DENPASAR, BALI EXPRESS – Penjualan tanaman hias simbar atau jenis Platycerium kini tengah naik daun selama pandemi Covid-19. Pasalnya, menurut salah satu penghobi sekaligus pembudidaya simbar, Agus Triyana (37), penjualan simbar meningkat sampai 30 persen dibandingkan hari normal.
Meningkatnya penjualan simbar ini, lantaran masyarakat cenderung berdiam diri di rumah. Dan mencari suatu hal yang bisa dikerjakan di rumah. “Jadi salah satu cara untuk menghilangkan kebosanan dengan merawat tanaman, makanya penjualan simbar ini ikut naik,” ujar Agus saat didatangi di kediamannya Jalan Siulan, Desa Penatih, Denpasar, Rabu (1/8) sore.
Berawal dari coba-coba dan kecintaannya akan tanaman, Agus menceritakan, hobi ini sudah ia mulai sekitar tiga tahun lalu. Untuk membudidayakan tanaman tropisnya, ia memanfaatkan halaman rumahnya yang seluas 1 are. Kemudian sejak dua tahun lalu, ia pun mulai serius menggarap simbar setelah tahu dirinya bisa menambah pundi-pundi uangnya melalui budidaya simbar. Dari berjualan secara konvensional yakni pembeli datang ke rumahnya, kini dirinya memanfaatkan media sosial untuk berjualan. Pembelinya pun tak hanya dari Bali, beberapa waktu lalu bahkan simbarnya terjual hingga ke Makassar.
Baginya merawat dan membudidayakan tanaman hutan ini tak begitu sulit dan tak memerlukan lahan yang luas. Cukup digantung atau ditempelkan pada media tanam termasuk batang pohon yang teduh dan disiram seperlunya. Untuk satu indukan simbar ini, bisa dipanen sebanyak 5 hingga 10 anakan.
Menurutnya, merawat dan membudidayakan tanaman hutan ini tak begitu sulit dan tak memerlukan lahan yang luas. Cukup digantung atau ditempelkan pada media tanam termasuk batang pohon yang teduh dan disiram seperlunya. Untuk satu indukan simbar ini, bisa dipanen sebanyak 5 hingga 10 anakan.
Satu simbarnya, ungkap dia, dijual dengan harga bervariasi. Untuk bibit yang berusia tiga bulan dijual Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu sesuai dengan jenisnya. Sementara untuk yang sudah berukuran cukup besar dirinya menjual seharga Rp 250 ribu hingga jutaan rupiah. Bahkan untuk satu simbar jenis kultumi dari Australia dijual dengan harga Rp 7 juta. Dengan menjual simbar ini, dalam sebulan dirinya bisa meraup omzet hingga Rp 8 juta.
“Ini baru dari simbar saja, dan belum dari jenis tanaman lain serta reptil yang saya budidayakan. Sampai saat ini saya sudah membudidayakan sebanyak 10 spesies simbar dari berbagai daerah. Ada simbar tanduk rusa, simbar asal Papua, Kalimantan, Australia, sampai Afrika. Ada juga beberapa jenis hasil persilangan antar spesies” katanya.
Sementara yang paling diburu yakni simbar asal Papua dan Kalimantan karena memiliki tekstur rimbun. “Untuk jenis Elephantotis dari Afrika bahkan belum banyak ada di pasaran, kalau jenis lainnya rata-rata sudah ada yang menjual di stan-stan tanaman,” ungkapnya.(ika)
Editor : Nyoman Suarna