DENPASAR, BALI EXPRESS - Yang muda yang berkarya, petikan itu mungkin pantas disematkan untuk Sabastian Garry Yusuf. Pasalnya, pemuda asli Kalimantan ini bisa menghasilkan pundi-pundi kekayaan di usianya yang terbilang muda. Namun, karya yang dihasilkan bukanlah berupa lukisan, tulisan, atau sejenisnya, melainkan olahan masakan.
Berawal dari lelah ‘ditodong’ martabak oleh adiknya, Garry berinisiatif untuk membuat martabaknya sendiri. Resep untuk olahan martabaknya, ia pelajari dari youtube yang ia racik sedemikian rupa dibantu oleh kedua orang tuanya yang kemudian ia jual. Tak dinyana, dari usaha rumahan itu, Garry yang masih berusia 18 tahun, mampu membuka lima cabang yang diberinya nama Martabak dan Terang Bulan (terbul) Sultan.
Ditemui di salah satu outletnya, Jalan Tukad Badung, Renon, Garry mengaku modal awalnya hanya Rp 500 ribu untuk membeli wajan. Modal itu ia peroleh dari menjual barang-barang tak terpakai dari showroom milik ayahnya, bahkan hingga menjual playstation milik adiknya. “Saya bahkan diam-diam jual playstation adik saya. Tapi modalnya memang tidak terlalu banyak, karena saya sudah punya kompor, pisau, dan lain-lain dari peralatan masak ibu saya,” kata dia, Kamis (9/9).
Lantaran berawal dari usaha rumahan, Garry mengiklankan usahanya melalui media sosial. Dari sana, ternyata martabak dan terbul buatannya mulai disukai dan menjadi booming hingga bisa membuka lima cabang. Diantaranya berlokasi di Jalan Mudutaki Dalung, Jalan Imam Bonjol, Jalan Bedugul Sidakarya, Jalan Gatot Subroto Tengah, dan Jalan Tukad Badung Renon.
Kendati saat itu ia masih duduk di tingkat akhir SMA, ia tak ragu membuka usaha martabaknya. Alih-alih ragu, Garry yang kini menetap di Bali ini justru lebih banyak minder. Lucunya, ia mengakui, kepada karyawannya ia mengatakan berusia 23 tahun. “Saya kadang minder saja, karena kadang orang itu tidak percaya kalau saya sudah buka usaha di umur segini,” ungkapnya.
Usaha yang dimulainya dari awal pandemi ini, per harinya bisa laku rata-rata minimal 100 kotak di seluruh outlet. Dirinya bahkan bisa mengantongi Rp 50 juta sampai Rp 100 juta untuk omzet kotornya. Hingga saat ini, ia sudah mempekerjakan total 13 karyawan. “Untuk kisaran harga dari Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu paling mahal. Best seller kami ada terbul red velvet dan martabak mozzarella. Jadi menu kami kekinian untuk anak-anak milenial. Ini bisa dipesan di ojek online,” katanya.
Martabak dan Terbul Sultan ini buka setiap hari mulai pukul 15.00 Wita sampai 23.00 Wita. Rencananya, ungkap dia, ia akan membuka cabang keenamnya bertempat di wilayah Batu Bulan, Gianyar.
Tentunya, segala capaiannya tidaklah ia peroleh hanya dari ongkang-ongkang kaki. Ada saja kendala yang mesti ia lalui seperti dikomplain customer, kesulitan menata keuangan, dan kesalahan lain di dapur.
Ia menuturkan, dulunya saat membuka usaha ini, kegiatan sekolahnya sempat terganggu tapi bisa segera ia atasi. “Sekarang sudah tidak sekolah (sudah lulus). Iya sih dulu terganggu sekolahnya, tapi saya dari dulu lebih suka berbisnis. Sejauh ini orang tua selalu mensupport. Terutama ibu saya, kalau tidak ada beliau martabak saya tidak jadi. Karena beliau kunci utama resep saya,” terangnya diselipi tawa.(ika)
Editor : Nyoman Suarna