Kendati banyak yang membudidayakan, namun umbi yang dihasilkan selalu menjadi barang ekspor. Jarang ada yang mengolah hingga dapat dikonsumsi. Namun di Buleleng ada sebuah kelompok petani porang yang diketuai Gede Budi Laksana yang mengolahnya jadi makanan.
Kelompok tani ini dalam sekali panen memiliki ribuan umbi porang. Maka muncullah inisiatif untuk mengolah umbi tersebut. Karena kandungan karbohidrat dan serat dalam umbinya tergolong tinggi, pihaknya mencoba membuat olahan makanan dari porang.
Bekerjasama dengan sebuah pabrik di Tabanan, kelompok tani ini membuat mie basah. Tekstur yang dimiliki mie porang ini kenyal menyerupai nata de coco.
Disinggung soal rasa, tentu mie porang memiliki rasa yang hambar. Hampir mirip dengan mie bihun. Apabila ingin menikmati mie ini dapat diolah dengan bumbu sederhana saja. Akan tetapi mie ini tidak cocok bila dicampur dengan bumbu Bali yang cenderung pekat.
"Sebaiknya jangan pakai base genap. Pakai bawang putih dan bawang merah saja. Kalau suka pedas tambahkan cabai atau bubuk cabai. Tambahkan saus tiram. Enak sudah," terang Luh Putu Dewi Puspita Sari, istri dari Gede Budi Laksana.
Selain mengandung karbohidrat dan serat yang tinggi, mie porang juga rendah gula. Umbi porang juga memiliki kandungan protein yang tinggi, kalsium, fosfor, zat besi hingg zinc.
Kandungan glukoman dalam tanaman porang membantu dalam mengurangi kadar kolestrol di darah. Selain itu, porang juga bisa digunakan sebagai alternatif diet. Baik dikonsumsi untuk menurunkan berat badan maupun orang yang mengidap diabetes.
, Editor : I Komang Gede Doktrinaya