Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Imbas Erupsi Gunung Agung, Ubud yang Dulu Macet Jadi Lengang

I Putu Suyatra • Sabtu, 2 Desember 2017 | 15:51 WIB
Imbas Erupsi Gunung Agung,  Ubud yang Dulu Macet Jadi Lengang
Imbas Erupsi Gunung Agung, Ubud yang Dulu Macet Jadi Lengang

BALI EXPRESS, GIANYAR - Erupsi Gunung Agung yang sempat membuat Bandara Internasional Ngurah Rai ditutup selama tiga hari benar-benar mengguncang pariwisata di Bali, termasuk Ubud. Bahkan Ubud yang normalnya pada November dan Desember selalu macet dan disesaki wisatawan, sejak beberapa hari terakhir lenggang. Bahkan beberapa ruas jalan utama yang menjadi lokasi favorit wisatawan terlihat begitu sepi dari lalu lalang para turis.


Pantauan di Ubud sepanjang hari kemarin (1/12) menunjukkan, jika kondisi Ubud benar-benar telah berubah. Beberapa titik dan ruas jalan utama, seperti Catus Pata depan Puri Ubud, lalu Monkey Forest, hingga Jalan Monkey Forest, Jalan Raya Ubud, Jalan Dewi Sita, dan Jalan Anoman yang selama ini disesaki wisatawan terlihat begitu lengang.


Tidak hanya di kawasan tersebut, Pasar Seni Ubud yang biasanya ramai wisatawan sepanjang hari kemarin juga terlihat sepi. Wisatawan yang terlihat di beberapa kawasan itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari, dan rata-rata wisatawan tersebut memang tinggal atau menginap di sekitar Ubud.


Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Kadisparda) Gianyar AA Bagus Ari Brahmanta mengungkapkan, apa yang terjadi di Ubud saat ini merupakan imbas dari erupsi Gunung Agung, khususnya penutupan Bandara Ngurah Rai selama tiga hari. Bahkan sepinya Ubud tak hanya terjadi pada siang hari, tapi kala malam hari Ubud malah semakin sepi. Karena jika biasanya lalu lintas dan lalu lalang wisatawan baru berakhir sekitar pukul 03.00 dinihari, saat ini jam 22.00 malam saja suasananya sudah sangat sepi. Padahal seperti katanya, November hingga Desember merupakan salah satu waktu puncak kunjungan (high season) wisatawan Eropa dan Amerika. “Sekarang diatas jam 22.00 malam itu sudah sangat sepi. Kalau keadaan normal jam segitu sedang ramai-ramainya. Kondisi ini terjadi sejak Bandara Ngurah Rai ditutup selama tiga hari itu,” ucapnya.


“Hanya Gunung Agung yang bisa mengatasi kemacetan di Ubud. Tapi kondisi ini (sepi) bukanlah yang sebenarnya kami inginkan,” sambungnya.


Hal senada disampaikan I Kadek Era Sukadana, anggota DPRD Gianyar dari Desa Padangtegal, Ubud. Melihat Ubud tanpa macet selama ini memang menjadi harapan semua pihak. Namun dia tidak menyangka, jika hilangnya macet di Ubud karena ditinggalkan wisatawan akibat imbas erupsi Gunung Agung. “Selama ini semua pihak berharap macet di Ubud dapat diselesaikan. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Terus terang sedih melihat apa yang terjadi sekarang, yang dampaknya sangat besar,” ucapnya.


Nah di tengah situasi pariwisata Ubud yang seperti mati suri. Beberapa pelaku pariwisata yang sehari-hari nongkrong di Catus Pata Ubud, seperti para supir transportasi (taxi) mengaku sudah iklas dengan kondisi tersebut. Mereka rata-rata mengatakan, kalau apa yang terjadi sekarang merupakan kehendak alam dan Tuhan. “Ya mau bagaimana lagi, ini sudah kehendak Ida (Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Red) dan alam. Apakah bisa kita melawan kehendak alam. Yang penting semua selamat dulu, soal rejeki Ida yang sudah mengatur,” ucap Nyoman Danu, 64, sopir transportasi Taxi yang sehari-hari merayu wisatawan untuk mau menggunakan jasanya.


Dia menjelaskan bahwa sepinya Ubud seperti yang tampak kemarin sebenarnya sudah berlangsung sekitar seminggu yang lalu, atau saat Bandara Ngurah Rai memberlakukan sistem buka tutup, dan berlanjut dengan penutupan secara terus menerus selama tiga hari. Pria asal Kutuh Kelod, Ubud ini mengakui jika kunjungan wisatawan normal, dari jasa Taxi yang dilakoninya setidaknya bisa menghasilkan Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu sehari. “Sekarang dengan sepinya turis, sehari belum tentu dapat tamu,” paparnya.


Menurut Danu dan juga rekan-rekannya, sepinya wisatawan selain bisa dilihat dari kondisi jalan yang tak lagi macet. Rombongan wisatawan yang biasanya silih berganti menyusuri trotoar dari central parkir juga tak lagi ada. Tak hanya itu, wantilan di depan Puri Ubud yang biasanya menjadi lokasi dropzone wisatawan yang diangkut travel juga kosong melompong. “Kalau normal, disini sudah sesak oleh wisatawan, baik yang baru turun maupun yang menunggu jemputan travelnya. Sekarang bisa dilihat sendiri. Tak ada guide dari travel-travel disini,” imbuhnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#ubud