DENPASAR, BALI EXPRESS – Berawal dari berjualan satu freezer ice cream di garasi rumah, Fachri Halid sukses berwirausaha di usianya yang terbilang muda. Dibuka saat pandemi Covid-19 tengah mewabah, tepatnya pada Mei 2020, hanya dengan modal Rp 120 ribu, kini Fachri mengantongi omzet sampai Rp 150 juta sebulan.
“Berawal dari satu freezer kecil ukuran 200 liter, itupun tidak full hanya beberapa karton ice cream. Saya jualan lewat sosial media seperti instagram dan facebook. Kemudian dari pusat menawarkan saya promo. Saya disupport promo gila-gilaan, ya sudah usahanya berkembang sampai sekarang,” ujar Fachri saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di lokasi, Jalan Tukad Pancoran, Denpasar, Senin (28/6).
Awalnya laki-laki asal Surabaya ini hanya mengerjakan bisnisnya seorang diri. Selang beberapa bulan, sekitar November 2020, barulah ia merekrut pegawai dan hingga kini telah mengajak enam pegawai. Dulunya, imbuh dia, sempat menjadi distributor salah satu brand ice cream, namun karena kebijakan yang berubah, dirinya fokus menjual eceran dan open reseller.
Sebelum berjualan ice cream, Fachri membantu orang tuanya menjual baju keliling. Lantas, karena merasa tertarik di bidang usaha, Fachri pun nekat untuk mencoba berjualan ice cream.
Saat ini Fachri telah menjual sebanyak 9 brand ice cream, seperti Campina, Aice, Diamond, Paletas, dan jenis brand lainnya. Harga ice cream yang dijualnya pun beragam, mulai dari Rp 1000 hingga Rp 250 ribu untuk ice cream termahal. Usahanya yang bernama Ice Cream Universe dibuka mulai pukul 10.00 sampai 21.00 Wita.
“Saya jualan di garasi rumah karena terkendala tempat, masih belum ada modal untuk sewa toko. Jadi yang ada dulu dimanfaatkan,” ungkap laki-laki kelahiran 1996 tersebut.
Kendati hanya berjualan di garasi rumah, Fachri tetap mengedepankan pelayanan yang baik untuk customernya. Dia pun menyediakan free dry ice dan paper ice bagi customer, terutama yang berdomisili cukup jauh, sehingga ice cream yang dibeli tidak mudah mencair. “Yang membedakan dari toko lainnya, kami lebih mengutamakan pelayanan. Pelayanan offline maupun online di sini kami jaga dengan baik. Promo juga di sini banyak dan menarik. Untuk harga di sini lebih murah kalau paketan, tapi satuan beda tipis, sedangkan untuk promo pasti lebih murah,” jelasnya.
Musim hujan tentunya sangat berpengaruh terhadap penjualan ice creamnya. Namun, Fachri mengaku, dirinya selalu memasang target penjualan yang harus dicapai. “Hujan tidak hujan, pandemi tidak pandemi, harus kena target. Jadi seharinya ada minimal penjualan berapa gitu,” kata dia.
Kedepannya, Fachri berharap bisa memiliki tokonya sendiri. Ia juga berharap bisa membuka cabang di sejumlah tempat. “Saya juga ingin mengembangkan produk lain selain es krim dan rencananya mau import ice cream dari Thailand,” katanya. “Jadi mumpung masih muda, dimanfaatkan waktunya, pikirannya, tenaganya untuk suatu hal yang baik agar lebih maksimal,” tutur dia.(ika)
Editor : Nyoman Suarna