DENPASAR, BALI EXPRESS – Sejak mewabahnya pandemi pada Maret 2020 lalu di Bali, usaha garmen milik I Made Suparta (56) sama sekali tak bergeliat. Bahkan, penghasilannya sudah nol persen lantaran tak menerima pesanan dari pusat oleh-oleh seperti pasar oleh-oleh atau pasar seni.
“(Redupnya) Berbarengan juga dengan tutupnya sejumlah pasar oleh-oleh di Bali dan semua insan pariwisata. Begitu pariwisata tutup, kami tutup tidak bisa bergerak lagi. Nol persen pendapatannya, tidak ada pemasukan sama sekali,” ujar Suparta saat diwawancara di gudangnya yang beralamat di Jalan Tukad Pancoran, Denpasar, Minggu (29/8).
Usaha garmen milik Suparta khusus memproduksi kaos dengan sablon ikon Bali. Sebelum pandemi, pihaknya mendistribusi kaos-kaosnya ke pusat oleh-oleh seperti Khrisna Oleh-oleh, Agung Bali, Pasar Seni Sukawati, Pasar Seni Kuta, Bedugul, hingga Pasar Tanah Lot. Rata-rata dalam sehari Suparta bisa memproduksi kaos 1000 pcs. Untuk produksi, dirinya dibantu oleh dua orang anaknya dengan total karyawan mencapai 35 orang.
“Saya mengajak 35 karyawan tetap, tapi sekarang dirumahkan. Kami sempat membantu mereka sampai pertengahan Juli 2020. Kami sempat bantu, kami kasi sembako, gaji juga diberikan selama tiga bulan, tapi setelah itu karena tidak ada pemasukan, kami habis, tidak ada cadangan, tidak ada perputaran,” ungkap pria asli Panjer ini.
Padahal, sebelum pandemi, pihaknya mampu meraup omzet Rp 30 juta sampai Rp 50 juta per produksi. Dengan omzet bulanan yang mencapai Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. “Kami produksi tergantung permintaan. Tapi karena sekarang kondisi begini, garmen mesti ditutup. Stok kain di gudang sementara tidak bisa dipakai karena kami sekarang menunggu sampai pariwisata dibuka kembali,” katanya. “Sebelumnya saya sudah coba untuk tetap berproduksi, saya juga sempat obral baju dan pendapatan sampai Rp 10 juta sampai Rp 15 juta. Setelah itu masuk 2021 awal, saya coba obral lagi, sudah tidak laku lagi. Ini karena kebutuhan masyarakat sudah bukan lagi di kebutuhan sandang, melainkan pangan. Sekarang sisa kaosnya masih kami jual, hanya saja tidak terlalu jalan,” imbuhnya.
Untuk dapat menafkahi keluarga, Suparta pun terpaksa banting stir ke sektor kuliner. Ia bersama anak-anaknya membuka warung makan. “Kemungkinan kita akan hidup dengan pandemi. Tetapi dengan menjalankan prokes dan kesediaan alat kesehatan, serta kita semua segera tervaksin, herd immunity tercapai, harapannya pariwisata dibuka, dan perekonomian kembali bergeliat,” tandasnya.(ika)
Editor : Nyoman Suarna