Salah satu pedagang kuwud ental di Jalan Angsoka, Gede Yoga Adinanta bersama kakak sepupunya, Kadek Guna, berjualan kuwud ental dengan menggunakan mobil pickup. Jika konsumen datang membeli, biasanya dirinya langsung mengupas buah ental tersebut di tempat.
Yoga mengaku, ia baru berjualan beberapa minggu di Denpasar. Dalam satu pickup, ia membawa sebanyak 400 biji buah ental yang belum dikupas. Yang mana, satu biji buah ental tersebut berisi satu hingga tiga biji kuwud. Untuk satu plastik kuwud yang sudah dikupas dan berisi empat biji dijual dengan harga Rp 145 ribu.
“Karena memang lagi musimnya, makanya saya bawa ke Denpasar. Kami berharap pembeli di Denpasar lebih ramai,” ujar Yoga, Minggu (3/7).
Kuwud ental ini, kata dia, dibawa langsung dari desa asalnya yakni Tianyar, Kubu Karangasem. Dalam seharinya, Yoga menyebutkan, mampu menjual 20 hingga 30 biji buah ental. Untuk 400 biji buah ental ini biasanya habis dijualnya selama 5 hari.
Dari segi rasa, ia menuturkan, selintas mirip kelapa muda dan sedikit manis, namun teksturnya lebih lembek dan kenyal seperti jelly. Selain itu daging buah ental ini juga lebih tebal dan berbentuk gepeng. Musim panen buah ental ini yakni setiap setahun sekali, atau pada bulan Juni hingga Juli.
“Harus benar-benar tepat waktu panennya. Kalau kurang hanya berisi air saja, kalau lewat akan keras. Mirip seperti kelapa,” katanya.
Menurutnya, biasanya ental yang berbuah ini adalah ental yang niranya tidak disadap. Jika niranya disadap, maka ental ini tak mau berbuah. “Memang kebanyakan di desa kami yang memilih menyadap nira. Karena penjualannya lebih mudah,” ungkapnya.
Selain menjual kuwud ental, mereka juga menjual tuak manis atau nira dari ental. “Untuk satu botol tuak manis ukuran sedang, harganya Rp 10 ribu,” katanya.