BALIEXPRESS.ID - Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, mengajak umat untuk kembali merenungkan pentingnya keseimbangan antara pikiran, nafsu, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ketiga aspek tersebut merupakan struktur integral yang saling berkaitan dan menentukan kualitas hidup seseorang, baik secara spiritual maupun sosial.
Ia menjelaskan, dalam berbagai susastra suci Hindu telah diakui adanya korelasi kuat antara pikiran (manah), nafsu (kama), dan perilaku (karma). Bahkan dalam perspektif psikologi modern, ketiganya dipahami sebagai aspek mendasar yang membentuk karakter dan tindakan individu. Praktisi yoga pun kerap menekankan pentingnya harmonisasi ketiganya sebagai jalan menemukan keseimbangan diri.
Baca Juga: Satu Perwira Polres Gianyar Naik Pangkat dan Tiga Personel Purnabakti
Dalam pemaparannya, Danu Tirta mengutip ajaran dari Sarasamuccaya Sloka 86 yang menegaskan bahwa pikiran adalah sumber dari hawa nafsu dan penggerak utama perilaku manusia. Sloka tersebut berbunyi, “Apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrĕtti ta ya ring śubhāśubhakarma, matangnyan ikang manah juga prihĕn kahrĕtanya sakarĕng,” yang berarti pikiran merupakan asal mula munculnya perilaku baik maupun buruk, sehingga harus dikendalikan dengan sungguh-sungguh.
Menurutnya, pikiran dapat diibaratkan sebagai hulu dari “aliran sungai” dalam diri manusia. Tidak hanya karena posisinya berada di bagian kepala sebagai pusat otak, tetapi juga karena pikiran menjadi sumber lahirnya ide, gagasan, dan inovasi. Dalam konteks Hindu, kepala dipandang sebagai bagian tubuh yang paling sakral karena menjadi ruang bertumbuhnya kesadaran dan penalaran.
Ketika seseorang menghadapi masalah hidup, lanjutnya, akar persoalan sejatinya dapat ditelusuri kembali pada pikiran. Cara berpikir yang keliru akan memicu munculnya dorongan negatif, yang kemudian bermuara pada perilaku yang tidak selaras dengan dharma. "Karena itu, pengendalian pikiran menjadi kunci utama dalam membangun kualitas diri, " jelas Danu.
Sementara itu, nafsu atau kama disebut sebagai bagian tengah dalam struktur diri manusia. Nafsu berkaitan erat dengan perasaan, suasana hati, dan gairah hidup. Meski demikian, nafsu tetap mendapatkan pengaruh besar dari pikiran. Apa yang dipikirkan, itulah yang kemudian membentuk dorongan atau keinginan dalam diri.
Baca Juga: Apel Disiplin, Bupati Mahayastra Tegaskan ASN Kerja Nyata, Jangan Terlihat Sibuk Namun Tanpa Hasil
Danu Tirta mencontohkan nafsu makan yang sering dirasakan melalui sensasi lapar di perut. Demikian pula nafsu seksual yang berhubungan dengan organ reproduksi. Dalam ajaran Hindu, konsep ini kerap dikaitkan dengan muladhara cakra, yakni cakra dasar yang bersemayam di area organ reproduksi dan anus, sebagai pusat dorongan naluriah manusia.
Ia menegaskan, nafsu tidak selalu bermakna negatif. "Justru, nafsu yang terkelola dengan baik akan menjadi energi penggerak bagi pikiran untuk mewujudkan ide dalam tindakan nyata. Nafsu berfungsi sebagai penguat rasa dan gairah sebelum pikiran dieksekusi dalam bentuk perilaku, " imbuh pria asli Penebel, Tabanan ini.
Adapun perilaku atau karma merupakan muara akhir dari ketiga struktur tersebut. Perilaku adalah aksi nyata yang dapat diamati, dinilai, dan dirasakan dampaknya oleh lingkungan sosial. Baik buruknya seseorang pada akhirnya tercermin dari perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pendidikan moral, masyarakat sering kali hanya menekankan pentingnya berperilaku baik. Namun menurut Danu Tirta, perilaku baik saja tidak cukup jika tidak disertai pikiran yang jernih dan nafsu atau dorongan untuk berbuat baik secara konsisten. Tanpa keseimbangan itu, kebaikan dapat menjadi sekadar kamuflase.
Ia juga menyoroti potensi terjadinya inkoneksi antara pikiran, nafsu, dan perilaku. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh faktor fisik, kondisi emosional, maupun kemampuan berpikir seseorang. Inkoneksi tersebut kerap menjadi penyebab stagnasi dalam kehidupan.
Contohnya, ada orang yang memiliki banyak ide cemerlang, namun tidak memiliki gairah untuk mewujudkannya sehingga tak pernah berbuah tindakan. Sebaliknya, ada pula yang memiliki dorongan besar, tetapi tidak disertai perencanaan dan inovasi yang matang, sehingga energinya terbuang sia-sia.
Kasus lain, seseorang mungkin memiliki kondisi fisik yang bugar, namun tidak memiliki arah pikiran maupun dorongan kuat untuk bertindak. Akibatnya, hidup terasa kosong dan tanpa pencapaian. Hal-hal seperti ini, menurutnya, perlu disadari sebagai bagian dari dinamika hidup yang harus dikelola.
Untuk itu, mewujudkan “hita” atau keharmonisan antara pikiran, nafsu, dan perilaku menjadi sangat penting. Keseimbangan ketiganya akan melahirkan pribadi yang jujur, berintegritas, dan konsisten dalam menjalani kehidupan.
Ia menekankan bahwa pengendalian dapat dimulai dari sentralnya, yakni pikiran. "Pikiran yang terkelola dengan baik akan memunculkan gairah positif. Gairah yang positif selanjutnya akan mendorong perilaku luhur dan bermanfaat bagi sesama, " tegasnya.
Kemajuan maupun kemunduran hidup seseorang, lanjutnya, sangat bergantung pada kualitas pengelolaan ketiga unsur tersebut. Ketika pikiran jernih, nafsu terkendali, dan perilaku terarah, maka kehidupan akan bergerak menuju kemajuan yang berlandaskan dharma.
Baca Juga: Wujudkan Hunian Layak dan Berkualitas, BRI Perkuat Program Gentengisasi melalui Skema KUR Perumahan
Sebaliknya, ketika pikiran dipenuhi kebencian, nafsu dibiarkan liar, dan perilaku tidak terkontrol, maka kemunduran hidup sulit dihindari. Oleh karena itu, pengendalian diri menjadi bentuk tanggung jawab spiritual setiap individu.
Sebagai penyuluh agama, Danu Tirta berharap umat Hindu semakin sadar akan pentingnya introspeksi diri. Ia mengajak masyarakat untuk melatih pikiran melalui doa, meditasi, dan pembelajaran susastra agar mampu menjadi pusat kendali yang bijaksana.
Dia menyimpulkan bahwa manah, kama, dan karma merupakan struktur integral penggerak kehidupan. Ketiganya saling mempengaruhi dan menentukan pencapaian seseorang di dunia.
“Marilah bersama-sama mengendalikan pikiran sebagai sentralisme ketiganya, sehingga kita mampu menjadi manusia subakarma di marcapada,” tutup I Made Danu Tirta, menegaskan pentingnya hidup selaras antara pikiran, gairah, dan tindakan nyata. *