BALIEXPRESS.ID – Pratima dan Pralingga dalam Hindu khususnya di Bali memiliki makna spiritual, makna kesucian, dan taksu. Hal itu dijelaskan oleh akademisi Universitas Hindu Indonesia Denpasar, Ida Kade Suarioka, beberapa hari lalu di Denpasar.
Disebutkan dari makna spiritual, pratima dan pralingga sebagai media untuk berhubungan dengan Tuhan. Menurut ajaran agama Hindu, Tuhan tidak memiliki bentuk fisik yang tetap dan abadi. Namun, untuk membantu umat Hindu dalam memahami keberadaan Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa, mereka dapat menggunakan simbol - simbol dan representasi.
“Salah satu simbol yang umum digunakan adalah Pratima dan Pralingga. Pratima dan Pralingga adalah simbol keagamaan yang sering ditemukan di berbagai daerah di Bali yang memiliki makna yang serupa, yaitu sebagai wadah atau media untuk berhubungan dengan Tuhan,” bebernya.
“Demikianlah para bhakta penyungsung Pratima pralingga senantiasa memohon kekuatan,tuntunan dan perlindungan kepada beliau yang distanakan di pelinggih pura maupun yang distanakan melalui media lain,” tegas Suarioka.
Dalam ajaran Tantrayana, taksu itu bisa diartikan sama dengan “sakti” atau “Wisesa”. Dan yang dimaksud dengan sakti itu adalah simbol dari pada “bala” atau kekuatan. Dalam sisi lain sakti juga disamakan dengan energi atau “kala”. Dalam Tattwa, daya atau sakti itu tergolong “Maya Tattwa”. Energi dalam bahasa Sanskrit disebut “prana” adalah bentuk ciptaan yang pertama dari Brahman. Dengan mempergunakan “prana” barulah muncul ciptaan berikutnya (Panca mahabhuta). Dengan digerakkan oleh “prana” kemudian terciptalah alam semesta termasuk makhluk isinya secara evolusi.
Tuhan Nirguna Brahma atau Paramasiva dalam sistem Siva Tattwa, memanfaatkan energi atau sakti itu, sehingga Ia menjadi Maha Kuasa, memiliki Cadu Sakti dengan asta Aisvaryanya. Dalam keadaan yang demikian itu, Ia adalah Maha Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur, yang dalam Wrhaspati Tattwa disebut Sadasiva Tattwa dan di dalam Filsafat Vedanta Ia disebut “Saguna Brahma”.
Baca Juga: Geger Buleleng! Dua Selebgram Mahasiswi Terancam Penjara Gara-Gara... Judol?
Perwujudan Pratima pralingga dimaksudkan bahwa linggih atau tempat suci manakala belum ada Pratima atau Prelingga dirasakan kurang metaksu. “Hal itu tampak dengan jelas bahwa pratima pralingga Purusa Prakerti memiliki makna kekuatan yang dipuja pada Pratima pralingga selalu dimohonkan untuk menuntun masyarakat penyungsungnya,” pungkas Suarioka.
Pratima dan pralingga juga memunculkan rasa persatuan merujuk pada kesepakatan untuk bersatu dan bekerja bersama dalam mencapai tujuan yang sama. Hal ini mencakup pengorbanan diri demi kepentingan bersama, mengutamakan kepentingan kolektif daripada kepentingan pribadi, serta menghormati dan mengakui hak-hak martabat semua warga negara.
Terkait pemaknaan Pratima dan Pralingga sebagai makna persatuan,maka hal ini dapat dilihat bahwa perwujudan kekuatan yang dipuja dalam Pratima dan Pralingga oleh penyungsungnya berpengaruh sangat besar terhadap keyakinan umat penyungsungnya. Hal ini terjadi mengingat tingkat pemahaman, keyakinan maupun penghayatan umat Hindu terhadap kekuatan yang dipuja selalu dan pasti beragam dan berjenjang.
Pada tingkatan bhakti dan karma umat Hindu sangat membutuhkan media, baik berupa bangunan pelinggih, Pratima,pralingga termasuk arca maupun sarana upakara yadnya lainnya. Umat Hindu umumnya lebih dominan ada pada tataran bhakti dan karma, sehingga masih sangat membutuhkan media berupa pratima maupun Pralingga . Akibat dari setiap pemujaan memerlukan media, maka dari itulah umat penyungsungnya berusaha untuk hadir untuk memanjatkan puja baktinya kepada kekuatan yang dipuja yang diwujudkan dalam bentuk Pratima dan Pralingga.
Tanpa adanya Pratima pralingga maka umat penyungsung pura merasakan; pertama sulit memusatkan pikiran untuk berbhakti. Sementara yang kedua umat terasa kurang mantap untuk melaksanakan puja bhakti persembahan pada hari- hari suci maupun hari raya lebih-lebih pada hari pujawali pada pura bersangkutan.
Atas dasar itu maka kebijakan yang sering diambil dan sering dilaksanakan oleh para manggala krama dan penyungsung pura adalah dengan memberikan waktu yang cukup memadai kepada krama untuk sembahyang. Dengan cara bergantian sehingga umat dapat sembahyang dengan menyaksikan Pratima pralingga pada pelinggih tempat pemujaan (bale papelik/bale piyasan).*
Editor : Putu Agus Adegrantika