhubungan sawa yaitu mayat dan sana berhubungan dengan kata sayana berarti berbaring.

Dengan demikian semasana berarti tempat pembaringan mayat. Selain dimaknai dengan dua istilah di atas, sema juga dapat berarti pancaka yang berasal kata panca berarti lima.

Dalam teks Purwa Gama Sesana dan lontar Boda Kecapi dikisahkan ketika Ida Bhatara Durga berstana di setra dan setelah mendapat anugrah Bhatara Brahma.

Ida Bhatara Durga memiliki kemampuan untuk memanggil saudara empat beliau yang ada di Surga untuk turun ke kuburan dan memberikan cobaan dan penyakit kepada orang yang tidak taat beragama dan saudara empat bersama Ida Bhatara Durga berubah menjadi panca Durga, sehingga setra juga disebut pancaka.

Baca Juga: Misteri Spiritual di Pura Luhur Pucak Bukit Sari Pacung: Tempat Pasupati yang Dipercaya Sakral

Setra juga disebut samgraha berasal dari kata sam artinya sama dan graha berarti tempat. Dengan demikian samgraha berarti tempat bagi semua orang (pada saatnya).

Sema atau Samgraha juga bermakna sebagai tempat bertemunya para roh leluhur, rerencangan Ida Bhatara Durga dengan rerencangan Ida Bhatara Siwa Prajapati.

“Dalam konteks Bali, setra juga disebut gumi wayah, gumi tua, tegal penangsaran, dan berbagai istilah setempat menurut istilah yang berkembang di setiap wilayah,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, perbedaan setra dengan kuburan pada umumnya, pertama-tama dibuat melalui proses upacara atau ritus-ritus dan upakara yang khusus. “Tidak hanya sekedar tanah lapang,” ungkapnya.

Dalam Lontar Indik Ngewangun Setra dijelaskan bahwa salah satu tahapan penting dalam membuat setra adalah pada caru pangeruwak yang dilakukan sebelum proses Pembangunan.

Salah satu sarana caru pangruwak setra menggunakan binatang angsa, binatang yang diyakini sebagai binatang suci. Itu sebabnya setra itu diyakini sebagai tempat suci karena dibangun atas dasar niat suci, sarana-sarana suci, sukat (ukuran-ukuran) suci yang diyakini akan mampu memberikan kesucian dan kesakralan setra.

Atas dasar itu, setra memiliki beberapa fungsi di antaranya pertama, setra berfungsi sebagai pralinam artinya tempat atau areal untuk mempercepat pengembalian (memprelina) unsur-unsur panca maha buta ke asalnya khususnya manusia ke sumber asalnya.

Fungsi kedua, setra sebagai prayoga yaitu tempat untuk melakukan yoga samadi. Disebutkan sebagai tempat yoga semadi, karena setra baik untuk melaksanakan ajaran-ajaran kewisesaan. Pada beberapa teks-teks disebutkan bahwa setralah sebagai tempat yang baik untuk melakukan dan atau memperaktekan ajaran-ajaran tantrik.

“Di dalam teks suci seperti purwa bumi kemulan, yama purana tattwa, teks suci purwa gama sesana, banyak rsi yang beryoga,” katanya.

Baca Juga: Pura Gunung Kawi: Jejak Raja Udayana dan Ritual Suci yang Masih Dilestarikan

Dalam beberapa teks disebutkan banyak Rsi yang beryoga di setra, misalnya mpu Barang dalam teks Tantu Barang beryoga di setra. Danghyang Astapaka leluhurnya Bodawangsa juga melaksanakan yoga di setra.

“Tentu termasuk mereka yang hendak mempelajari dan mempraktekan aji pangliakan wajib untuk melakukan yoga di setra. Jadi fungsi ini sebagai tempat payogan,” sebutnya.

Ketiga, ada juga yang mempraktekan dan atau memfungsikan setra sebagai tempat untuk memohon kesembuhan, misalnya dalam teks Usada Pemupug disebutkan ketika seseorang sakit dan setelah berusaha diobati.

Baik dengan cara medis maupun non medis, tidak kunjung sembuh (lara tan keneng tinamban), maka jalan terakhir yaitu dilakukan pengelukatan di tengah setra, di kaki Bhatara Siwa atau kaki kala dan nini Durga.

“Karena pada setra inilah samgraha, sebagai tempat leluhur bersemayam, kekuatan Bhatari durga, kekuatan Siwa, bertumpu pada setra, sehingga lara tan kening tinamban. Biasanya berhasil,” paparnya.

Keempat, setra selalu berkaitan dengan mandala, selalu berkaitan dengan desa pakraman. Jika desa pakraman itu dianalogikan dengan tubuh manusia, maka pura desa dan puseh itu identik dengan kepala (ulu), sementara ketika menyebut badan maka identik dengan pura Dalem, dan ketika menyatakan perut identik dengan setra.

Baca Juga: Misteri Pura Pucak Payogan: Tempat Yoga Rsi Markandya yang Diselimuti Kehidupan Mistis di Tengah Hutan Ubud, Pantang Haturkan Daging Babi

Itu sebabnya mengapa setra itu semestinya berada di wewidangan atau wilayah desa pakraman. Di setra terdapat pelinggih yang disebut uluning setra, entah itu Prajapati, Dalem pengulun setra, atau sedahan atma.

Sebagai bagian dari desa pakraman, dan bersifat suci, maka menjadi kewajiban setiap warga desa adat untuk menjadi kesucian dan fungsinya setra sesuai kaidah-kaidah yang telah ditetapkan dan dicantumkan dalam awig-awig desa pakraman.

“Karena di setra ini terjadi proses pamralinam. Jadi setra ini adalah tempat suci, dan harus ada proses sakralisasi. Sehingga menjadi bagian dari pelinggih kahyangan tiga. Sehingga hubungannya juga sangat kuat,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#durga #bali #lontar #setra #hindu #sema #siwa